Belanja Kebutuhan Lebaran Picu Inflasi

Makin Sulit Turunkan Angka Kemiskinan

219

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Belanja kebutuhan Lebaran yang jor-joran dikhawatirkan bisa memicu kenaikan laju inflasi. Apalagi jika barang-barang yang dibeli merupakan produk impor. Karena itu, Pemprov  Jateng mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk tidak belanja berlebihan.

Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Jateng, Heru Sudjatmoko menjelaskan, kenaikan laju inflasi bisa berdampak pada roda perekonomian warga. “Kalau bisa belanjanya jangan banyak-banyak. Secukupnya saja karena akan mendorong inflasi. Kalau inflasinya naik cukup tinggi yang sengsara adalah saudara-saudara kita yang miskin,” jelasnya, Senin (4/6).

Dijelaskan, meski kemiskinan saat ini terus menurun tiap tahunnya dari 13 persen menjadi 12,35 persen, tapi kenaikan laju inflasi dapat berdampak pada meningkatnya jumlah kemiskinan. Khusunya masyarakat dengan kategori hampir miskin dan rentan miskin. Sebab, ketika harga kebutuhan pokok naik, mereka tidak akan mampu membelinya.

Kerentanan mereka bisa sangat berpengaruh ketika harga-harga naik, contohnya menjelang Lebaran biasanya harganya naik khususnya untuk sembako. Bagi yang uangnya banyak, naik satu atau dua persen tidak masalah. “Tapi bagi yang miskin dan berpenghasilan tidak tetap, serta pekerjaan tidak tetap tentu sangat dirasakan,” tuturnya.

Diakui, penurunan kemiskinan terus mengalami penurunan karena campur tangan banyak pihak. Salah satunya Badan Zakat Nasional (Baznas). Mantan Bupati Purbalingga ini mengapresiasi komitmen Baznas dalam membantu pengentasan kemiskinan di Jawa Tengah dengan mengalokasikan 60 persen zakat yang dikumpulkan untuk program-program pengentasan kemiskinan.

Sementara itu, Ketua Baznas Jateng, KH Ahmad Daroji mengakui, kesadaran umat Islam dalam menyalurkan zakat cukup tinggi. Terbukti, jumlah zakat yang terkumpul saat ini cukup besar. Pengumpulan zakat di kabupaten/ kota rata-rata mencapai Rp 5 miliar per tahun, sehingga saat ini terkumpul Rp13 miliar – Rp14 miliar. Sementara, untuk zakat yang dikumpulkan dari SKPD Pemprov Jateng dan instansi vertikalnya saat ini sudah terkumpul lebih dari Rp 20 miliar.

“Zakat ini kita gunakan untuk mengeroyok kemiskinan. Zakat yang masuk 60 persen digunakan untuk (penanganan) kemiskinan, dan 40 persen untuk (bantuan usaha) produktif,” katanya.

Selain memberikan bantuan tunai, Baznas juga memberikan bantuan nontunai berupa bantuan modal kerja, alat kerja, hingga pelatihan keterampilan. Sehingga masyarakat miskin bisa meningkatkan kesejahteraan keluarganya. (amh/zal)