Pertanyaan :

Assalamualaikum Wr Wb Bapak Kiai Ahmad Izzuddin yang saya hormati dan dimuliakan oleh Allah. Ada seorang muslim yang tidak menunaikan ibadah puasa karena alasan yang kuat, misalnya sakit, hamil, atau karena usia yang udzur. Lalu dia diwajibkan membayar fidyah. Apa dasar hukumnya fidyah? Berapa jumlah fidyah yang harus dibayarkan, misalnya dalam bentuk beras atau uang dalam konteks sekarang ini? Apakah setelah membayar fidyah kewajiban puasanya menjadi hilang atau tetap diwajibkan mengganti puasa di waktu yang lain, misalnya untuk ibu yang tadi hamil. Mohon penjelasannya. Terimakasih.

Intan 085868885xxx Semarang

Waalaikumsalam Warahmatullah, Ibu Intan yang saya hormati. Dalam QS Al- Baqarah [2]: 184, antara lain dinyatakan: “Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): Memberi makan seorang miskin.” Inilah dasar hukum yang membolehkan membayar fidyah bagi seseorang yang merasa sangat berat untuk berpuasa. Ini berlaku misalnya bagi orang yang sudah tua.

Sahabat Nabi, Ibnu Abbas, memasukkan wanita yang hamil dan atau menyusui dalam kandungan makna di atas, sebagaimana diriwayatkan oleh pakar hadits Al-Bazzar. Sedang dalam pandangan madzhab Hambali, wanita yang hamil atau menyusui, maka mereka tidak membayar fidyah, tetapi harus mengganti puasanya pada hari yang lain. Dalam madzhab Ahmad dan Syafi’i kalau keduanya tidak berpuasa karena hanya khawatir keadaan janin/bayi yang disusukannya saja, bukan terhadap diri mereka, maka mereka harus membayar fidyah dan dalam saat yang sama mengganti puasanya. Sedang bila khawatir atas diri mereka saja, atau diri mereka bersama dengan bayi atau janin, maka ketika itu, mereka hanya berkewajiban mengganti puasa, dan tidak membayar fidyah. Ini karena seseorang yang khawatir, walau atas dirinya saja, maka ia telah dibenarkan untuk tidak berpuasa serupa dengan orang yang sakit. Ini berdasar firman Allah dalam QS Al-Baqarah [2]: 184; “Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka),maka (wajib baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.”

Fidyah yang dibayarkan itu adalah memberi makan seorang miskin, seperti makanan sehari-hari yang bersangkutan, atau senilai dengan harga makanan itu. Nilainya tentu berbeda antara seseorang dengan yang lain. Bukanlah nilai makanan kita berbeda-beda? Sekian jawaban saya, semoga ada manfaatnya dan barokah. Amin. (*)