Puasa dan Komitmen Kebangsaan

225
Oleh: Ahmad Rofiq
Oleh: Ahmad Rofiq

RADARSEMARANG.COM – BANGSA Indonesia diproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945 M, bertepatan dengan 9 Ramadan 1334 H, tentu bukan kebetulan dan peristiwa biasa. Karena itu, pada alinea ketiga pembukaan UUD 1945 dinyatakan secara tegas, “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya”. Bulan Ramadan 1439 H ini di dalamnya terdapat tanggal 1 Juni 2018 yang ditetapkan oleh Presiden RI sebagai hari lahirnya Pancasila.

Di bulan suci ini, mari kita jadikan momentum untuk memperingati Pancasila sebagai falsafat dasar negara dan momentum memperbaharui komitmen kebangsaan kita pada negeri ini. Pembentukan dan pendirian NKRI dengan cucuran darah dan sabung nyawa para pejuang dan syuhada’ yang mendahului kita, kita jadikan motivasi dan spirit untuk membela sekuat tenaga, pikiran, dan kemampuan kita. Karena kekuatan dan kedaulatan rakyat adalah segala-galanya.

Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah harga mati. Inilah konsensus dan sikap komitmen yang terus digaungkan oleh para Ulama. Konon slogan “NKRI Harga Mati” ini pertama kali digaungkan oleh Mbah Lim (KH Moeslim Rifa’i Imampuro) pendiri Pesantren al-Muttaqien Pancasila Sakti Klaten. Belakangan slogan ini menjadi sering nyaring dikemukakan oleh masyarakat demi menjaga keutuhan NKRI, di tengah munculnya keinginan untuk merubah NKRI menjadi sistem lainnya.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam Ijtima’ Ulama ke-VI di Pondok Pesantren Al-Falah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, 21-24 Sya’ban 1439 H/7-10 Mei 2018 M yang lalu, setelah menimbang eksistensi NKRI sebagaimana dinyatakan dalam Pembukaan maupun Batang Tubuh UUDN RI 1945, pada hakekatnya adalah wujud perjanjian kebangsaan (al-mitsaq al-wathani) yang berisi kesepakatan bersama (al-mu’ahadan al-jama’iyah) bangsa Indonesia. Hal itu ditempuh melalui serangkaian perjuangan panjang yang dilakukan oleh para pejuang, terutama para ulama dan umat Islam dari generasi ke generasi.

Sila pertama Pancasila sebagai perjanjian luhur NKRI menjiwai sila-sila lainnya yang menegaskan regiliusitas dan ketauhidan. Perjanjian itu secara syar’i mengikat seluruh elemen bangsa yang wajib dipelihara dan dijaga dari setiap upaya mengubahnya. Hal itu merupakan manifestasi kecintaan kepada negara dam bangsa (hubb al-wathan) yang merupakan bagian dari keimanan.

Untuk bisa mewujudkan komitmen kebangsaan, diperlukan prinsip dasar persaudaraan (ukhuwwah). Semua pihak dan seluruh komponen bangsa ini harus senantiasa dengan penuh kesadaran menjaga hubungan persaudaraan yang rukun antar sesama Muslim (ukhuwwah Islamiyah), antar sesama anak bangsa (ukhuwwah wathaniyah), dan antar sesama manusia (ukhuwwah insaniyah).

Dalam bulan Ramadan, orang yang berpuasa dianjurkan untuk mewujudkan nilai-nilai persaudaraan itu dengan mengeluarkan zakat, infak, dan sadaqah, sebagai wujud persaudaraan seagama, sebangsa dan setanah air, dan sesama manusia. Karena sesungguhnya puasa yang secara ritual adalah menjauhi makan, minum, dan hubungan seksual serta hal lain yang membatalkan puasa, adalah mengajarkan disiplin, komitmen, dan tunduk pada tata aturan baik dari agama maupun negara. Apalagi sebentar lagi kita akan bersama-sama “berburu” keutamaan malam penentuan atau lailatul qadar, yang lebih baik dari seribu bulan atau 83 tahun, di mana usia kita belum tentu nyampai usia tersebut.

Selamat berpuasa, selamat memperingati hari lahir Pancasila, selamat bermanja-manja kepada Allah, semoga kita mampu meraih kesucian fitrah kita, sehingga hati, perasaan, dan pikiran kita dipenuhi oleh angan, asa, dan perilaku yang benar, baik, dan indah. Demi komitmen kebangsaan kita, bangsa Indonesia. NKRI Harga Mati. Semoga Allah SWT senantasa memberkahi kita seluruh Bangsa Indonesia.  Allah a’lam bi sh-shawab. (*)

Guru Besar dan Direktur Pascasarjana UIN Walisongo dan Wakil Ketua Umum MUI Jawa Tengah