Oleh: Ani Afida  MPd
Oleh: Ani Afida  MPd

RADARSEMARANG.COMSETIAP orang mampu untuk membuat perubahan baik bagi diri sendiri maupun lingkungan sekitarnya, tak terkecuali cerita Sri Pundawati, yang akrab dipanggil Sripun, seorang siswi SMPN 17 Semarang inspirator anti-bullying  yang mampu “mencuri” hati pemain sepakbola legendaris dunia sekaligus Duta Kehormatan UNICEF, David Becham yang berkunjung ke Semarang baru-baru ini. Hal tersebut tidak berlebihan mengingat betapa bullying menjadi salah satu masalah yang terlihat sepele namun sangat mengganggu kenyamanan siswa di sekolah.

Secara umum, bullying bisa diartikan merupakan berbagai tindakan mengintimidasi dan memaksa orang lain atau kelompok yang lebih lemah untuk melakukan sesuatu di luar kehendak mereka, dengan maksud untuk membahayakan fisik, mental atau emosional  melalui pelecehan dan penyerangan. Namun sayangnya, kita menganggap bahwa bullying adalah sesuatu lelucon yang wajar jika tidak menimpulkan korban secara fisik. Berangkat dari hal tersebut, mari kita mengupas sedikit mengapa bullying, hal sepele yang sering kita lihat dan bahkan tanpa kita sadari telah kita lakukan, pantas untuk dihentikan di lingkungan sekolah.

Bentuk bullying sangatlah beragam, mulai dari bentuk fisik seperti pukulan, verbal seperti ejekan, memaki-maki; maupun psikologis seperti pengabaian atau mengisolasi orang lain. Bullying secara fisik akan lebih mudah dikenali daripada bullying secara psikologis. Namun, bullying secara fisik biasanya tidak serta merta dirasakan korban tanpa bullying secara psikologis terlebih dulu bahkan dapat dilakukan secara bersamaan. Bahkan yang luput dari pengamatan kita, bullying juga sering terjadi melalui media sosial, yang sering kita sebut cyberbullying. Contohnya dengan menulis status yang dengan sengaja ditujukan untuk mengintimidasi orang lain, maupun mengomentari suatu hal atau kejadian dengan niat mengejek, memaki maupun merendahkan. Dalam kasus ini, pelaku merasa lebih aman dan nyaman melakukan cyberbullying karena mereka bebas melakukannya tanpa dilihat atau diketahui oleh korban.

Padahal dampak bullying pun sangat beragam mulai dari dampak yang sangat ringan seperti takut datang ke sekolah, prestasi sekolah menurun hingga sangat parah, suicide misalnya. Bagi korban, bullying dapat merampas rasa percaya diri mereka. Bahkan dampak jangka pendeknya pun akan mudah dirasakan oleh siswa korban bullying, antara lain mereka akan merasakan kesulitan tidur, kesulitan konsentrasi di kelas atau kegiatan apapun, sering membuat alasan untuk bolos sekolah, tiba-tiba menjauhkan diri dari aktivitas yang disukai sebelumnya, tampak gelisah, lesu dan putus asa terus-menerus.

Salah satu cara yang paling efektif untuk mengatasi bullying yang dapat dilakukan pihak sekolah adalah: Pertama, dengan mengevaluasi kurikulum sekolah yang sudah ada. Antara lain dengan memasukkan anti-bullying kedalam kurikulum sekolah kedalam program sekolah yang nyata, contohnya dengan mengadakan gerakan sekolah yang menyenangkan, selain itu, mengadakan kontrol awal saat siswa masuk sekolah dengan mensosialisasikan hal-hal apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh siswa dengan sepengetahuan wali siswa maupun pihak-pihak yang berkepentingan. Sejalan dengan itu, sistem pengurangan poin oleh guru bimbingan konseling juga dapat membantu mendisiplinkan siswa di sekolah, bila disertai dengan memberikan hukuman yang mendidik, contohnya diberi tugas tambahan, dan lain sebagainya.

Kedua, dengan mengadakan program yang melibatkan adik kelas dengan kakak kelasnya, atau biasa yang disebut “buddy system”. Dalam program tersebut, adik kelas mendapatkan bimbingan dari kakak kelasnya, maupun sebaliknya, adik kelas juga dapat meminta bantuan apapun yang berkaitan dengan tugas akademis dengan kakak kelasnya. Ketiga, ikutkan siswa ke dalam kegiatan-kegiatan baik intra maupun ekstrakurikuler sekolah sebagai bentuk keterlibatan mereka dalam memajukan prestasi maupun memupuk kepercayaan diri mereka. Karena dengan berorganisasi, mereka akan memiliki kemampuan bersosialisasi, berwawasan luas dan percaya diri. Keempat, belajar untuk berani berkata “TIDAK” untuk bullying, dan jika memang sudah terjadi, laporkan kepada pihak sekolah maupun orang tua. Dan yang terpenting, mari kita buat perubahan mulai dari diri sendiri dan saat ini juga! (igi2/aro)

Guru SMP Negeri 3 Salatiga