Belajarlah dari Bumi Pertiwi

125
Oleh: Siti Nurul Hidayah S.Pd
Oleh: Siti Nurul Hidayah S.Pd

RADARSEMARANG.COM – DUNIA selalu berubah. Kehidupan yang dulu primitif, kini berubah modern. Nilai-nilai kehidupan pun berubah, seiring perubahan zaman dan peradaban. Yang dulu hanya mementingkan diri sendiri, sekarang mulai berpikiran kritis, mengesampaikan hal-hal yang bersifat pribadi. Ini pula yang memengaruhi kondisi negeri ini. Perubahan besar-besaran terjadi. Lebih tepatnya, terjadi reformasi.

Reformasi sendiri, hakikatnya, membuat perubahan ke arah yang lebih baik. Lantas, apakah setelah reformasi, negeri ini bisa berubah menjadi lebih baik? Jika kita pernah berpikiran seperti itu, maka kita termasuk orang yang berpikiran kritis.

Indonesia merupakan negara kepulauan. Setiap pulau memiliki kekhasan dan keunikan masing-masing. Negeri ini juga memiliki kualitas teknologi yang memadahi. Namun, sadarkah kita bahwa semua kelebihan yang negeri ini miliki, bisa berdampak baik atau buruk?

Maraknya narkoba, korupsi, pedofil, pembajakan, serta distraksi lainnya, merupakan bukti pelik yang musti ditangani bersama. Sebagai generasi negeri ini, seharusnya kita menghindari beberapa kasus tersebut, agar hakikat reformasi bisa kita rasakan sampai kelak. Tapi, inilah kelemahan manusia. Ya, musuh bebuyutan kita adalah nafsu. Seperti halnya Bumi Pertiwi yang selalu menyediakan apapun yang kita butuhkan; apakah kita sudah menyediakan segala sesuatu yang Bumi Pertiwi butuhkan?

Kelebihan negeri ini, bisa kita lihat mulai dari sumber daya alamnya yang tak habis-habis karena nafsu kita yang selalu ingin mengurasnya. Ini berdampak buruk bagi kita semua. Lantas, apa kata Bumi Pertiwi mengenai sikap kita yang tamak? Walau negeri kita tak bisa bicara, tapi dia bicara melalui bahasa isyarat dan tentu melalui perantara Tuhan. Kita bisa lihat, jika kita dengan tamak menebang pohon tanpa pilih-pilih, maka Bumi Pertiwi akan melimpahkan kemarahannya melalui banjir.

Dan, kita bisa lihat reklamasi pantai yang berlebihan, membuat Bumi Pertiwi memberikan pelajaran kepada kita terjadinya abrasi. Kita bisa lihat, berapa banyak karbondioksida yang keluar dari motor kita, tapi Bumi Pertiwi setia untuk menjaga kadar oksigen yang bahkan diberikan kepada kita secara cuma-cuma.

Bumi Pertiwi tak pernah melanggar janjinya dari Tuhan untuk senantiasa menjaga kita. Dia senantiasa bersujud di bawah Tuhan, dengan cara melakukan apa yang sudah Tuhan berikan untuknya. Tapi, apakah usaha kita selama ini mampu untuk membuat Bumi Pertiwi yang sudah banyak berkorban kepada kita menjadi sebuah reformasi yang baik? Bukalah pikiran kita masing-masing. Kita bisa menengok keluar rumah; apakah sanggup kita sebagai Bumi Pertiwi yang mau menghitung setiap karbondioksida dan menggantinya menjadi oksigen. Belajarlah seperti Bumi Pertiwi. Walau merasa disakiti berkali-kali, tubuhnya selalu menjadi tameng bagi kita. Berterima kasihlah kepada Tuhan, karena sudah menciptakan Bumi Pertiwi dengan sesempurna dan memiliki sifat seindah itu. Sudahkan kita mengucap syukur kepada Tuhan hari ini?

Dengan penjelasan tadi, kita seharusnya mampu menyadari bahwa banyak sekali pengorbanan yang sudah Bumi Pertiwi berikan. Apa yang kita dapatkan dari mempelajari Bumi Pertiwi? Sangat banyak. Bahkan, tak akan sanggup dituliskan melalui kata-kata. Maka, detik ini, mulailah berpikir seperti Bumi Pertiwi yang tidak mementingkan diri sendiri dan menyadari kebutuhan orang lain.

Mulailah memberi kebaikan, walau akhirnya hanya dibalas dengan kejahatan. Dan, selalu menuruti apa perintah Tuhan, juga menjauhi larangan-Nya. Semoga artikel ini bisa mengubah sudut pandang pemikiran kita. Yang sebelumnya ingin mencuri, korupsi, atau apapun itu, menjadi sadar bahwa Bumi Pertiwi banyak mengorbankan haknya demi kita semua. Semoga. (*/isk)

Guru SMK Negeri 1 Salam Magelang