33 C
Semarang
Kamis, 28 Mei 2020

Hotel Sapi

Another

Didi Kempot Tak Suka Merayu meski Jago Bikin Lagu Romantis (7)

Salah satu kesedihan terbesar dalam hidup Didi Kempot adalah tak bisa menunggui kelahiran anak pertama karena tak punya ongkos...

Bakat dan Kegigihan sang Maestro Sudah Terlihat di Ngawi (6)

Karakter bersahaja dan pantang menyerah Didi Kempot terasah sejak masa kecilnya di Ngawi. Suaranya bagus dan punya karisma. LATIFUL HABIBI, Ngawi,...

Karya Didi Kempot: Ditulis Sekarang, Terkenal Puluhan Tahun Kemudian (5)

Manisnya karir tak didapat Didi Kempot begitu saja. Ada perjuangan berat yang dilalui. Kuncinya adalah terus berjalan di jalur...

Cowboy hilang karena sapi. Sapi hilang karena kereta api. Cowboy dan sapi ketemu lagi: di dekat rel kereta api. Tidak jauh dari Dodge City. Kota kecil di pedalaman Kansas. Yang sejak lama bergelar ‘ibukotanya’ Cowboy Amerika.

Hari itu, Jumat minggu lalu saya ke situ: melihat model peternakan pasca Cowboy.

Luar biasa. 40.000 ekor sapi berada di satu peternakan. Jumlah itu sengaja diputuskan segitu. Untuk mencapai skala yang paling ekonomis.

Ketika menulis ‘40.000 ekor’ ini saya tersenyum sendiri. Ingin tahu bagaimana Google menterjemahkannya ke dalam bahasa Inggris.

Satuan sapi di Amerika bukan disebut ‘ekor’ tapi ‘kepala’. Tapi saya tidak mungkin menulis –demi Google– ‘40.000 kepala’ sapi di peternakan ini.

Pembaca Disway akan mengira yang ada di peternakan itu hanya kepalanya…

Lahan peternakan itu dipetak-petak. Ada pagar kayu sebagai penandanya. Pagarnya pendek saja. Sekedar tidak bisa diloncati sapi.

Tidak ada kesan modern. Atau mewah. Pagar kayunya juga tidak rapi. Pemetaannya juga tidak harus lurus. Fungsional saja.

Luas petak tidak sama. Disesuaikan dengan jumlah sapi di dalamnya. Jumlah itu didasarkan pada umur dan jenisnya. Bukan didasarkan mana penggemar Liverpool dan mana penggila Real Madrid.

Sapi jenis Angus, misalnya tidak dicampur dengan sapi limousin. Atau sapi Texas. Dari sekitar 250 jenis sapi di dunia hanya 16 jenis yang umum diternakkan di Amerika.

Begitu besarnya peternakan ini. Untuk mengelilinginya harus pakai mobil. Saya diantar oleh David. Manajer di situ. Sambil ngobrol tentang peternakan ini. Pertanyaan saya, dia jawab. Padahal ini peternakan swasta.

Beberapa jawaban lagi dia kemukakan di kantornya. Sambil minta saya melihat ke layar komputer. Ada denah. Ada angka. Ada nama di layar itu.

Saya juga diantar meninjau pabrik makanan ternaknya. Di sebelah kandang. Juga ke gudang bahan baku. Ada 10 jenis bahan baku di gudang itu. Yang akan dicampur di pabrik: jagung, jerami, gandum, oat, sorgum, alfalfa dan lainnya. Hari itu saya juga mengunjungi persawahan alfalfa. Akan saya ceritakan tersendiri.

Apakah dicampur ‘obat’ penggemuk? ‘Tidak sama sekali,’ kata David. Makanan sapinya murni dari tumbuhan dan biji-bijian. Ini sesuai dengan standar daging sapi di peternakan itu.

Adonan itu mereka sendiri yang menentukan. Disesuaikan dengan tingkat pertumbuhan sapi. Saya lihat truk-truk raksasa masuk ke gudang itu. Membawa bahan baku.

Yang saya kaget: sapi itu bukan milik peternakan. ”Kami hanya mengelola,” kata David. ”Sapi-sapi itu milik peternak. Yang dititipkan di sini,” katanya.

Tugas peternakan itu sudah tertulis dalam kontrak: memberi makan dua kali sehari. Jamnya sudah ditentukan.

Cara makannya biasa. Di luar pagar itu disediakan tempat makan. Seperti talang memanjang. Sapi tinggal menjulurkan kepalanya lewat sela-sela pagar. Kalau sapinya sakit perusahaan mengobatinya. Kalau sudah waktunya dijual David menghubungi pemiliknya.

Pembeli sudah tahu: tanggal berapa ada sapi berapa siap dijual.

Peternakan tidak bertugas menjual. ”Kami hanya membantu informasi,” ujar David. ”Ini ada yang mau membeli dengan harga sekian. Mau nggak?,” katanya.

