Kopi Muria Laris di Kafe

257
MULAI LARIS: Barista di salah satu kafe di Kudus mengolah kopi Muria untuk disuguhkan ke penikmat kopi belum lama ini. (INDAH SUSANTI/RADAR KUDUS)
MULAI LARIS: Barista di salah satu kafe di Kudus mengolah kopi Muria untuk disuguhkan ke penikmat kopi belum lama ini. (INDAH SUSANTI/RADAR KUDUS)

RADARSEMARANG.COM, KUDUS – Dinas Tenaga Kerja Perindustrian Koperasi dan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) Kudus menggencarkan promosi produk kopi Muria. Upaya tersebut sudah dibuktikan dengan menggandeng petani dan membawa produksi kopi ke ajang pameran nasional maupun lokal.

Kepala Dinas Tenaga Kerha Perindustrian Koperasi dan UMKM Bambang TW mengatakan, kopi Muria mampu bersaing dengan kopi lainnya, seperti kopi Aceh, Toraja, dan lain sebagainya. ”Kafe atau tempat nongkrong yang menyajikan kopi di Kduus sekarang ini sudah menggunakan produk kopi Muria. Tanaman kopi jenis robusta tumbuh di dataran tinggi Gunung Muria, tepatnya di Desa Colo, Dawe,” ungkapnya.

Ditambahkan, ada 330 petani kopi di Colo. Tiga di antaranya diolah menjadi kopi siap saji. Bambang mengatakan, dulunya para petani hanya menjual biji kopi, tapi sekarang sudah ada 30-an petani juga mengolah kopi menjadi siap saji.

Untuk memperkenalkan lebih ke masyarakat, rencananya akan menggelar kegiatan tentang kopi Muria, mulai dari penyajiannya sampai baristanya. Dia mengaku, untuk sekarang ini konsepnya baru diolah. ”Brand kopi Muria sudah mulai dikenal tidak hanya di masyarakat Kudus, tapi juga luar kota. Sebenarnya, tidak hanya di Desa Colo, Desa Rahtawu juga ada, tapi kami menyebutnya tetap kopi Muria karena berada jadi satu kabupaten. Hal itu juga untuk mempermudah promosi,” ungkapnya.

Salah satu petani sekaligus pengolah kopi Muria Pranyoto Shofil Fu’ad mengatakan, bagi penggemar kopi pasti bisa membedakan kopi Muria dengan kopi Aceh, Toraja, dan lainnya. Rasa kopi yang berbeda, pertama dari jenis tanah, dan kedua proses awal memasaknya. (san/lil/jpg/ton)