Puasa Melatih Bersabar

263
Oleh : Fatah Syukur *)
Oleh : Fatah Syukur *)

RADARSEMARANG.COM – HIKMAH puasa Ramadan antara lain, mengajarkan kita untuk bersabar. Sabar dalam bulan Ramadan dibagi dalam tiga hal, yaitu sabar dalam melakukan ketaatan kepada Allah SWT, sabar dalam meninggalkan yang haram, dan sabar dalam menghadapi takdir yang terasa menyakitkan. Dalam sebuah hadist Riwayat Muslim, dijelaskan bahwa setiap amalan di bulan Ramadan akan dilipatgandakan sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kebaikan. Dalam QS Az-Zumar : 10, dijelaskan yang artinya: “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda, yang artinya: Puasa itu adalah separuh sabar.

Puasa adalah salah satu media untuk melatih dan membiasakan sabar. Jika puasa dilakukan dengan benar sesuai dengan tuntunan agama, maka ia akan melahirkan manusia-manusia yang sabar. Yaitu manusia yang mampu menghadapi setiap permasalahan dengan baik dan benar sesuai dengan tuntunan agama. Orang-orang yang telah terbiasa dengan berpuasa, akan menampakkan kesabaran dalam sikap, gerak dan langkah kehidupannya sehari-hari.

Imam Al-Ghazali menegaskan, sabar itu harus dimanifestasikan dalam tiga kondisi, yaitu: Sabar dalam menaati perintah Allah SWT. Sabar dalam menjauhi larangan Allah SWT. Dan sabar dalam menerima bala, ujian atau penderitaan dari Allah.

Tanpa sifat sabar, kita tidak akan menaati perintah Allah SWT. Sebab dalam ibadah dan ketaatan kepada-Nya perlu bekal sabar. Ibadah secara lahiriyah banyak yang sukar dan berat untuk dilaksanakan. Ibadah puasa harus penuh kesabaran, di tengah terik panas siang hari, kita tidak boleh makan, minum dan hal-hal yang membatalkan puasa, padahal semua itu halal dilakukan pada malam hari atau di luar puasa.

Sabar dalam mengekang hawa nafsu, angkara murka dan nafsu syaithoniyah. Aspek sabar yang kedua ini sangat berat. Banyak orang yang celaka bukan karena tidak mampu melaksanakan perintah Allah, tetapi karena tidak mampu menahan diri dari larangan Allah.

Menahan nafsu itu memang sangat berat. Orangnya sedang diam, tapi mungkin nafsunya terus meronta-ronta kemana-mana. Bahkan mungkin sedang tidur, tetapi nafsunya berkeliaran kemana-mana. Musuh yang banyak dapat langsung ditumpas dalam waktu sekejap, tetapi nafsu yang ada dalam diri kita tidak demikian. Detik ini nafsu bisa dikalahkan, tetapi detik berikutnya muncul kembali. Hari ini kita bias mengendalikan nafsu, esok lusa nafsu muncul dan menyeret kita kepada keburukan. Perjuangan ini akan terus berlangsung tanpa henti, seumur hidup kita.

Allah senantiasa memberikan cobaan kepada kita, seperti sakit, kematian, kekurangan harta, kesukaran hidup, kecelakaan, ejekan atau hinaan orang dan lain-lain. Ujian-ujian tersebut ditujukan kepada manusia agar memeroleh kekuatan dan keteguhan iman, untuk kemudian meningkatkan derajatnya bagi yang mampu melewati rintangan dengan baik.

Orang yang sedang berpuasa di suatu tempat dimana seluruh masyarakatnya melakukan ibadah yang sama, nilainya sangat berbeda dengan orang yang berpuasa di tempat yang berbeda dengan anggota masyarakatnya yang banyak tidak berpuasa. Seperti puasanya orang yang berada di tengah orang yang sedang makan atau merokok, tentu besaran nilai pahalanya di sisi Allah jelas berbeda. Semoga puasa yang kita laksanakan mengantarkan kepada kita selalu bersabar, baik dalam melaksanakan ibadah, meninggalkan larangan Allah, maupun dalam menghadapi ujian-ujian-Nya. (*)

*) Dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Walisongo