Pembelinya adalah perusahaan pengepakan daging. Tidak di bawah naungan peternakan ini.

Biasanya peternak setuju saja. Peternakan sudah membantu mencarikan harga terbaik. Tanpa memungut komisi.

Bahkan, kata David, peternakan sangat minim menarik biaya. Agar peternaknya yang lebih senang. Lantas terus mempercayainya.

Bagaimana kalau ada sapi yang mati? ”Itu resiko pemilik sapi,” kata David. ”Tapi kan ada asuransi,” tambahnya.

Yang penting, peternakan sudah menjalankan proses yang benar.

Saya sudah lama mendengar praktik peternakan seperti ini. Begitulah idenya mengapa enam tahun lalu saya lontarkan ini: perlunya peternakan kolektif.

Tidak ekonomis lagi setiap rumah memelihara satu atau dua ekor sapi. Tapi baru sekarang ini saya melihatnya langsung.

Peternakan model ini banyak sekali di Amerika. Sejak peternak tidak bisa lagi melepaskan sapi di padang praire.

Rel kereta api membelah praire itu. Di sebelah peternakan ini. Lalu manusia ikut menjarah padang praire. Dibuatlah jalan-jalan. Praire terkotak-kotak.

Selesailah era Cowboy.

Untuk memelihara 40.000 ekor sapi ini hanya diperlukan 40 karyawan. Sebagian besar di bagian Cowboy.

Maksudnya: pengantar makanan. Pakai kendaraan. Bukan kuda. Boleh pakai topi Cowboy. Boleh juga seperti David itu: topi nonton bola.

Yang jelas tidak ada yang bawa pistol. Kecuali yang ia simpan di dalam celananya…(dis)

Latest News

Didi Kempot Tak Suka Merayu meski Jago Bikin Lagu Romantis (7)

Salah satu kesedihan terbesar dalam hidup Didi Kempot adalah tak bisa menunggui kelahiran anak pertama karena tak punya ongkos...

Bakat dan Kegigihan sang Maestro Sudah Terlihat di Ngawi (6)

Karakter bersahaja dan pantang menyerah Didi Kempot terasah sejak masa kecilnya di Ngawi. Suaranya bagus dan punya karisma. LATIFUL HABIBI, Ngawi, Jawa Pos — KATA sang kakak, ”Pas kecil...

Karya Didi Kempot: Ditulis Sekarang, Terkenal Puluhan Tahun Kemudian (5)

Manisnya karir tak didapat Didi Kempot begitu saja. Ada perjuangan berat yang dilalui. Kuncinya adalah terus berjalan di jalur yang diyakini. Tak berhenti meski...

Memungut Keteladanan sang Kakak untuk Kejar Impian Kesuksesan (4)

Mamiek Prakoso yang pintar ngomong jadi motivator bagi sang adik yang pendiam, Didi Kempot. Hubungan keduanya dekat, meski Didi sering sungkan minta sangu kepada...

Di Bus Kota Nyanyi Lagu Indonesia, di Bus AKAP Lagu Jawa (3)

Bahkan saat mulai awal mengamen di Solo pun, Didi Kempot sudah membawakan lagu ciptaan sendiri, Cidro salah satunya. Suaranya yang merdu dan karakternya yang...

More Articles Like This

Must Read

Data Utama Alokasi Pupuk Bersubsidi

SEMARANG - Program Kartu Tani merupakan salah satu upaya mereformasi subsidi pupuk dan penyempurnaan data petani. Tranparansi dan akurasi data Kartu Tani sangat penting...

Nostalgia, Ganjar Menginap di Dusun Tertinggi di Magelang

RADARSEMARANG.COM, MAGELANG–Petahana Ganjar Pranowo bernostalgia di Dusun Butuh, Kaliangkrik, Kabupaten Magelang. Ganjar kembali mengunjungi desa tertinggi di Magelang untuk mengenang perjalanan saat mendaki Gunung...

Rancang Uji Coba dan Incar Pemain Tambahan

SEMARANG – Libur kompetisi di tengah persaingan yang masih ketat tampaknya memang harus disikapi dengan baik oleh PSIS dengan harapan di lanjutan kompetisi 6...

Sat Brimob Dituntut Tingkatkan Pelayanan dan Profesionalisme

SEMARANG – Satuan Brigade Mobil (Sat Brimob) Polda Jateng didorong untuk terus meningkatkan profesionalisme dalam bertugas. Selain itu, Satuan Brimob juga harus mampu dalam...

100 Orang Cuci Tangan Bersama

SEMARANG - Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) menyambut Hari Jadi ke 47 dengan menggelar aksi cuci tangan massal di RS Elisabeth, Semarang, Jumat (17/3)....

Buka Konsultasi Kesehatan

Mahasiswa dari Fakultas Ilmu Kesehatan MAsyarakat (FIKES)  Universitas Muhammadiyah Magelang, menyelenggarakan konsultasi kesehatan gratis, utamanya bagi warga lanjut usia. Kegiatan yang dipusatkan di lapangan...