Pemanfaatan Media WhatsApp Grouping dalam Pembelajaran Bahasa Inggris

303
Oleh: Rustriyani, M. Pd.
Oleh: Rustriyani, M. Pd.

RADARSEMARANG.COM – SIAPA tidak tahu WhatsApp atau WA? Media sosial ini sudah sangat popular dan familiar bagi anak-anak maupun orang tua. Juag semua kalangan: pedagang, petani, pejabat, juga pendidik.

WhatsApp merupakan aplikasi pesan instan untuk smartphone. Dilihat dari fungsinya, WhatsApp hampir sama dengan aplikasi SMS yang biasa digunakan di ponsel lama. Hanya saja, WhatsApp tidak menggunakan pulsa, melainkan data internet. Dengan aplikasi ini, kita tidak perlu khawatir soal panjang pendeknya karakter. Selama data internet mencukupi, tidak ada batasannya. Meski aplikasi pesan instan, toh WA memiliki keunikan dan kesederhanaan dengan sistem pengenalan kontak, verifikasi, dan pengiriman pesan tetap dilakukan melalui nomor telepon yang sudah didaftarkan terlebih dulu.

Karenanya, setiap orang, bisa dengan mudah memiliki akun WA. Dengan banyaknya pengguna WA—termasuk para siswa dan pendidik—maka metode, teknik pembelajaran, bisa bertambah. Sehingga berpengaruh positif pada capaian hasil belajar. Sepanjang pengalaman penulis, banyak sekali manfaat positif dari pemanfaatan WhatsApp Grouping (WAG). Lebih khusus di sini, kami batasi dalam pembelajaran bahasa Inggris.

Pembelajaran bahasa Inggris di kelas, masih sering terpusat pada guru. Siswa lebih sering diam jika ditanya. Entah karena takut salah, malu, canggung, grogi, dan sebagainya. Berbeda dalam grup WhatsApp, guru dan siswa bisa bertanya jawab atau berdiskusi dengan lebih rileks.

Guru dengan media ini, bisa berkreasi dalam memberikan ringkasan materi reading, grammar, tambahan latihan (drilling), untuk listening melalui audio yang dikirim, pengayaan speaking dengan video pendek, dan sebagainya. Pun, siswa dengan mudah bisa mengirim balik hasil pekerjaan, baik berupa komentar langsung di chat, gambar/foto, caption, rekaman dialog, video dengan membuat vlog dan sebagainya. Berkas (file) tugas dalam bentuk document untuk tugas writing, yang semuanya dalam bentuk soft file.

Dengan demikian, rasa canggung, pasif, dan sebagainya untuk berekspresi memberikan yang hasil terbaik atas tugasnya, bisa teratasi melalui media ini.

Terkait bentuk hasil tugasnya soft file, maka metode pembelajaran ini memiliki nilai lebih lagi. Yaitu, metode yang ramah lingkungan karena penggunaan kertas untuk mencetak atau menulis hasil pekerjaan siswa banyak berkurang. Siswa tidak perlu mencetak tugasnya dan membeli kertas. Guru pun tidak repot membawa tugas siswa yang banyak dalam bentuk hardfile.

Guru harus kreatif mengikuti perkembangan informasi dan teknologi. Suwarsih (2013) dalam bukunya Metodologi Pengajaran Bahasa tentang Kurikulum 2013 mengingatkan para guru bahasa Inggris, untuk kreatif mencari berbagai cara guna membantu siswa. Tujuannya, untuk menguatkan ingatan mereka terhadap kata sasaran dengan latihan-latihan terus secara periodik kata-kata baru dengan media yang menarik. Salah satu aplikasi yang digunakan penulis berdasar pengalaman adalah penggunaan aplikasi WAG dalam memperkaya pengalaman belajar bahasa Inggris yang bisa mengakomodasi ke empat keterampilan yang dipelajari tanpa batasan ruang waktu.

Kelas maya dengan aplikasi WAG tanpa batas ruang waktu ini, bisa menjadi salah satu solusi guru yang masih kekurangan waktu dalam penyampaian materi di dalam kelas (face to face). Hal ini terkait jam pelajaran bahasa Inggris—yang walaupun merupakan mapel wajib dan diujikan secara nasional— namun hanya dua jam pelajaran setiap minggu.

Dalam waktu 90 menit, guru dituntut bisa memberikan empat keterampilan secara terpadu. Yaitu: membaca, mendengarkan, menulis dan berbicara. Sungguh waktu yang sangat sempit dibandingkan dengan alokasi waktu dalam Kurikulum 2006 yang 4 jam pelajaran untuk tingkat SMA. Ada apa dengan K-13 dan Bahasa Inggris? Salah satu jawabannya, karena guru bahasa ini kreatif.

Dengan pembelajaran online di WAG, bukan berarti kita mengabaikan pembelajaran kelas nyata atau tatap muka. Kelas ini tetap penting dan dibutuhkan, sehingga guru mengenal siswanya secara langsung berinteraksi, bersosialisasi dan memberikan konfirmasi. Di kelas nyata (offline), guru-siswa mengevaluasi bersama hal-hal penting untuk kemajuan pembelajaran. Di kelas maya (online) guru dan siswa saling memperkaya materi belajar yang lebih detail, dengan waktu dan suasananya yang lebih rileks sambal belajar bermedsos yang bijak, santun nan cerdas. Semoga bermanfaat. (*/isk)

Guru SMA Negeri 1 Sapuran, Wonosobo