Lestarikan Kuliner Warisan Leluhur

Monggo Moro Resto

824
PENGHARGAAN: Direktur Jawa Pos Radar Semarang, Baehaqi menyerahkan plakat penghargaan Radar Semarang Culinary Award kepada pemilik RM Monggo Moro. (LUTFI HANAFI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
PENGHARGAAN: Direktur Jawa Pos Radar Semarang, Baehaqi menyerahkan plakat penghargaan Radar Semarang Culinary Award kepada pemilik RM Monggo Moro. (LUTFI HANAFI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM – PENCINTA kuliner tradisional, khususnya yang melintasi jalan Pantura wajib datang dan menikmati sajian di Monggo Moro Resto, yang terletak di Jalan Raya Kutosari Gringsing, Kabupaten Batang, Jawa Tengah.

Selain menyajikan sajian kuliner khas leluhur, tempat ini juga nyaman untuk beristirahat. Suasana adem langsung terasa saat masuk belasan gazebo yang bisa untuk bersantai dengan keluarga. Deretan furniture dari kayu menambah suasana serasa adem dan bikin betah.

Di balik resto yang didirikan sejak 2010 ini, ada dua sosok suami-istri yang berperan, yaitu Hari Kurniawan dan Sulistyawati. Sejak awal mereka berniat berbisnis kuliner karena ingin menjunjung tinggi makanan tradisional, berupa resep-resep peninggalan leluhur.

“Ide awal mendirikan tempat ini, menang kami ingin nguri-nguri resep kuliner leluhur, terutama masakan Jawa,” ucapnya Hari saat menerima tim Culinary Award dari Jawa Pos Radar Semarang.

Berawal dari susahnya mencari menu kuliner seperti yang mereka rasakan saat masih kecil, akhirnya mereka bertekat membuat sendiri dan coba dijual. Terutama masakan yang mulai terlupakan. “Istri saya asli orang Gringsing. Dulu seperti sayur genjer sering dimasak, namun kini sudah jarang, untuk itu kami ingin angkat kembali,” ucapnya.

Banyak menu makan yang kini sudah jarang dimasak orang, sehingga saat keluarganya pulang kampung, jarang bisa ditemui. Untuk itu, mereka mencoba aneka masakan tersebut di tempatnya. Dan ternyata sangat cocok dengan lidah para pelanggannya.

“Menu kami kebanyakan tradisional, selain sayur genjer, juga ada ayam goreng, ayam bakar madu, mendoan, pepes ikan peda, sop iga, sop ceker, sayur asem dan menu tradisional lain,” jelasnya.

Semua resep yang disajikan merupakan resep inovasi sendiri, berdasarkan rasa asli waktu mereka makan saat masih kecil. Dari awal cuma menu ayam dan terus berinovasi, hingga kini ada 40 menu yang siap dipesan. “Kami tidak tergantung dengan koki, semua menu kami yang kontrol, taste semua terkontrol. Rasa semua sama dan identik karena semua dari kami,” ucapnya.

Pengunjung yang datang, menurut Hari, didominasi orang yang kebetulan melintas atau sedang bepergian dari luar kota. “Dalam waktu dekat kami berencana melakukan perluasan, dari penambahan tempat, penyempurnaan fasilitas dan musala. Inovasi ke depan, saya ingin kasih embun di seluruh area agar semakin adem. Karena tempat kami berada di jalur pantura yang memang panas,” ucapnya.

Selain itu, di bulan Ramadan ini, RM Monggo Moro juga akan hadir di rest area tol Ungaran km 22. Bagi masyarakat pencinta kuliner Semarang dan sekitarnya bisa datang berkunjung ke lokasi tersebut. Konsep yang dihadirkan tetap perpaduan modern dan tradisional, tempat yang nyaman untuk menikmati lezatnya hidangan selera tradisional. “Kami juga siap melayani paket buka bersama, arisan, wedding dan ulang tahun,” tandasnya. (han/bas)