Wayang Minimalis, Setiap Tampil Cukup 6 Orang

Lebih Dekat dengan Mafduh, Dalang Wayang Degleng

305
MINIMALIS: Mafduh saat tampil memainkan wayang degleng. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
MINIMALIS: Mafduh saat tampil memainkan wayang degleng. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Mafduh melestarikan seni pedalangan dengan inovatif. Ia mengenalkan konsep wayang degleng untuk menyuarakan rakyat. Seperti apa?

JOKO SUSANTO

RADARSEMARANG.COM – WAYANG degleng, rasanya masih asing di telinga kita. Ya, ini adalah konsep pertunjukkan wayang kulit minimalis. Konsep wayang ini digagas oleh Mafduh, alumnus Jurusan Tasawuf Psikoterapi, Fakultas Ushuludin, UIN Walisongo, Semarang.

Pria kelahiran Rembang, 30 September 1987 ini, mengaku mulai suka wayang sejak 2010. Ia merupakan dalang tiban, karena belajar secara otodidak. Ia tergerak belajar mendalang setelah melihat realitas sosial masyarakat, baik vertikal dan horizontal yang dikaitkan sisi vertikal Ketuhanan.

Ia mengatakan, wayang degleng merupakan realitas sosial, yang seperti kebanyakan anak muda karena tidak dianggap kalau berbicara.

“Nama wayang degleng karena ndak pakem.  Kita buat alur sendiri. Setahu saya nama wayang degleng itu baru kami. Arti degleng itu bingung. Sepertinya guyonan tapi maton, atau bisa juga humor tapi yang tidak membuat kita sombong,”ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Pria asal Desa Pedak, Sulang, Kabupaten Rembang ini mengaku, hingga saat ini wayang degleng yang dikenalkannya sudah tampil lebih dari 20 kali. Sedangkan tampil dengan wayang lengkap sudah 40 kali, baik di Jogja, Solo, dan Semarang, yang kebanyakan di lingkungan perguruan tinggi.

Ada beberapa perbedaan dengan pentas wayang kulit pada umumnya. Di wayang degleng, sindennya lebih ke musik islami dan dinyanyikan oleh para pria. Ciri khas para pemainnya mengenakan kaos dan peci hitam. Meski demikian, bentuk wayangnya sama.

“Niat kawan-kawan sebenarnya hanya ingin meminimalis alat musik. Alat musik terbatas, karena dipadukan dengan komposisi alat musik modern,”kata Mafduh yang memiliki nama panggungnya dalang Ki Soponyono.

Dijelaskan, wayang degleng didirikan bersama teman-temannya mengaji. Harapannya, ini sebagai aktivitas positif agar sebagai individu bisa lebih tahu diri, dan sebagai manusia bisa memanusiakan manusia.

Diakui, kelahiran wayang degleng tidak seketika begitu saja. Namun melewati sejumlah pengalaman religius setelah tidur di Makam Sunan Kalijaga, di Kadilangu, Demak.

“Saat saya masih mahasiswa, memang sering bonek di jalan. Dulu bahkan jarang kuliah. Singkat cerita setelah tidur di makam Sunan Kalijaga, saya seperti mendapat wangsit (pesan), untuk bermain wayang. Akhirnya diwujudkan lewat wayang degleng,” kenang penulis buku Psikologi Puisi-Puisi Cinta Mustofa Bisri dan Tasawuf Cinta ini.

Peristiwa itu dialaminya pada 2010, bertepatan saat dirinya menjalani puasa dalail ul khairat (puasa 3 tahun). Karena saat itu, ia merasa sebagai anak muda takut terkena hawa nafsu. Menurutnya, manusia banyak memiliki unsur hewaniah, untuk itu perlu menjalani puasa tersebut.

“Saya melalang buana di jalan (bonek) dari 2008 hingga 2009. Kemudian pas menjalani puasa di makam Sunan Kalijaga, Kadilangu, seperti dapat wangsit main wayang sampai sekarang,”kisahnya.

Hingga saat ini, wayang degleng tetap eksis. Ia dan teman-temannya bisa berkumpul di Gondoriyo  RT 1  RW 6, Ngaliyan, Semarang. Ia juga bergabung dengan Paguyuban Gubug Mahabah,  Kedungpane.

Untuk setiap kali tampil memakan waktu sekitar 2 jam. Untuk naskah ceritanya mengalir begitu saja.”Naskah cerita tak pernah dikonsep. Pokoknya, mengalir saja saat pentas,” katanya.

Menurut suami dari Nurrohmah ini, lakon yang diangkat dalam wayang degleng karangan sendiri. Seperti Semar Mbangun Kanyangan versi yang diceritakannya sendiri.

Wayang degleng mulai berkembang pada 2013, setelah dirinya merekrut anak-anak muda untuk dilatih musik. “Biasanya kami latihan rutin setiap Jumat Kliwon, termasuk saat ada job tampil,”ujarnya.

Tim wayang degleng digawangi 6 personil. Rinciannya, untuk saron atau kempol 2 orang, simban (icik-icik) 1 orang, gitar bas dan ritem 2 orang, serta dirinya sebagai dalang.

Ayah dari Khodijah Mafduh dan Aisah Mafduh ini mengaku tidak pernah mematok tarif setiap tampil. Sebab, niatnya hanya ingin berproses, menghibur, serta tukar pengalaman untuk berbagi ilmu.

“Saya pernah nggak dapat honor alias 0 rupiah. Yang jelas honor kita kondisional, semua tergantung panitia anggarannya ada berapa, jadi dirembug santai,” ucapnya. (*/aro)