Buah dari Lima Hari Sekolah

191
Oleh: Widodo
Oleh: Widodo

RADARSEMARANG.COM – PRESIDEN Republik Indonesia telah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter. Dengan terbitnya perpres tersebut, sekolah diberikan pilihan untuk menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar (KBM) lima atau enam hari sebagai upaya membentuk karakter peserta didik di sekolah.

Dengan penerapan karakter tersebut diharapkan dapat membangun dan membekali peserta didik berjiwa Pancasila untuk menghadapi dinamika perubahan sekaligus mengembangkan platform pendidikan nasional yang meletakkan pendidikan karakter sebagai jiwa utama peserta didik dengan dukungan pelibatan publik melalui pendidikan jalur formal, nonformal dan informal dengan memperhatikan keragaman budaya Indonesia. Lingkungan keluarga, masyarakat, pendidik dan tenaga kependidikan serta peserta didik direvitalisasi untuk memperkuat potensi pengimplementasian penguatan pendidikan karakter.

Lima hari sekolah telah diterapkan di tingkat pendidikan menengah, yaitu Sekolah Menengah Atas dan Sekolah Menengah Kejuruan. Ada pula sekolah di tingkat pendidikan dasar yang telah terlebih dahulu menerapkan lima hari sekolah sebagai ciri khusus dengan berbagai pertimbangan manajemen sekolah. Dengan demikian, sebenarnya lima hari sekolah bukanlah hal yang baru di sekolah-sekolah tertentu.

Dengan terbitnya Peraturan Presiden tersebut merupakan tantangan bagi manajemen sekolah yang selama ini masih menerapkan enam hari sekolah untuk mencoba memperkuat karakter siswa melalui peran keluarga yang mendapatkan alokasi tambahan waktu melalui pembinaan pendidikan keluarga, yakni hari Sabtu dan Minggu.

Lima hari sekolah memiliki beberapa keuntungan dipandang dari sudut manajemen kurikulum, peserta didik, keluarga, masyarakat, pendidik dan tenaga kependidikan serta pertumbuhan ekonomi.

Pertama, manajemen kurikulum. Hari Sabtu adalah hari yang paling sering digunakan untuk kegiatan sosial atau pembelajaran outdoor, sehingga jadwal pelajaran Sabtu biasanya paling banyak hilang. Dengan lima hari kerja, dapat diminimalisasi kehilangan jadwal tersebut. Struktur jam yang berkisar 40 jam seminggu, masih memungkinkan  ditata dengan rentang waktu pukul 07.00 hingga pukul 14.30 selama lima hari sekolah. Rentang waktu tersebut sudah termasuk waktu untuk menjalankan ibadah dan istirahat. Setelah jam tersebut masih dapat digunakan selama satu jam untuk kegiatan ekstrakurikuler hingga pukul 15.30. Alokasi waktu ini tentu masih lebih awal dari SMA atau SMK yang pulang sampai pukul setengah lima.

Kedua, peserta didik. Meskipun peserta didik tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan pilihan lima hari sekolah, paling tidak peserta didik mempunyai satu waktu khusus di hari Sabtu untuk mengerjakan pekerjaan rumah, tugas-tugas, proyek, bahkan portofolio yang tidak cukup waktu untuk dikerjakan di sekolah. Di samping itu juga mempunyai ruang waktu yang cukup untuk berinteraksi dengan keluarga, dimana keluarga mempunyai peran yang besar dalam pengembangan pendidikan karakter.

Ketiga, keluarga. Orangtua peserta didik terdiri atas masyarakat yang homogen. Baik bekerja sebagai pegawai negeri struktural, Pegawai BUMN, karyawan pabrik dan pekerja lainnya yang rata-rata menjalankan aktivitasnya lima hari kerja. Bagai gayung bersambut, lima hari sekolah akan membuat interaksi peserta didik dan keluarga semakin baik. Interaksi peserta didik dan orangtua semakin intens, sehingga terdapat waktu yang cukup untuk mengembangkan karakter tahap demi tahap.

Keempat, masyarakat. Kegiatan sosial kemasyarakatan baik itu kegiatan keagamaan maupun resepsi adat biasanya banyak dilaksanakan pada hari Minggu. Dengan adanya dua hari libur dalam seminggu, alokasi sosial kemasyarakatan dapat difokuskan pada hari Minggu, sehingga cukup tersedia waktu untuk mengawasi peserta didik di rumah.

Kelima, pendidik dan tenaga kependidikan. Hari Minggu adalah hari spesial untuk para pendidik dan tenaga kependidikan. Dikatakan spesial karena pada satu hari itulah seluruh kegiatan non sekolah dikerjakan. Mulai dari bersih-bersih rumah, urusan cuci jemur setrika, servis kendaraan, dasa wisma, kerjabakti lingkungan, pertemuan RT, PKK dan sebagainya bahkan kadang banyak kegiatan yang tercecer ketika harus menghadiri undangan pesta adat ataupun undangan keagamaan. Dengan lima hari sekolah, terdapat ruang dan waktu untuk mengatur pekerjaan rumah baik pribadi maupun sosial, sehingga tidak lagi ada kesan justru hari minggu adalah hari yang paling melelahkan. Alih-alih bisa berekreasi, atau untuk berinteraksi dengan anak kandung, untuk mengatur keterlaksanaan kegiatan saja kadang tidak seluruhnya dapat dikerjakan.

Keenam, pertumbuhan ekonomi. Baru SMA dan SMK yang menerapkan lima hari kerja saja, sudah banyak berlalu-lalang bus pariwisata di hari Sabtu dan Minggu. Ini mengindikasikan bahwa sektor pariwisata akan meningkat dengan lima hari sekolah. Masyarakat akan mempunyai waktu yang cukup untuk berwisata dengan keluarga. Sektor pariwisata yang mendukung pertumbuhan ekonomi sebagai penyumbang APBN selain pajak, akan meningkat dari waktu ke waktu.

Perpres Nomor 87 Tahun 2017 telah memberikan kebebasan kepada sekolah untuk melaksanakan pilihannya masing-masing. Manajemen berbasis sekolah ditantang untuk lebih kreatif untuk menyejahterakan peserta didik dan warga sekolah lainnya. Warga masyarakat dan keluarga sebagai akar pengembangan pendidikan karakter dituntut berperan aktif memberikan kontribusi melalui peran nyata Komite di sekolah. Dengan melihat barbagai keuntungan tersebut alasan apalagi yang dapat menyanggah lima hari sekolah? (igi2/aro)

Guru SMP Negeri 3 Salatiga

(widodo91smart@gmail.com)