Kedepankan Safety Riding dan Bukan Gaya-Gayaan

Lebih Dekat dengan Indonesia Ignis Community (Ignity) Chapter Semarang

223
KOMPAK: Anggota Indonesia Ignis Community (Ignity) Chapter Semarang saat membuat video contest di Brown Canyon. (SOFIAN HADI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
KOMPAK: Anggota Indonesia Ignis Community (Ignity) Chapter Semarang saat membuat video contest di Brown Canyon. (SOFIAN HADI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM – Berawal dari grup WhatsApp dan Facebook akhirnya terbentuk Indonesia Ignis Community atau Ignity Chapter Semarang. Komunitas otomotif ini beranggotakan para pecinta mobil Suzuki Ignis.

ADENNYAR WYCAKSONO

IGNITY Chapter Semarang masih seumur jagung. Komunitas ini baru terbentuk 26 Januari 2018 lalu.  Iginty Chapter Semarang mencoba mewadahi pengguna mobil Suzuki Ignis yang ada di Semarang untuk menyalurkan hobi dan sharing pengalaman.

Ketua Iginity Chapter Semarang, Andreas Catur Indrayana, menjelaskan, sebelum komunitas tersebut terbentuk, awalnya anggota Ignity Chapter Semarang hanya melakukan kencan buta di media sosial. Dari sosial media inilah, akhirnya terbentuk wacana untuk membuat klub, serta adanya dorongan dari pengurus nasional (Pengnas) Ignity pusat yang ada di Jakarta.

“Komunitas ini berawal dari group WhatsApp pengguna Ignis di Jateng-DI Jogjakarta bentukan dari diler. Nah dari media sosial inilah kemudian berkembang menjadi sebuah cita-cita membentuk sebuah komunitas sebagai wadah dan sarana bertukar pikiran,” katanya usai pembuatan video contest HUT Ignity Pusat di Brown Canyon Semarang, Jumat (1/6) siang.

Pria yang akrab disapa Andreas ini menjelaskan, karena coverage area yang telalu luas, yakni Jateng-DIJ, sehingga muncul berbagai ide untuk membentuk komunitas. Karena terlalu banyak wacana dan sulit terkumpul, akhirnya dikerucutkan menjadi area Semarang yang diawali oleh 5 orang pengurus pada Oktober 2017 lalu.

“Saya coba kumpulkan pengguna Ignis di Semarang. Awalnya hanya ada 5 orang yang ikut kopdar di bulan Oktober, lalu berkambang banyak sampai sekarang,” ujarnya.

Andreas menuturkan, kepengurusan Ignity Chapter Semarang sudah terdaftar di pengurus pusat, dan resmi terbentuk pada 27 Januari lalu setelah melakukan deklarasi. Secara nasional, Ignity sendiri terbentuk pada 1 Juni 2017 bertepatan pada perayaan hari Kesaktian Pancasila. “Kalau di pusat, sudah terbentuk satu tahun. Saat ini sudah ada beberapa chapter yang terbentuk di berbagai daerah, termasuk Semarang,” jelasnya.

Beratnya membentuk sebuah komunitas dirasakan benar oleh Andreas, setelah melakukan kopdar pertama pada Oktober, kemudian dilanjutkan kopdar kedua pada Desember lalu, dan berhasil terkumpul 22 mobil yang kini menjadi anggota Ignity Chapter Semarang.

“Ada dua jenis member, yakni member resmi yang terdaftar di pengurus pusat dan bukan member resmi yang tergabung di grup WA yang jumlahnya ada 42 orang. Kalau yang terdaftar ada 18 anggota,” ucapnya.

Sebagai bentuk eksistensi komunitas baru, dalam perayaan HUT pengurus nasional Ignity, Chapter Semarang pun membuat video profile yang rencananya akan diikutkan dalam video contest HUT Ignity pusat. Dalam lomba tersebut diperebutkan uang tunai sebesar Rp 500 ribu untuk tim terbaik. “Bukan uangnya, namun ini sebagai wujud eksistensi, kebanggaan, serta loyalitas terhadap klub ini,” tegasnya.

Terkait keanggotaan, lanjut Andreas, Ignity Chapter Semarang terbuka untuk semua orang. Syaratnya adalah memiliki SIM dan mobil Ignis serta membayar uang pendaftaran guna menebus stater kit yang berisi seragam member, nomor keanggotaan dan stiker. “Kami terbuka untuk semua kalangan, bahkan ada anggota kami yang masih duduk di bangku SMA dan mahasiswa, namun banyak juga yang sudah berkeluarga,” katanya.

Banyaknya anggota member yang masih berusia muda, membuat Andreas memberlakukan peraturan tegas kepada setiap member untuk mematuhi peraturan lalu lintas dan mengedepankan safety riding. Tujuannya, agar tidak merugikan pengguna jalan lain. Bahkan dalam aturan ditegaskan jika member Ignity tidak diperkenankan memakai strobo, sirine dan aksesoris lainnya.

“Kami tekankan jika di jalan, para member membawa nama komunitas. Jadi kalau berulah di jalanan yang kena komunitas, bukan untuk gaya-gayaan sebenarnya namun stiker atau penanda yang ada di mobil selain kebanggaan, juga sebuah beban,” tegasnya. (*/aro)