Sudah 3 Tahun, Omset Setengah Miliar

676
BARANG BUKTI: Petugas BNNP Jateng menunjukkan obat kecantikan ilegal yang disita. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BARANG BUKTI: Petugas BNNP Jateng menunjukkan obat kecantikan ilegal yang disita. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM – PRAKTIK pendistribusian dan penjualan obat kecantikan ilegal di Jalan Arteri Soekarno Hatta No 12, Pedurungan Semarang, ternyata  sudah beroperasi sejak tiga tahun lalu atau 2015. “Berdasarkan dokumen yang ditemukan, dan keterangan pemilik, usaha dijalankan sejak 2015 dengan omzet Rp 400 juta sampai Rp 500 juta per bulan,” kata Deputi Penindakan BPOM RI, Henri Siswadi kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Dari pengungkapan ini, pihaknya juga mengamankan puluhan karyawan dari praktik penjualan obat kecantikan ilegal ini, baik di Semarang maupun di Magelang. Selain itu, pihaknya juga telah menetapkan seorang tersangka, yakni pemilik barang tersebut, UA, warga Semarang.

“Ada satu pelaku yang kita jadikan tersangka. Inisialnya UA, warga Semarang. Di sini ada 10 orang (karyawan), di Magelang ada 16 orang,” bebernya.

Henri menjelaskan, melihat dari kemasan obat yang diedarkan, disinyalir barang tersebut diimpor dari luar negeri. Barang bukti yang ditemukan dijual dengan harga beragam.  Ada 1 paket obat kecantikan dengan kemasan kotak kayu yang dijual hingga Rp 8 juta.

“Kalau melihat label dari kemasan ya dari luar negeri. Peredarannya bisa ke seluruh Indonesia, karena melalui online,” terangnya.

Selain mengamankan barang bukti obat kecantikan ilegal, petugas juga menyita tujuh unit handphone dan lima unit komputer yang digunakan untuk transaksi dan administrasi penjualan, serta dokumen dan pencatatan penjualan bisnis ilegal ini.

“Dugaan adanya tempat lain, masih kita telusuri. Di Magelang sebenarnya itu bagian dari sini. Adminnya di Magelang, barang dikirim (disimpan) di sini,” katanya.

Saat ini, pihaknya telah meminta keterangan para saksi. Pemilik barang, UA, juga telah diperiksa secara intensif oleh petugas BPOM. Hal ini dilakukan untuk mengungkap dugaan adanya pelaku lain. “Temuan ini akan ditindak lanjuti BPOM RI dengan proses pro-justitia guna mengungkap aktor intelektualnya,” tegasnya.

Akibat ulahnya itu, tersangka UA diduga melanggar pasal 196 dan 197 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang kesehatan dengan ancaman hukuman penjara paling lama 15 tahun, dan denda paling banyak Rp 1,5 miliar.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, ruko yang digrebek tersebut awalnya berjualan onderdil kecil, dan buka sekitar 2015. Namun, selang beberapa waktu kemudian berganti usaha menjadi paketan ekspedisi.

“Kalau pemilik tokonya Pak Edo, warga asli Kudus, tempat tinggalnya di Magelang, di sini ngontrak. Awal jualan mur baut sama,
tambah lagi terus ganti pengiriman barang,” ungkap Ketua RT 04 RW 01 Pedurungan Tengah, Asmuni.

Pihaknya bersama warga lain juga tidak mengetahui adanya praktik tersebut. Menurutnya, mengetahui tempat tersebut digunakan sebagai gudang penjualan obat ilegal setelah mendapat laporan dari kepolisian. “Tahunya baru kemarin setelah ada laporan dari kepolisian yang mendatangi tempat saya. Disini jadi t empat jualan barang ilegal,” bebernya.

Selain itu, aktivitas yang terlihat di ruko tersebut juga tidak terkesan ramai. Sehingga warga tidak menaruh curiga meskipun terlihat ada keluar masuk kendaraan roda empat di dalam lokasi ruko tersebut.

“Aktivitas tidak terlihat ramai, hanya mobil-mobil kecil boks yang keluar masuk paling  lama jam 19.00 sampai 21.00. Yaitu tadi, tidak curiga, karena itu awalnya bukan kosmetik, awalnya itu toko penjualan mur dan baut. Tulisanya jualan mur baut, terus tiba-tiba berganti paket ekspedisi. Ternyata malah di dalamnya seperti itu,” imbuhnya. (mha)