MASIH BERSEMANGAT: Tan Joe Hok (kanan) menunjukkan foto-foto lamanya kepada para pelatih bulu tangkis di Oasis Kudus kemarin. (SAIFUL ANWAR/RADAR KUDUS)
MASIH BERSEMANGAT: Tan Joe Hok (kanan) menunjukkan foto-foto lamanya kepada para pelatih bulu tangkis di Oasis Kudus kemarin. (SAIFUL ANWAR/RADAR KUDUS)

RADARSEMARANG.COM – Tim bulu tangkis Indonesia kerap kesulitan mendominasi peraihan juara di beberapa agenda kejuaraan. PB Djarum sebagai salah satu klub terbesar di Indonesia mengundang Tan Joe Hok, peraih medali All England pertama Tanah Air untuk berbagi pengalaman.

SAIFUL ANWAR, Kudus

USIANYA sudah mencapai 80 tahun. Hal itu tidak lantas menyurutkan semangat Tan Joe Hok datang ke Kudus. Padahal, cara berjalan mantan atlet era 1950-1960-an itu sudah tidak begitu tegap. Ke mana-mana, tangan kanannya senantiasa menggenggam tongkat kayu.

Pria yang bernama Indonesia Hendra Kartanegara itu dengan antusias menceritakan berbagai pengalaman selama menjadi atlet hingga setelahnya. Di main office kompleks Djarum Oasis Kudus, Tan bercerita di depan para pelatih PB Djarum kemarin.

Setidaknya ada 27 orang yang hadir. Di antaranya Lius Pongoh, Haryanto Arbi, Hastomo Arbi, Fung Permadi, Ellen Angelina, hingga para pelatih muda seperti Hayom Rumbaka, Engga Setiawan, dan pelatih lainnya.

Satu hal yang menjadi topik penting tentang evaluasi tim Thomas Indonesia yang gagal meraih medali di Thomas Cup di Thailand pekan lalu. Juga, tentu tim uber yang tak mampu menembus babak semifinal.

Tan memberi motivasi bahwa, meskipun sulit tapi tidak ada yang tidak mungkin. Dia mencontohkan dirinya disebut sebagai orang kampung. Namun, nyatanya bisa meraih prestasi bergengsi.

Dia tercatat menjadi peraih medali emas All England 1959 sekaligus menobatkannya menjadi pebulu tangkis pertama asal Indonesia yang mendapat prestasi di ajang bergengsi itu. Setahun sebelumnya, yakni di ajang Piala Thomas 1958, dia juga peraih juara asal Tanah Air yang pertama.

”Motivasi dari dalam juga penting. Tidak hanya modal fisik dan teknik, mental juga berpengaruh besar. Orang Jepang maju-maju karena punya motivasi dari dalam,” tutur pria kelahiran Bandung, 11 Agustus 1937 itu.

Dengan nada sedikit tinggi, Tan pun bertanya kepada para pelatih yang hadir mengenai apa saja kendala yang dihadapi hingga sulit berbicara banyak di beberapa ajang bergengsi internasional. Tan juga meminta kepada mereka untuk memasang target sekian tahun ke depan harus ada atlet yang muncul dan benar-benar bisa bersaing di level internasional. ”Monitor terus. Target 2020, 2022, atau 2024 harus sudah mencapai mana,” tuturnya.

Setelah kurang lebih satu setengah jam, Tan memperlihatkan foto-fotonya ketika berlaga di berbagai ajang ketika dirinya muda. Selain menjadi putra Tanah Air yang pertama meraih Piala Thomas dan All England, Tan juga pernah meraih medali emas ajang AS Terbuka pada 1959 dan 1960 menyusul Asian Games pada 1962.

Pada 2015 lalu, Tan mendapat gelar kehormatan “Empu Bulu Tangkis” dari Museum Rekor Dunia-Indonesia (Muri). Dia dianggap sebagai peletak fondasi kehebatan Indonesia di cabang olahrang bulu tangkis. Pada 1987 lalu, dia juga menerima The Meritorious Service Award dari BWF untuk prestasi yang sama. (*/ris)