Perempuan dan Kesadaran Peradaban Islam

179
Oleh: Hanita Masithoh
Oleh: Hanita Masithoh

RADARSEMARANG.COM – DEWASA ini, konsepsi emansipasi perempuan sudah diterima oleh berbagai kalangan. Hal tersebut dibuktikan dengan diakuinya eksistensi perempuan dalam ruangan publik. Mengingat, sebelum adanya emansipasi, perempuan identik dengan ranah domestik. Terlebih, jika perempuan lahir dalam tatanan ningrat Jawa yang memegang teguh budaya patriarki.

Berbicara mengenai perempuan dalam Islam, ada beberapa sosok teladan yang patut dijadikan panutan oleh perempuan-perempuan akhir zaman, diantaranya Khadijah ibn Khuwailid, Aisyah binti Abu Bakar, dan Fatimah binti Muhammad. Sejarah menceritakan bahwa mereka memiliki kontribusi besar dalam mewujudkan kejayaan Islam. Khadijah merupakan perempuan mandiri dalam sektor ekonomi yang mendermakan hartanya untuk dakwah Rasulullah. Aisyah terkenal sebagai perempuan yang cerdas. Rasulullah memberikan kepercayaan padanya untuk memberikan jawaban atas sebagian persoalan umat dengan menjadi perawi Hadits. Sedangkan Fatimah memiliki sumbangsih dalam menuliskan perkataan, nasehat, dan peristiwa-peristiwa yang dialami Rasulullah.

Menyikapi penjelasan di atas, sudah selayaknya perempuan-perempuan akhir zaman meniru spirit Khadijah, Aisyah, dan Fatimah. Akan tetapi, realita di lapangan menunjukkan lambatnya kesadaran perempuan akan beberapa peran yang harusnya dilakoninya. Hal ini berakibat pada minimnya bekal yang dipersiapkan dalam mewujudkan peradaban Islam yang unggul

Dalam relasinya, perempuan memiliki tiga peran sentral, yaitu khalifah fil ardh, istri, dan ibu. Pertama, sebagai khalifah fil ardh (wakil Allah), peran ini bersifat umum, dalam artian diperankan oleh manusia, baik laki-laki ataupun perempuan. Sebagai wakil Allah di muka bumi, manusia berkewajiban untuk memakmurkan dan menjaga bumi Allah sehingga dapat melestarikan peradaban dunia. Hal ini senada dengan hadits yang menyatakan bahwa setiap manusia adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawaban. Laki-laki adalah pemimpin atas keluarganya dan perempuan adalah pemimpin atas rumah suami dan anak-anaknya.

Kedua, dalam perannya sebagai istri, salah satunya dijelaskan dalam Surat Al-Baqarah [2]: 187 yang menyatakan bahwa istri adalah pakaian bagi suami, pun sebaliknya. Maka dalam hal ini, suami dan istri harus saling memperkuat relasi untuk mewujudkan keluarga maslahah. Sehingga, dari keluarga tersebut akan melahirkan masyarakat dengan kesalehan sosial yang tinggi.

Ketiga, berkaitan dengan perannya sebagai ibu, perempuan berkewajiban untuk mendidik anak-anaknya dengan baik. Sebab, dikatakan dalam syair Arab bahwa ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Dengan kata lain, ibu adalah sumber peradaban bagi anak-anaknya. Hal ini diperkuat dengan sebuah Hadits yang menyatakan bahwa perempuan adalah tiang agama. Jika perempuan dalam keadaan baik (terdidik dan berakhlak), maka baiklah suatu Negara. Tapi jika tidak, maka yang terjadi adalah sebaliknya.

Berkaca pada hal tersebut, tidak dapat dipungkiri bahwa perempuan harus meningkatkan kesadaran akan peran-perannya yang harus dimaksimalkan dalam melestarikan peradaban Islam. Mengutip pepatah Barat “Beauty maybe dangerous, but intelligence is lethal”. Kecantikan mungkin berbahaya, tapi kecerdasan itu mematikan. Pepatah itu seolah menegaskan bahwa menjadi perempuan berarti harus cerdas, berdaya, berani, dan mandiri dengan tetap mengedepankan aspek kesopanan, ketawadhu’an, serta berakhlak terpuji. (*)

Alumni Pondok Pesantren Darul Falah Besongo Semarang