Oleh: Dra Ariyanti MPd
Oleh: Dra Ariyanti MPd

RADARSEMARANG.COM – KOPERASI adalah kata yang sangat familiar bagi peserta didik. Di sekolah, di desa, di lingkungan tempat tinggal peserta didik dengan mudah dapat menemukan lembaga ekonomi yang disebut dengan Koperasi. Oleh karena itu ketika peserta didik kita ajak membahas materi koperasi pasti mereka merasa ah gampang, gak penting, sudah tahu, paling juga seperti itu,  dan berbagai komentar yang menunjukkan bahwa mereka tidak tertarik mempelajarinya. Apalagi materi tentang Koperasi dalam kurikulum pendidikan di Indonesia sudah diperkenalkan dan bahkan dipelajari sejak peserta didik berada di SD hingga SMA. Akan tetapi sebenarnya apakah mereka benar-benar paham tentang koperasi? Ataukah hanya tahu tulisan yang dibaca berbunyi koperasi?

Hampir semua guru sepakat bahwa letak kesulitan pokok bahasan Koperasi bukan pada isi materinya tetapi pada bagaimana mengemas pembelajaran kita agar menjadi menarik bagi para peserta didik.Banyak upaya dilakukan oleh guru untuk membuat proses pembelajaran menarik dan menyenangkan, sekaligus dapat membuat peserta didik aktif.  Guru harus selalu menyesuaikan pendekatan dan model pembelajaran dengan materi yang dibahas. Termasuk upaya menjadikan materi yang sederhana dan mudah dipahami agar tetap menarik untuk dipelajari oleh peserta didik dengan penuh semangat. Dan kondisi inilah yang penulis hadapi ketika harus menyampaikan pokok bahasan koperasi pada kelas X semester 2.

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1 ayat (1) menyatakan bahwa belajar merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. Terkait dengan pesan yang tersirat pada undang-undang tersebut maka penulis merasa perlu adanya penerapan metode dan model pembelajaran yang tepat dalam setiap pembelajaran termasuk pembelajaran untuk materi koperasi.

Penulis merasa perlu sentuhan dan kemasan khusus untuk pembelajaran koperasi agar dapat menumbuhkan minat peserta didik mempelajari dengan lebih serius tapi tetap menyenangkan dan tidak  mengalami kebosanan dalam belajar. Untuk itu penulis memilih model pembelajaran yang tepat sesuai dengan karakteristik pokok bahasan Koperasi. Di samping itu dengan model pembelajaran yang diterapkan ,diharapkan dapat menumbuhkan karakter peserta didik seperti yang diharapkan dalam Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) sekaligus untuk menumbuhkan kecakapan peserta didik dalam kaitannya dengan kecakapan hidup (life skills), yaitu mampu mengatasi masalah yang dihadapi dengan tepat tanpa menimbulkan masalah baru.

Pada materi koperasi, penulis mencoba menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dengan  Bermain Peran (Role Playing), dengan harapan peserta didik lebih bergairah belajar sehingga mudah mencapai tujuan pembelajaran dan semua dapat terlibat secara aktif dan proaktif.

Melalui pembelajaran dengan model PBL peserta didik akan dapat melakukan eksplorasi terhadap masalah-masalah yang mereka temukan dalam proses pembelajaran. Mereka akan bekerja sama dalam kelompoknya masing-masing untuk dapat memecahkan masalah yang dihadapinya. Maka dengan demikian akan meningkatkan kekompakan, saling menghargai pendapat orang lain, dan rasa toleransi.

Pertama, meningkatkan kekompakan karena dalam kerja kelompok setiap anggota harus sadar terhadap tugas dan tanggung jawab masing-masing, dalam hal ini peserta didik dapat saling membantu agar tugas kelompok dapat diselesaikan dengan baik. Kedua, saling menghargai pendapat orang lain, bahwa dalam suatu kelompok munculnya perbedaan pendapat merupakan hal yang tidak dapat dihindari, karena masing-masing individu merasa pendapat dan idenyalah yang baik dan benar, maka diskusi-diskusi yang berlangsung harus selalu mengedepankan musyawarah untuk mencapai mufakat. Ketiga, rasa toleransi juga dapat ditingkatkan saat peserta didik menggali informasi melalui berbagai sumber maupun pada saat presentasi, bahwa sumber yang menjadi referensi haruslah yang dapat dipertanggungjawabkan, maka perlu toleransi terhadap anggota kelompok yang minim informasi dan referensi agar dapat memperoleh pemahaman yang sama tentang suatu materi.

Dengan model bermain peran, penulis berharap bahwa setiap peserta didik dapat aktif terlibat dalam pembelajaran dengan perannya masing-masing. Sehingga mereka akan dapat lebih memahami materi koperasi. (as3/aro)

Guru Ekonomi di SMA Negeri 1 Bergas Kabupaten Semarang