Pasar Johar Pindah, Bulu Direnovasi, Jualan Sepi

Melongok Kampung Kolang-kaling Jatirejo

274
KUPAS BUAH AREN : Sejumlah pekerja memisahkan buah aren dari gagangnya untuk diolah menjadi kolang-kaling. (SIGIT ANDRIANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
KUPAS BUAH AREN : Sejumlah pekerja memisahkan buah aren dari gagangnya untuk diolah menjadi kolang-kaling. (SIGIT ANDRIANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM – Kolang-kaling, hampir tidak pernah absen setiap Ramadan datang. Hampir bisa dipastikan, bahan yang biasa menjadi pelengkap minuman ini selalu tersaji di meja makan. Tak ayal, permintaan yang cukup tinggi membuat produksi kolang-kaling di Desa Jatirejo Semarang meningkat berkali lipat. Seperti apa?

SIGIT ANDRIANTO

JIKA pada hari biasa para pembuat kolang-kaling membuat 3-4 kali dalam satu bulan, di bulan Ramadan mereka bisa berproduksi hingga 15 kali. Tak tanggung-tanggung, setiap dua hari sekali, mereka bisa mendatangkan satu truk kolang kaling, baik dalam bentuk buah maupun yang sudah diolah.

Di Kelurahan Jatirejo Kecamatan Gunungpati, sedikitnya ada sekitar 20 pengusaha kolang-kaling yang masih aktif berproduksi. Kolang-kaling yang mereka buat, selain dibeli pembeli yang datang langsung, juga dijual ke pasar-pasar. ”Dulu dijual di Pasar Johar dan Pasar Bulu. Tapi setelah Pasar Bulu diubah dan Johar dipindah, jadi agak sepi. Sekarang jualnya Rp 800 ribu setiap kuintal,” ujar Muslimin, salah satu pengusaha kolang-kaling di desa ini. ”Memang beda. Kalau Ramadan seperti ini permintaannya sangat banyak. Sehingga cepat habis,” imbuhnya.

Ia mengaku sudah sejak tahun 80-an menekuni usaha ini. Buah aren yang menjadi bahan utama, ia datangkan langsung dari daerah Purwokerto. ”Satu truk yang masih dalam bentuk buah harganya sekitar Rp 10 juta. Nanti kemudian direbus sendiri dan digepengkan sendiri,” ujar pria yang memperkerjakan 4 tetangganya dalam usaha kolang-kaling ini.

Dwi Sayekti Kadarini, atau akrab disapa Nini, sekretaris kelompok sadar wisata (Pokdarwis) Jatilanggeng desa setempat menjelaskan, pembuatan kolang-kaling di desa ini memang sudah dilakukan sejak puluhan tahun lalu. Dulunya, banyak warga yang mengolah secara langsung di daerah asal aren ini berada. Seperti di Parakan, Temanggung, Pekalongan, Banjarnegara. ”Sekarang sudah pada mengolah di rumah masing-masing. Dari ibu saya dulu sudah ada,” ujar perempuan yang juga guru TK ini.

Diceritakan olehnya, saat ini para pembuat kolang-kaling menghadapi kendala dalam hal penjualan. Sebab, mereka masih menjual hasil olahannya secara tradisional. ”Tapi untuk yang anak-anak muda, sekarang mulai berinovasi memasarkan melalui media sosial. Mereka juga mengolah kolang-kaling menjadi sejumlah olahan lainnya, seperti brownis, coklat kolang-kaling, selai, dan masih banyak lagi. Terlebih sejak kampung ini ditetapkan sebagai kampung tematik,” ujarnya.

Inovasi membuat kolang-kaling menjadi bahan makanan yang lebih variatif ini bahkan menarik Tim Penggerak PKK (Pembinaan Kesejahteraan Keluarga) dari luar Pulau Jawa untuk datang. Dikatakan Nini, rombongan PKK dari Sulawesi sengaja datang hanya untuk belajar mengolah kolang-kaling dari warga setempat. ”Ada juga beberapa dari sini yang diminta ke sana. Kemudian ngajari di sana. Transportasi ditanggung dan pulang masih diberikan uang saku,” bebernya.

Benar saja, pengolahan kolang-kaling memang tidak semudah yang dikira. Membutuhkan keahlian khusus untuk bisa membuat bahan minuman ini. Mulai dari mengupas hingga menggepengkan, semua tidak dapat dilakukan secara sembarangan.

”Saya yang asli orang sini masih kesulitan mengupas. Kemudian untuk menggepengkan juga susah. Karena butuh tekanan tertentu, dan tiap buah itu beda antara yang tua dan muda,” tandasnya sembari menambahkan bahwa penggepengan dimaksudkan agar manis kolang-kaling lebih meresap. (*/ida)

Silakan beri komentar.