BACKGROUND GUNUNG MERAPI: Operasional ruas tol Ngasem, Colomadu, Karanganyar diharapkan dapat mengurangi kepadatan kendaraan di dalam Kota Solo saat arus balik dan mudik Lebaran. (ARIEF BUDIMAN/JAWA POS RADAR SOLO)
BACKGROUND GUNUNG MERAPI: Operasional ruas tol Ngasem, Colomadu, Karanganyar diharapkan dapat mengurangi kepadatan kendaraan di dalam Kota Solo saat arus balik dan mudik Lebaran. (ARIEF BUDIMAN/JAWA POS RADAR SOLO)

RADARSEMARANG.COM, SOLO – Belum seluruh jalur tol dari Salatiga hingga Ngawi sepanjang 120 kilometer dapat dilewati pemudik dengan mulus. Ada beberapa titik yang mendapat perlakuan khusus. Yakni di ruas Salatiga-Boyolali.

Direktur Utama PT Jasamarga Solo Ngawi (JSN) David Wijaya menuturkan, akses tol Salatiga-Boyolali difungsikan hanya untuk satu jalur. Sebab baru satu jalur yang selesai dibeton dengan lebar tujuh meter.

“Mulai tanggal 8-17 Juni jalur (Salatiga-Boyolali) dibuka untuk arah timur, sedangkan pada 15-24 Juni ke arah barat,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Solo kemarin (2/6).

Operasional tol Salatiga-Boyolali juga tidak 24 jam. Hanya dibuka siang hari. Tapi, jika pihak kepolisian dan pihak terkait lainnya menghendaki jalur dibuka lebih lama, maka akses tol bersangkutan dapat difungsikan hingga pukul 21.00.

“Kami belum bisa menyediakan penerangan hingga malam.  Masih ada sepuluh perlintasan desa yang belum selesai, sehingga kami buatkan jalur yang berada di dekatnya,” ujarnya.

Terkait rest area, di tol Salatiga-Boyolali tersedia dua unit. Yakni di Mudal, Salatiga dan Koripan, Boyolali. Fasilitas sementara yang tersedia yakni masjid, empat toilet, dan warung tenda milik warga.

“Masjid ini sebenarnya milik warga, namun karena letaknya dekat dengan tol, maka kami fungsikan dulu. Nantinya juga akan ada kios BBM dan posko kesehatan,” bebernya.

Sedangkan jalur tol Solo-Sragen, lanjut David, sudah dapat beroperasi secara penuh. Uji layak fungsi dan perbaikan di sejumlah titik telah rampung. “Harapannya sertifikat uji layak fungsi bisa segera diterbitkan,” katanya.

Namun, untuk jalur Sragen-Ngawi masih ada tujuh overpass masih dalam tahap pengerjaan. Tapi, secara umum, lanjut David, kesiapan tol Sragen-Ngawi sudah lebih baik dibandingkan Salatiga-Boyolali. “Sudah ada rest area dan jalur sudah dua arah dan dibuka 24 jam,” jelasnya.

Kepala Tim Sistem Pembayaran Pengelolaan Uang Rupiah dan Layanan Administrasi (SPPURLA) Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Bakti Artanta memaparkan, hasil koordinasi dengan PT JSN, untuk sementara, pengoperasian tol akan digratiskan.

”Setelah ada kesepakatan dengan pengelola tol, selama belum diresmikan, (layanan, Red) perbankan belum masuk,” ujarnya.

Sementara itu, menjaga kelancaran arus lalu lintas di dalam Kota Solo, dinas perhubungan (dishub) Surakarta mulai memasang ratusan rambu pendahulu petunjuk jalan (RPPJ) di sejumlah titik.

Kepala Bidang Lalu Lintas Dishub Surakarta Ari Wibowo memperkirakan, jumlah kendaraan yang masuk Kota Solo naik tiga persen dibandingkan tahun lalu. Yakni mencapai 8 juta kendaraan.

“Kemungkinan besar Jalan Slamet Riyadi menjadi ruas terpadat. Karena itu, kami sarankan masyarakat bisa memilih jalur alternatif melalui Jalan Radjiman,” ungkapnya.

Sekadar informasi, rekayasa lalu lintas di Jalan Dr. Radjiman dari satu arah menjadi dua arah sudah dimulai sejak awal tahun ini menyusul pembangunan overpass Manahan.

Rekayasa lalu lintas tersebut harus digencarkan dengan sasaran pendatang dari luar kota. “RPPJ dipasang di sejumlah titik terluar yang bersinggungan langsung dengan arus kendaraan dari luar kota. Ini agar tidak semua kendaraan melalui jalur tengah perkotaan, sekaligus mengantisipasi pemudik tidak melintasi proyek overpass,” beber Ari.

Rambu petunjuk jalan juga dipasang di 110 titik dalam kota guna memudahkan pemudik tiba di lokasi tujuan. “RPPJ di pasang di jalan utama baik nasional, provinsi, maupun kota,” terang dia.

Kepala Dishub Surakarta Hari Prihatno menjelaskan, pihaknya telah berkoordinasi dengan polresta dan Satpol PP serta instansi terkait untuk persiapan arus mudik dan balik Lebaran. Termasuk mengoptimalkan RPPJ.

“Pemasangan RPPJ berbeda dari Lebaran tahun lalu. Biasanya rambu hanya diikatkan di pohon atau tiang besi, kali ini dibuat semi permanen dengan cara dicor agar lebih rapi. Nanti kami juga lengkapi dengan informasi rest area dan operasional mobil derek selama 24 jam,” pungkasnya. (vit/ves/wa/bas)