Ramadan dan Jihad yang Menghidupkan

180
Oleh: Ahmad Tajuddin Arafat
Oleh: Ahmad Tajuddin Arafat

RADARSEMARANG.COM – PARA sejarawan muslim mencatat bahwa puasa Ramadan baru disyariatkan oleh Allah SWT kepada umat Islam pada bulan Sya’ban tahun ke-2 hijrah dengan cara sebagaimana yang dilaksanakan umat Islam hingga saat ini. Nabi saw tercatat sempat menjalankan puasa Ramadan sebanyak 9 kali sebelum beliau wafat. Sejarah Islam menyebutkan bahwa setidaknya ada dua peristiwa besar yang terjadi di bulan Ramadan pada zaman Nabi saw. Peristiwa pertama, pertempuran Badar yang terjadi pada tahun ke-2 hijrah dan itu terjadi pada 8 Ramadan di mana umat Islam saat itu sedang menjalankan puasa satu bulan penuh untuk pertama kalinya.

Abu Dawud dalam riwayatnya menceritakan ketika Nabi saw bersama tiga ratus sekian belas orang meninggalkan Madinah menuju ke Badar, beliau berdoa: “Ya Allah sesungguhnya mereka itu lapar, maka kenyangkanlah mereka, mereka itu tak beralas kaki, maka anugerahilah mereka, mereka itu tidak berpakaian maka berilah mereka pakaian”.

Doa tersebut pada akhirnya dikabulkan oleh Allah SWT dengan hasil kemenangan yang menggembirakan bagi umat Islam. Setidaknya ada empat belas orang dari pasukan kaum Muslimin yang gugur sebagai syuhada, dan sebanyak tujuh puluh orang dari kaum musyrik yang tewas, sedang yang tertawan sebanyak itu juga. Dengan kemenangan tersebut, kaum Muslimin tetap menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusian dan keadaban dengan menguburkan mereka yang tewas dari kaum musyrik dan memperlakukan dengan baik kepada mereka yang tertawan.

Peristiwa kedua yang tak kalah dahsyatnya yang terjadi pada bulan Ramadan adalah penaklukan Kota Mekkah (Fathul Makkah). Awal mula peristiwa ini terjadi adalah disebabkan adanya pelanggaran perjanjian yang dilakukan oleh kaum Musyrik Mekkah terhadap Perjanjian Hudaibiyah. Peristiwa ini terjadi pada 10 Ramadan tahun 8 H. Nabi saw bersama semua kaum Muslimin, tidak ada satu pun yang absen, berangkat menuju Mekkah. Nabi saw bersama rombongan memasuki Kota Mekkah pada hari Jumat, tanggal 20 Ramadan dengan kemenangan damai tanpa pertumpahan darah. Beliau memasuki Kota Mekkah dengan menundukkan kepala hingga nyaris menyentuh pelana unta, pertanda rendah hati dan rasa syukur kepada Allah SWT atas nikmat yang dianugerahkanNya.

Peristiwa agung yang dialami umat Islam pada zaman Nabi saw dan terjadi pada bulan suci Ramadan ini memiliki beberapa hikmah, di antaranya: Pertama, puasa adalah kewajiban diri yang harus dijalankan tanpa adanya keraguan akan kebahagiaan yang akan diperoleh nantinya, meski dalam kondisi berat sekalipun, seperti dalam kondisi berperang. Kedua, peperangan hanya dibenarkan terhadap mereka yang sedang melakukan agresi, sebagaimana puasa adalah peperangan terhadap nafsu kita yang senantiasa melancarkan serangan kepada kita. Ketiga, menahan diri dari ragam ambisi pribadi atau golongan yang dapat menjerumuskan diri pada kerusakan adalah hal yang terpuji, sebagaimana puasa yang makna dasarnya adalah al-imsak (menahan dari) dari ragam keinginan nafsu (segala hal yang merusak puasa). Dan keempat, perang, begitu pula puasa, pada hakikatnya adalah usaha paripurna (jihad) yang dilakukan dalam upaya mewujudkan tatanan kehidupan yang harmoni, damai, dan aman serta bersih dari ragam ambisi nafsu dan kazaliman, sebagaimana wasiat Nabi saw saat itu kepada penduduk Mekkah: “tidak ada lagi hijrah sejak kemenangan ini, yang ada tinggal niat yang tulus (melakukan kebajikan dan kedamaian) disertai jihad (perjuangan mewujudkannya)”.

Walhasil, Ramadan adalah momentum bagi kita untuk menjadikannya sebagai madrasah perjuangan kita dalam mewujudkan kemenangan dengan damai dan tentram. Teringat pesan dari Jamal al-Banna, seorang ulama dari Mesir, yang mengatakan “jihad bukanlah mereka yang berani mati di jalan Allah, tetapi mereka yang berani hidup (dan menghidupi) di jalan Allah. (*)

Dosen Fakultas Ushuluddin dan Humaniora UIN Walisongo dan  Kader PKPM WMC UIN Walisongo Angkatan 21.