Dr Hastaning Sakti Mkes Psi
Dr Hastaning Sakti Mkes Psi
Denie Rartri Desiningrum Psi Msi
Denie Rartri Desiningrum Psi Msi

RADARSEMARANG.COM – ANAK yang terlahir sebagai generasi Z di zaman milenial tidak dapat dihindarkan lagi dari gadget dan internet. Anak-anak zaman ini sudah mulai menggunakan dan akrab dengan media sosial. Seperti dua mata pisau, media sosial memiliki dampak positif dan negatif sekaligus. Positifnya, anak bisa melakukan komunikasi dengan lebih mudah. Sementara dampak negatifnya, media sosial bisa mempengaruhi kondisi psikologis anak. Bahkan bisa membuat anak depresi.

Dr Hastaning Sakti MKes Psi, Dekan Psikologi Universitas Diponegoro (Undip) menjelaskan hal ini dapat terjadi ketika muncul di media sosial hal seperti bully, sarkasme dan hal-hal yang membuat anak tidak nyaman. ”Karena tidak seperti orang dewasa, anak-anak masih rentan. Kalau pengirim pesan mungkin niatnya bercanda dengan emoji tertentu. Tapi penerima juga harus tahu. Ini yang harus dipersiapkan orangtua,” jelas Hasta kepada koran ini.

Sehingga, untuk menghindari hal ini, anak harus dipersiapkan dalam menggunakan media sosial. ”Jadi selain skill menggunakan alat, juga disiapkan skill sosialnya. Jangan sampai karena di-dislike dan di-bully menjadikan anak tertekan,” imbuhnya.

Dalam hal ini, ditekankan olehnya, orangtua harus memberikan rambu-rambu kepada anak. Lebih lanjut, orangtua harus bisa membaca anak. Ketika anak menunjukkan hal-hal yang tidak biasa, kelihatan murung dan menyendiri misalnya, maka orangtua harus waspada. ”Orangtua harus terus memperhatikan dan membina anak. Bimbinglah anak, tunjukkan sikap yang benar. Pupuklah tanggung jawab terhadap dirinya sendiri,” ujarnya berpesan.

Dunia internet memang tidak dapat dipisahkan begitu saja dengan anak. Bahkan banyak tugas sekolah yang saat ini harus diakses melalui internet. Tak jarang ada juga orangtua yang mencoba menggantikan kehadiran mereka dengan internet. Alasannya karena kesibukan.

Ditambahkan Dinie Ratri Desiningrum SPsi MSi, pengajar fakultas psikologi Undip, selain mempermudah anak dalam berkomunikasi, media sosial juga bisa menyumbang pengaruh negatif seperti pornografi dan sejumlah hal lainnya, termasuk masuknya keyakinan dari paham tertentu, seperti radikalisme maupun terorisme.

Usia anak, dikatakan olehnya adalah masa-masa dimana anak sedang berada pada rasa ingin tahu yang tinggi. Anak bisa juga kecanduan dalam bermedia sosial, terutama ketika menemukan apa yang menjadi ketertarikannya. ”Kemudian bisa jadi tanpa disadari anak-anak terpengaruh lawan bicara ketika bermedia sosial. Mereka mudah nurut perintah lawan bicara tersebut. Karena anak-anak belum bisa membedakan antara orang jahat dan jujur di luar,” paparnya.

Di usia yang masih tergolong labil, anak juga rentan dimasuki paham tertentu. Sebab, anak-anak seringkali menerima segala informasi secara mentah-mentah. Orangtua, dalam hal ini harus mendampingi anak-anak sehingga bisa menjelaskan kepada anak mengenai informasi yang didapat.

”Bisa jadi dari media sosial ada informasi tentang keyakinan tertentu menjadi hal menarik bagi anak, kemudian anak mengikuti alur dari yang disampaikan melalui media sosial tersebut. Ini bisa berlanjut hingga dilakukan kopi darat. Itu yang berbahaya,” jelasnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, zaman sekarang anak memang tidak bisa dijauhkan dan steril dari internet, juga media sosial. Orangtua melarang di rumah pun, anak bisa mencarinya di luar. Sehingga, menjadi tugas orangtua adalah menjadikan anak-anak kebal. Anak-anak menggunakan media sosial tetapi tidak begitu saja terpengaruh media sosial dengan informasi yang diterima mentah-mentah. ”Orangtua melakukan monitoring, dipantau apa isi gadget anak atau ketika anak menggunakan media, orangtua berada di sekitar untuk memantau apa yang dilakukan anak. Jangan dilepas begitu saja anaknya. Kesibukan orangtua jangan sampai membuat anak dilepas begitu saja,” imbuh penulis buku psikologi anak ini.  (sga/ida)