Sudah Ada sejak 1960-an, Hanya Muncul saat Ramadan

Melihat Pembuatan ‘Lampion Jawa’ Teng-tengan di Kampung Purwosari Perbalan

434
MENJAGA TRADISI: Warga Purwosari Perbalan, Semarang Utara saat membuat teng-tengan. (AJIE MAHENDRA/JAWA POS RADAR SEMARANG)
MENJAGA TRADISI: Warga Purwosari Perbalan, Semarang Utara saat membuat teng-tengan. (AJIE MAHENDRA/JAWA POS RADAR SEMARANG)
AJIE MAHENDRA/JAWA POS RADAR SEMARANG
AJIE MAHENDRA/JAWA POS RADAR SEMARANG

RADARSEMARANG.COM – Saat ini, agaknya jarang ada anak muda yang tahu teng-tengan. Padahal zaman dulu, lampion ‘Jawa’ ini sangat terkenal. Terutama saat bulan Ramadan seperti sekarang. Teng-tengan bahkan sempat menjadi satu-satunya penerangan ketika sejumlah daerah di Semarang belum teraliri listrik.

AJIE MAHENDRA

TENG-tengan seperti lampion. Hanya saja, bentuknya prisma segi delapan. Selain sebagai penerangan, teng-tengan atau yang sering disebut damar kurung ini juga bisa sebagai hiasan. Sebab, di dalam lampion, ada kertas yang dibentuk sedemikian rupa hingga menjadi bayang-bayang menarik.

Saat ini, teng-tengan sudah sulit didapatkan. Hanya ada segelintir orang saja yang mau membuatnya. Salah satunya Junarso, warga Purwosari Perbalan RT 7 RW 5, Kelurahan Purwosari, Kecamatan Semarang Utara. Ketika Jawa Pos Radar Semarang bertandang ke rumahnya, Junarso sedang membuat teng-tengan dengan alat apa adanya.

Di pelataran rumahnya, banyak bilah-bilah bambu. Bilah-bilah bambu itu dibentuk sebagai kerangka menggunakan tali. Kerangka ini merupakan dasar yang menentukan seperti apa bentuk teng-tengan. Junarso memilih membuat teng-tengan berbentuk prisma bersegi delapan.

Setelah kerangka selesai, Junarso memasnag kertas minyak berwarna putih. Tentu potongannya disesuaikan dengan dimensi kerangka teng-tengan yang tadi dibuatnya.

Pada bagian tengah rangka diletakkan sebuah bambu yang dibentuk melengkung. Bambu tersebut ternyata berfungsi sebagai sumbu dan tempat kertas yang telah dibuat pola gambar. Kemudian di bagian bawah sumbu diberi lilin sebagai bahan bakar.

Setelah jadi, lilin yang ada di tengah tersebut kemudian disulut. Jika lilin yang ada di dasar disulut api, kipas itu akan bergerak didorong oleh asap yang keluar. Kalau kipas berputar, gambar-gambar kertas yang ada di bawahnya juga turut berputar. Nantinya keluar bayangan naga, petani, gerobak, penari, burung, dan becak.

“Ini lampionnya warga Purwosari. Namanya teng-tengan. Ini saya buatnya hanya selama Ramadan saja. Biasanya, digunakan untuk penerangan saat membangunkan orang sahur, takbiran dan ditaruh sebagai hiasan rumah,” jelasnya.

Membuat teng-tengan, lanjut dia, tidak hanya menjadi pekerjaan serabutan selain sebagai tukang becak dan kuli bangunan. Tapi, kerajinan tersebut telah menjadi berkah selama Ramadan karena dapat menambah penghasilan.

“Ini berkah Ramadan. Sehari paling tidak rata-rata saya bisa menjual sepuluh buah. Memang tidak seramai tahun-tahun sebelumnya, tapi lumayan bisa menambah penghasilan,” katanya.

Meski cara membuatnya cukup rumit, dia bisa membuat setidaknya 20 teng-tengan dalam sehari. Satu teng-tengan dijual antara Rp 15 ribu-Rp 20 ribu sesuai ukuran. Teng-tengan ini dipasarkan tidak hanya di Kota Semarang saja. Penduduk di luar kota, seperti Surabaya, Jogjakarta, Bandung, dan daerah lain di Pulau Jawa kerap memesan teng-tengan buatan Junarso.

Salah satu warga Purwosari Perbalan, Alvian Saeku mengaku, teng-tengan sudah ada sejak 1960-an. Menurutnya, saat itu Kampung Purwosari Perbalan masih berupa rawa dan belum teraliri listrik. Kemudian seorang yang dikenal dengan nama Mbah Saman mulai membuat teng-tengan yang digunakan sebagai lampu penerangan tradisional.

“Dulu kampung ini sangat minim penerangan dan listrik belum ada, sedangkan jalan menuju musala itu gelap. Akhirnya, teng-tengan itu digunakan sebagai penerangan,” kisahnya. (*/aro)