Warga Trauma, Bertahan Ngungsi

Siang Tetap Beraktivitas, Malam Bertahan di Pos

211
HANGATKAN BADAN: Warga sebagian masih bertahan di pos pengungsian sementara karena takut akan ancaman letusan Merapi. (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)
HANGATKAN BADAN: Warga sebagian masih bertahan di pos pengungsian sementara karena takut akan ancaman letusan Merapi. (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

RADARSEMARANG.COM, BOYOLALI – Letusan freaktif pekan lalu membuat ratusan warga semakin waswas. Mereka lebih memilih bertahan di tempat penampungan pengungsi sementara (TPPS) untuk menghindari ancaman erupsi Gunung Merapi.

Di TPPS Desa Tlogolele, saat ini masih ada 544 orang pengungsi kalau malam hari. Jumlah itu akan tinggal 100 orang saja, manakala pagi menjelang. Sebab, para kaum laki-laki banyak yang kembali ke rumah masing-masing untuk mengurusi ternak dan ladang. “Meski mengungsi, warga tak mau meninggalkan ladang sebagai sumber pencaharian. Mereka kalau siang kembali mengurus hewan ternak di rumah juga. Kalau sore baru kembali ke sini (pengungsian),” kata Maryam, 35, warga Stabelan, Desa Tlogolele, Kecamatan Selo, kemarin.

Maryam bersama seorang anak balitanya merasa lebih nyaman tinggal di TPPS. Meski kondisi pengungsian tak sebaik di rumah, namun fasilitas yang didapatkan sudah cukup. Baik makan, selimut, dan fasilitas lainnya.

Dia merasa sangat trauma jika saat ini berada di rumah. Ancaman letusan Merapi yang bisa datang kapanpun membuat dia lebih memilih tinggal di pengungsian sampai Merapi benar-benar aman. Dia bersama ratusan warga lain tetap menjalankan ibadah puasa rutin di TPPS. “Tidak ada masalah untuk puasa. Saat buka banyak takjilnya dari masyarakat atau relawan-relawan,” katanya.

Wage, 55, warga lain masih cukup trauma dengan letusan freaktif Jumat lalu. Getaran wilayah yang cukup kendang membuat warga panik tidak karuan. Meski tempat tinggalnya hanya berjarak 3,5 kilometer, namun bukan awan panas yang ditakutkan. “Material di atas (Merapi) sangat banyak. Dan bisa mengarah ke sini. Itu yang kami takutkan,” ujarnya.

Pengungsi kebanyakan dari Dusun Stabelan dan Takeran, Desa Tlogolele yang masih bertahan di TPPS. Jumlahnya mencapai 1.700 jiwa, kemudian beransur-ansur turun menjadi 544 jiwa dan hingga Minggu siang ini tinggal 100 jiwa yang terdiri anak-anak dan lansia.

Menurut Kades Tlogolele Widodo, jumlah pengungsi sudah berkurang. Sebelumnya, mencapai 1.000 orang lebih. Pada Sabtu malam (2/6), jumlah pengungsi bertambah menjadi 544 orang, Namun, pada Minggu pagi (3/6), jumlahnya berkurang tinggal 100 orang. “Biasanya, kalau pagi hari, sebagian pengungsi pulang untuk memberi pakan ternaknya atau bekerja di ladang. Sedangkan malam hari, mereka kembali ke tempat pengungsian,” katanya.

Sedangkan keamanan rumah yang ditinggalkan pengungsi, pihaknya sudah mendirikan dua buah pos penjagaan. Sehingga semua orang yang ke luar masuk desa bisa dipantau. Selain itu, sejumlah relawan bersama warga juga melakukan ronda keliling. (wid/bun/jpg/ton)