Bijak Bermedia Sosial

226
Oleh: Fatimatuzahrotul Aini
Oleh: Fatimatuzahrotul Aini

RADARSEMARANG.COM – PERKEMBANGAN media sosial dewasa ini, melambung pesat mewarnai hampir totalitas kehidupan manusia. Tiada waktu kosong kecuali bercengkrama dengan smartphone, yang semakin hari semakin canggih teknologinya dalam berbagai macam bentuk dan versinya. Menurut We Are Social, saat ini sekitar 60 persen penduduk Indonesia (132 juta) mengakses internet menggunakan smartphone. Fakta mencengangkan ini menunjukkan betapa bermedia sosial memiliki sisi positif yang luar biasa, seperti menjalin komunikasi, selaturrahmi, pertemanan, hiburan, bisnis, bahkan urusan kemasyarakat dan politik.

Sisi lain bermedsos, selain menghabiskan waktu berjalan tidak produktif, terutama bagi yang sekedar hura-hura dan entertain, juga semaraknya berita-berita negatif, fitnah dan bohong (hoax). Alquran sesungguhnya telah menjelaskan etika menyampaikan berita dan informasi yang benar. Surat al-Hujurat ayat 6 berbunyi “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”  Ayat tersebut mengajarkan tabayyun atau klarifikasi dalam mencari kejelasan tentang sesuatu sehingga benar dan jelas keadaan sesungguhnya, dengan cara mencari sumber terpercaya.

Maka literasi media dalam konteks ini dangatlah urgen, tidak hanya sekedar menikmati fasilitas media sosial yang sudah tersedia dan menerima secara mentah-mentah, akan tetapi harus berpikir untuk apa media sosial ini digunakan. Mengingat bahwa Islam tidak melarang penggunaan media sosial, namun harus menjaga diri agar tidak terjerumus kepada kelalaian dalam ibadah, berhati-hati dan dapat memanfaatkan waktu dengan baik. Bijak dalam penggunaan media sosial sangatlah penting, dalam pandangan Islam yaitu mengetahui batasan-batasan penggunaannya, dengan etika yang baik, didasarkan nilai kejujuran, local wisdom dan kesantunan dalam bermedia sosial.

Media sosial harus diposisikan sebagai alat berkomunikasi, menjalin dan menyambung silaturahmi dari yang dekat semakin dekat dan yang jauh akan terasa dekat pula seperti berhubungan dengan orangtua, keluarga, saudara, dan teman. Dalam hadits Rasulullah SAW dijelaskan bahwa “Barang siapa yang suka dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah dia menyambung silaturahim.” (HR. Bukhari-Muslim). Dari hadits tersebut dapat diambil intisari bahwa silaturahmi memang sangatlah penting bahkan bisa mempermudah rezeki dan memperpanjang umur.

Media sosial juga dapat dijadikan sebagai alat untuk menghasilkan sebuah karya seperti konten-konten yang berisi keilmuan, dakwah dan sebagainya yang sekarang marak dipublikasikan baik itu berupa audio dan visual. Medsos juga digunakan sarana penghibur bagi penggunanya yang merasa bosan, sharing informasi, berita dan pengetahuan yang bermanfaat.

Belajar menggunakan media sosial dengan bijak dan literasi media memang harus ditekankan, agar tidak terjadi lupa waktu, lalai dalam beribadah bahkan sampai merasa seperti hidup milik sendiri. Rasulullah SAW bersabda “Kedua kaki seorang hamba tidaklah beranjak pada hari kiamat hingga ia ditanya mengenai: (1) umurnya dimanakah ia habiskan, (2) ilmunya dimanakah ia amalkan, (3) hartanya bagaimana ia peroleh, (4) di mana ia infakkan dan (5) mengenai tubuhnya dimanakah usangnya.” (HR. Tirmidzi no. 2417).

Betapa baiknya jika media sosial digunakan dengan bijak dan sesuai dengan kegunaannya, maka bertepatan dengan bulan Ramadan ini teruslah melakukan kegiatan amal baik, bermanfaat dan bijak menggunakan media sosial dengan cara menyebarkan konten-konten dakwah, mengajak kebaikan, mencegah kemungkaran, tidak menyebarkan berita-berita hoax yang belum tentu benar kebenarannya dan dapat bertabayyun terlebih dahulu. (*)

Santri Pondok Pesantren Darul Falah Besongo Semarang