Pentingnya Menanamkan Karakter Positif Sejak Dini

215
Oleh: Siti Muharnik, M. Pdl
Oleh: Siti Muharnik, M. Pdl

RADARSEMARANG.COM – PERILAKU negatif remaja, kerap dipertontonkan. Tawuran, pergaulan bebas, cuek, egois, suka berbohong, merokok—bahkan memakai narkoba—dan sebagainya, merupakan sedikit bukti yang kerap kita temui. Benarkah sebagian remaja kita sedang mengalami krisis moral? Jika itu benar, maka remaja kita telah meluntur karakternya. Ini ironis, karena negeri ini dikenal sebagai negara yang berkarakter baik. Karakter gotong-royong, peduli sesama, ramah, dan sebagainya, sudah melekat pada jatidiri orang Indonesia.

Lunturnya karakter yang baik, karena penanaman karakter yang kurang kuat, sehingga mudah ditumbangkan. Ironisnya, justru remaja kita mudah terpengaruh oleh karakter yang kurang baik. Untuk itu, perlu usaha untuk membangun karakter dan menjaganya agar tidak terpengaruh oleh hal-hal yang menyesatkan dan menjerumuskan.

Umumnya, sebuah karakter akan terbentuk sebagai buah dari pemahaman yang ia dapatkan dari 3 hubungan (triangle relationship) yang dialami oleh manusia. Yakni, hubungan dengan diri sendiri, lingkungan, dan hubungan manusia dengan Tuhannya. Setiap hasil hubungan, akan memberikan pemahaman. Juga pemaknaan yang pada akhirnya akan menjadi sebuah keyakinan pada diri anak. Cara anak memahami bentuk hubungan inilah yang akan menentukan cara mereka memperlakukan dunianya; positif atau negatif.

Karakter dibentuk bukan hanya dari keluarga, lingkungan rumah, maupun teman di sekitar. Lingkungan sekolah juga sangat berperan penting dalam proses pembentukan karakter. Lingkungan rumah dan keluarga, merupakan salah satu alternatif utama yang secara langsung menjadi media pembentukan karakter.

Orang tua sebagai penanam pertama karakter anak. Keluarga merupakan sekolah untuk kasih sayang, tempat belajar penuh cinta. Tempat utama yang mengajarkan sopan santun, juga sikap baik. Jangan sampai orang tua menanamkan keluarga sebagai bumerang atau tempat untuk bertengkar dengan pasangannya. Hal itu akan berakibat buruk pada karakter anak yang akan menganggap berkeluarga adalah hal yang menyengsarakan kelak, jika si anak tumbuh dewasa.

Setelah keluarga, baru kerabat, lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat. Pembentukan karakter melalui sekolah juga harus diperhatikan di sekolah pendidikan, tidak hanya semata-mata tentang mata pelajaran yang hanya mementingkan kemampuan kognitif. Tetapi juga penanaman moral, nilai-nilai estetika, budi pekerti luhur, dan sebagainya.

Dalam konteks sistem pendidikan di sekolah untuk mengembangkan pendidikan karakter peserta didik, guru harus diposisikan atau memposisikan diri pada hakikat yang sebenarnya. Yaitu , sebagai pengajar dan pendidik. Artinya selain mentransfer ilmu pengetahuan, juga mendidik dan mengembangkan kepribadian peserta didik melalui intraksi yang dilakukannya di kelas dan luar kelas.

Guru hendaknya diberikan hak penuh (hak mutlak) dalam melakukan penilaian (evaluasi) proses pembelajaran. Karena dalam masalah kepribadian atau karakter peserta didik, guru merupakan pihak yang paling tahu kondisi dan perkembangan anak didik.

Guru juga hendaknya mengembangkan sistem evaluasi yang lebih menitikberatkan pada aspek afektif. Yakni, dengan menggunakan alat dan bentuk penilaian esai dan wawancara langsung dengan peserta didik. Alat dan bentuk penilaian seperti itu, lebih dapat mengukur karakteristik setiap peserta didik. Serta mampu mengukur sikap kejujuran, kemandirian, kemampuan berkomunikasi, struktur logika, dan lain sebagainya yang merupakan bagian dari proses pembentukan karakter positif. Ini akan terlaksana dengan lebih baik lagi, jika didukung oleh pemerintah selaku penentu kebijakan. (*/isk)

 Guru SMP 5 Blora