Oleh: Minar SPd
Oleh: Minar SPd

RADARSEMARANG.COM – BANGSA Indonesia dikenal sebagai bangsa yang memiliki ragam budaya Nusantara yang sangat melimpah. Sebagai bangsa yang majemuk dengan semboyan” Bhinneka Tunggal Ika” yang artinya berbeda-beda tetapi tetap satu jua,kemajemukan yang ada terdiri dari berbagai suku bangsa budaya, agama, ras, bahasa, adat-istiadat kesenian kekerabatan maupun bentuk fisik yang dimiliki oleh suku-suku bangsa yang ada di Indonesia.

Masyarakat Indonesia yang hidup dalam berbagai adat dan kebudayaan daerah bersifat kewilayahan yang merupakan pertemuan dari berbagai ciri khas karakteristik budaya kelompok tersebut perlu ada sejarah dan proses dalam menuju persatuan dan kesatuan secara berdampingan dan kebersamaan.

Dalam rangka membangun hubungan antarperbedaan di antara masyarakat kemungkinan singgungan –singgungan peradaban dapat membangun daya elastisitas bangsa Indonesia dalam berinteraksi dan berkomunikasi. Sementara di sisi lain bangsa kita telah mampu mengembangkan budaya lokal dan hidup secara berdampingan ,saling mengisi atupun berjalan bersama secara paralel. Misalnya, budaya keraton atau kerajaan yang berdiri berdampingan dengan budaya kelompok masyarakat tertentu/masyarakat terpencil. Indonesia kaya ragam budaya yang melatar belakangi generasi masa depan perlu suatu pengenalan terhadap kekayaan yang ada di daerah daerah wilayah nusantara tercinta.

Ragam budaya tradisional nusantara yang di dalamnya termasuk jenis alat musik tradisional belum banyak dikenal oleh masyarakat luas di seluruh Indonesia, apalagi para siswa sebagai generasi pelestari budaya bangsa sangat kurang semangat dan tertarik pada materi tradisional, bahkan dianggapnya jadul.

Maka dari itu, dalam pembelajaran seni budaya, khususnya seni musik, perlu menyusun tujuan pembelajaran untuk  meningkatkan pengetahuan dan kemampuan mengenal lebih dalam terhadap alat –alat musik tradisional nusantara. Di dalam mengenal jenis alat musik tradisional tersebut masih belum maksimal karena belum ada media pembelajaran.

Dalam proses pembelajaran yang bertujuan meningkatkan kemampuan mengenal alat musik tradisional di Indonesia yang berjumlah kurang lebih lima puluh jenis alat musik tradisional, penulis ingin menggunakan “kartu gambar”. Media belajar ini dibuat dengan cetak gambar pada kertas karton satu kartu satu gambar alat musik tradisional dari berbagai suku daerah di Indonesia.

Adapun manfaat kartu gambar adalah untuk memperjelas nama masing –masing alat musik, memperjelas asal usul alat musik, cara memainkannya dan sumber bahan yang digunakan, serta keunikan yang dimiliki oleh alat musik tersebut. Langkah berikutnya adalah setiap siswa memiliki peran masing –masing sesuai kartu gambar yang dipegang anak. Dengan menggunakan teknik permainan peran, yaitu sambil bernyanyi lagu daerah kemudian secara acak akan berhenti bernyanyi, lalu menunjuk satu orang untuk mempresentasikan perannya sebagai alat musik daerah mana dan menceritakan kepada kawan -kawan sekelas. Begitu seterusnya sampai waktu berakhir dan selesai mata pelajaran.

Beberapa nama –nama alat musik tradisional yang bisa disebutkan, antara lain:

Angklung dari Jawa Barat, Saluang dari Sumatera Barat, Arumba dari Sumatra, Gambus dari Sumbar, Kolintang dari Suawesi Utara, dan Sampek dari Toraja Rindhik dari Bali.

Sasando dari Nusa Tenggara Barat, Talempong dari Sumatera Barat, Fu dari  Irian, Akordeon dari Sumatera Selatan, Bende dari Lampung, Doll dari Bengkulu, Gendang Panjang dari Riau, Tehyan dari Jakarta, Bonang dari Jatim, Bonang dari Jatim, Gengceng dari Bali, Serunai dari NTB, Japen dari Kalteng, Sampek dari Kaltim, Keso dari Sulsel, Kecapi Sulawesi Barat, Nafiri dari Maluku, Tifa dari Papua, Jengglong dari Jabar, dan Rebab dari Jawa Barat.

Pada pertemuan berikutnyya dikofirmasikan  bahwa  untuk tugas  di rumah menghafalkan penjelasan dari keunikan masing –masing alat musik daerah yang akan dipresentasikan di depan kelas.

Demikian pembelajaran ilmu pengetahuan jenis alat musik dengan kartu gambar. Akhir proses pembelajaran masing-masing siswa membawa tugas  untuk satu minggu depan dilanjutkan presentasi. Dan kartu gambar yang sudah dipresentasikan perlu diserahkan kurikulum  atau dipajang di kelas masing-masing. (igi2/aro)

Guru SMP Negeri 2 Salatiga