Mengambil Hikmah dari Kesombongan Iblis (2)

328
Oleh: Muhibbin
Oleh: Muhibbin

RADARSEMARANG.COM – KALAU ditelusuri tentang fungsi salat itu sendiri yang seharusnya dapat menjadikan pelakunya  sebagai orang yang jauh dari perbuatan keji dan mungkar, tentu bermakna bahwa orang yang menjalankan salat itu harus dapat memahami dan menghayati  bacaan-bacaan di dalamnya, sehingga akan dapat membekas dalam dirinya. Nah, bagi orang-orang non Arab yang tidak dapat memahami bahasa Arab, untuk mencapai tujuan tersebut, tentunya diperbolehkan untuk menerjemahkannya ke dalam bahasa lokal,  sehingga  akan dapat dimengerti  maksudnya.

Seharusnya  hal tersebut merupakan persoalan biasa yang tidak perlu terlalu diributkan, toh pada zaman dahulu sudah pernah terjadi dan berakhir kepada sebuah kenyataan bahwa hal tersebut merupakan persoalan khilafiah yang dapat diterima di kalangan umat.  Hanya saja karena cara berargumentasi kepada masyarakat dengan disertai kesombongan,  seolah hanya dirinyalah  yang paling benar dan pandai dalam menganalisis persoalan,  maka persoalannya menjadi meluas dan menjadikan umat Islam kemudian menghakimi haram terhadap perbuatan shalat dengan dua bahasa tersebut.  Bahkan karena kesombongan tersebut terus dipertahankan,  akibatnya malah membuat marah dan resah masyarakat, dan berakhir dengan persoalan hokum yang harus diterimanya.

Jadi persoalan utamanya  bukanlah sekedar perbedaan pendapat yang berarti persoalan fiqh, melainkan persoalan sikap sombong.  Kesombogan memang identik dengan sifat iblis, padahal yang berhak untuk sombong hanyalah Tuhan semata.  Islam sangat mencela  perilaku sombong dalam hal apapun.  Bahkan dalam hal berpakaian saja kalau disertai rasa sombong, Tuhan akan mengancamnya dengan  kondisi tidak menyenangkan di akhirat nanti.  Dalam hal ini Nabi Muhammad SAW telah bersabda  ada tiga orang yang di hari kiamat nanti tidak akan diperhatikan oleh Tuhan yakni orang yang memberi tetapi tidak ikhlas dan hanya ingin disebut sebagai dermawan saja,  kedua, orang yang menawarkan  dagangannya dengan sumpah palsu, dan yang ketiga, orang yang berpakaian lebih  dengan sombong.

Memang sombong  dalam hal apapun,  termasuk dalam persoalan harta, ilmu, keahlian, dan lainnya, akan menimbulkan persoalan bagi orang-orang yang ada disekitarnya,   sombong juga akan dapat menjadi sumber perselisihan dan bahkan pertikaian,  dan sombong itu hanya milik Tuhan,  dan siapapun selain Tuhan tidak berhak untuk berlaku dan bersikap somobong, karena kalau itu dilakukan berarti mengikuti langkah iblis yang kemudian diusir oleh Tuhan dari tempat yang menyenangkan ke tempat yang sangat menyedihkan.

Siapapun berhak untuk tidak setuju dan menolak pendapat pihak lain, asalkan didasari oleh sebuah argumentasi yang maton, serta tidak disampaikan secara sombong. Tetapi kalau sesorang menyampaikan pendapat atau gagasan apapun dengan sombong, tentu akan serta merta ditolak, meskipun pikiran dan gagasannya tersebut sesungguhnya cukup baik dan bermanfaat.  Itulah kenyataan yang memang harus disadari bersama  dalam upaya menciptakan suasana yang aman dan damai serta tidak  menimbulkan konflik.

Kita semua menyadari bahwa sifat dasar manusia itu sesungguhnya  baik,  dan bahkan dikatakan sebagai fitrah atau suci dari segala pengaruh jelek dari luar.  Tetapi memang lingkungan akan membentuk dan mempengaruhi perkembangan dan pertumbuhan, dalam hal pikran dan  sikap perilaku.  Kalau sesorang tumbuh ditengah-tengah orang yang perilakunya kasar dan tidak terkontrol, sangat boleh jadi seseorang tersebut juga akan terpegaruh dengan perilaku tersebut.  Demikian juga sebaliknya, kalau ia kemudian berada di tengah-tengah umat yang berperilaku baik, sopan, dan tertib, maka ia juga akan terbiasa dengan perilaku seperti itu.

Jadi sombong sesungguhnya bukan sifat dasar manusia, melainkan sifat dasar yang dimilki oleh iblis. Untuk itu seharusnya umat manusia  menjauhkan diri dari sifat tersebut kalau memang berkeinginan untuk tidak terseret dan larut dalam buaian nada-nada setan dan iblis.

Ramadlan yang sedang kita jalani ini diharapkan akan mampu menjadikan diri kita  santun dan menahan emosi serta kesombongan, sehingga kita memang dapat mengubah diri kita menjadi muttaqin sejati sebagaimana yang kita harapkan. Semoga Tuhan memberikan kekuatan kepada kita untuk menjalani puasa ini dengan baik dan mampu menjadikan diri sebagai hamba yang taqwa serta dapat menghindari godaan iblis sebagaimana tersebut. Amin. (*/habis)

Rektor Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang