Oleh: Muhibbin
Oleh: Muhibbin

RADARSEMARANG.COM – Secara guyonan terkadang ada yang menyatakan bahwa ketauhidan para makhluk Tuhan yang paling benar ialah ketauhidan iblis, karena keyakinannya yang begitu kuat untuk tidak sujud menyembah selain Allah. Bahkan ketika diperintah Allah sendiri untuk sujud kepada nabi Adam, ia tidak mau dan membangkang, padahal seluruh malaikat menurut saja apa yang diperintahkan oleh Allah.

Ia merasa bahwa tidak patut dirinya bersujud kepada Adam yang diciptakan Tuhan dari tanah, sementara ia diciptakan dari api. Api dianggapnya lebih mulia ketimbang tanah. Kesombongan dan keengganannya tersebut kemudan menjadikannya diusir dari tempat yang menyenangkan  dan dilaknat oleh Tuhan hingga hari pembalasan. Iblis menerima hukuman dari Tuhan untuk keluar dari kediaman semula, namun iblis juga meminta kepada Tuhan untuk dipanjangkan umurnya hingga hari kiamat serta meminta ijin kepada Tuhan untuk menggoda dan menyesatkan  umat manusia.

Itulah sedikit kisah tenang iblis yang membangkang perintah Tuhan untuk sujud kepada Adam.  Barangkali kalau dipahami bahwa makna sujud tersebut ialah benar-benar sujud dan menyembah, maka sikap iblis tersebut memang benar, karena yang berhak untuk disujudi dan disembah ialah hanya Allah semata. Namun kalau yang dimaksudkan dengan sujud tersebut hanyalah semacam hormat, maka sikap para malaikat tersebut yang dapat dibenarkan. Tetapi kalau dilihat dari cerita tersebut kiranya pemaknaan yang kedualah yang  mendekati kepada kebenaran.  Artinya, kalau makna sujud tersebut berkonotasi menyembah, tentu tidak akan diperintahkan sendiri oleh Allah, karena hanya Allahlah yang berhak untuk disembah, sementara yang lainnya bahkan harus menyembah-Nya.

Kisah selanjutnya berupa pengusiran iblis dari surga karena ternyata iblis yang membangkang tidak mau sujud atau hormat kepada Adam. Ini menunjukkan bahwa perintah Allah tersebut serius dan bukan hanya sekedar menguji kekokohan iman dan tauhid para makhluk-Nya. Karena, makna sesungguhnya kata sujud tersebut bukanlah menyembah, tetapi hanya sekadar menghormati.

Berdasarkan kisah tersebut, ada dua kesalahan yang dibuat oleh iblis ketika diperintahkan oleh Tuhan untuk bersujud atau hormat kepada Adam, yakni kesalahan karena membangkang dan tidak mau mengikuti perintah Tuhan, dan kesalahan yang kedua ialah kesombongan yang diperlihatkan,  dengan mengatakan bahwa ia lebih mulia ketimbang makhluk ciptaan Tuhan, yakni Adam, karena ia diciptakan dari  api, sementara Adam diciptakan dari tanah.

Terkadang kita dapat menjumpai sesuatu yang sesungguhnya dapat dibenarkan, tetapi kalau kemudian dipertahankan dengan kesombongan, maka banyak yang kemudian menjadi sesuatu yang sangat dibenci dan bahkan beralih menjadi sesuatu yang tidak dapat dibenarkan.  Ketika dahulu ada orang yang melakukan salat dengan dua bahasa, yakni bahasa Arab dan bahasa Indonesia, terjadilah heboh di masyarakat dan akhirnya keluar fatwa MUI yang menyatakan bahwa salat yang demikian hukumnya tidak sah, dan bahkan pelakunya  akhirnya harus meringkuk di dalam penjara.

Kalau hal tersebut didekati dengan pikiran rasional akan tampak sangat janggal. Kenapa? Ya, persoalan tersebut  sesungguhnya merupakan persoalan fiqh yang secara umum mempunyai hukum lima sesuai dengan sesuatu yang melatar belakanginya. Sejak dulu, pernah terjadi dan memang menjadi perbedaan para ulama.  Di antara mereka ada yang tidak memperbolehkan, tetapi ada juga yang memperbolehkannya, terutama bagi mereka yang tidak  bisa menguasai bahasa Arab.

Bahkan kalau ditelusuri tentang fungsi salat itu sendiri yang seharusnya dapat menjadikan pelakunya  sebagai orang yang jauh dari perbuatan keji dan mungkar, tentu bermakna bahwa orang yang menjalankan salat itu harus dapat memahami dan menghayati  bacaan-bacaan di dalamnya, sehingga akan dapat membekas dalam dirinya. Nah, bagi orang-orang non Arab yang tidak dapat memahami bahasa Arab, untuk mencapai tujuan tersebut, tentunya diperbolehkan untuk menerjemahkannya ke dalam bahasa lokal,  sehingga  akan dapat dimengerti  maksudnya. (*/bersambung)

Rektor Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang