JAMBORE HALAL : Ketua MUI Jateng, KH Darodji meninjau stand saat pembukaan Jambore Halal 2018 di Halaman Kantor Gubernur Jateng, Selasa (5/6) kemarin. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
JAMBORE HALAL : Ketua MUI Jateng, KH Darodji meninjau stand saat pembukaan Jambore Halal 2018 di Halaman Kantor Gubernur Jateng, Selasa (5/6) kemarin. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG-Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jateng mendorong pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM) bersertifikat halal. Hal itu selaras dengan penduduk Jateng yang mayoritas muslim.

Kepala Dinas Koperasi dan UKM Jateng, Ema Rahmawati mengakui masih banyak pelaku UKM yang belum memiliki sertifikat halal. “Di Jateng telah difasilitasi Dinas Koperasi dan UKM Jateng, baru 494 UKM yang bersertifikasi halal. Kalau yang buka stand kali ini, ada 135 UKM,” katanya usai membuka Jambore Halal 2018 di Halaman Kantor Gubernur Jateng, Selasa (5/6) kemarin.

Ema menambahkan bahwa UU Nomor 33 tahun 2014 telah mengatur produk yang masuk, beredar, dan diperdagangkan di wilayah Indonesia wajib bersertifikat halal. Hal itu diterapkan pula di Jateng. “Kami berharap, tahun 2019 seluruh UKM di Jateng 100 persen bersertifikat halal,” tambahnya.

Diakui Ema, kendala para pelaku UKM untuk mendapatkan sertifikat halal MUI, salah satunya biaya pengurusan yang cukup tinggi. “Sensus UKM di Jateng tercatat ada 5,1 juta UKM. Tidak semua UKM memiliki kemampuan, 1 produk biayanya Rp 2,5 juta. Jadi pemerintah harus hadir disana, karena aturan itu dari pemerintah. Makanya, kami harus memfasilitasi,” katanya.

Ketua MUI Jateng, KH Darodji mendorong peningkatan pengenalan produk halal. Sebab mayoritas masyarakat Indonesia adalah muslim. “Saat ini, di Jateng sudah ada 5000 produk bersertifikasi halal. Kami menginginkan Jambore Halal seperti ini menjadi agenda tahunan dan tidak disini saja tetapi bisa keluar negeri. Jadi bisa ekspor nantinya,” katanya. (hid/ida)