PKL Minta Pemkot Kaji Kebijakan Parkir

Akan Bangun Underpass Simpanglima

104
GRAFIS: IWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG
GRAFIS: IWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Pedagang Kaki Lima (PKL) kawasan Simpanglima Semarang mengeluhkan turunnya pendapatan sejak diberlakukannya sistem parkir jam sembilan malam. Para pedagang mengaku, pendapatan mereka turun hingga 75 persen.

”Memang turun 70-75 persen setelah parkir jam 9 malam ini. Padahal kan untuk jam makan memang mulai dari jam tujuh (19.00) sampai jam sembilan (21.00),” ujar Mardi, Ketua Paguyuban PKL Simpanglima.

Bersama sejumlah PKL lainnya, dirinya meminta pemerintah meninjau ulang kebijakan tersebut. Ia sangat menyayangkan, sebab kuliner Simpanglima sudah menjadi ikon Kota Semarang, terlebih Jawa Tengah. ”Terbukti kami sering mendapat tamu studi banding. Kuliner Semarang bisa membanggakan karena sudah menjadi ciri khas dan rujukan,” katanya.

Senada, Jari, yang juga pedagang di Simpanglima merasakan susutnya pendapatan sejak diberlakukan parkir pukul 21.00. Ia berpendapat, kemacetan yang selama ini terjadi adalah karena adanya pertemuan kendaraan dari arah Simpanglima dengan padatnya kendaraan dari arah Jalan Pandanaran. Kemacetan, menurutnya bukanlah disebabkan oleh parkir di depan lapak PKL. ”Kami minta agar kebijakan ini bisa ditinjau kembali,” ujarnya.

Menanggapi keluhan tersebut, Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi akan kembali melakukan kajian. Meskipun demikian, ia mengatakan, ada hal yang menjadi prioritas yakni bahwa lalu lintas di Kota Semarang harus lancar. Saat ini, lalu lintas di Semarang sudah cukup padat, utamanya di Simpanglima. Hal ini akan menambah keruwetan lalu lintas jika ditambah lagi dengan parkir yang tidak diatur di jalan raya.

”Nanti akan tambah semrawut, dan pemerintahnya yang disalahkan,” ujarnya usai acara sarasehan bersama PKL Simpanglima, Minggu (3/6).

Meskipun demikian, Hendi terus berupaya mencari solusi yang membuat masing-masing pihak tidak dirugikan. Solusi untuk membuat para PKL tetap laku, sementara lalu lintas di Semarang bisa tetap lancar. ”Jadi para pedagang tetap mendapatkan rejeki, pengguna lalu lintas juga nyaman,” jelasnya.

Ditambahkan Hendi, salah satu upaya mengatasi kemacetan ini, pemerintah berencana membuat underpass Simpanglima. Tahun ini telah dianggarkan untuk detail engineering design (DED) denilai Rp 1,5 miliar dengan hasil yang bsia dilihat pada Agustus-September mendatang. Hasil ini nantinya akan dibawa ke pusat untuk ditawarkan ke sejumlah investor. ”Mudah-mudahan ada yang langsung tertarik dan 2019 kita kerjakan. Kalau belum ada ya tahun 2020 akan kita kerjakan,” ujarnya. (sga)