Ki Narto Sabdo Bersolek, Parkir Progresif Batal

272
PERBAIKAN GEDUNG : Sejumlah pekerja sedang mengecat gedung Ki Narto Sabdo kawasan Taman Budaya Raden Saleh, Kota Semarang, Selasa (29/5) kemarin. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
PERBAIKAN GEDUNG : Sejumlah pekerja sedang mengecat gedung Ki Narto Sabdo kawasan Taman Budaya Raden Saleh, Kota Semarang, Selasa (29/5) kemarin. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG–Gedung Kesenian Ki Narto Sabdo di kompleks Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang dipercantik. Sejumlah perawatan dilakukan pada gedung yang biasa dipakai untuk pementasan wayang orang Ngesti Pandowo ini.

Beberapa pekerja terlihat mengecat bagian depan gedung dengan menggunakan perancah bambu. Rencananya, pengecatan juga dilakukan di seluruh bagian gedung untuk membuat gedung tampak lebih bersih.

”Rencananya kalau memungkinkan akan dilakukan di dalam dan di luar. Perawatan pengecatan saja. Tidak untuk persiapan acara khusus,” jelas Kristanto, kepala UPTD Taman Budaya Raden Saleh Semarang.

Perawatan ini merupakan perawatan rutin tiap tahun. Dijelaskan olehnya, perawatan memang dilakukan secara bergantian pada tiap gedung. ”Ini kebetulan yang Ki Narto Sabdo, tahun kemarin untuk yang gedung pertemuan atau resepsi,” ujarnya.

Paling lama, ia tambahkan, perawatan membutuhkan waktu sekitar satu bulan. Selama proses perawatan, gedung tetap digunakan seperti biasa. Perawatan dinilai tidak mengganggu aktivitas di gedung kesenian ini, sebab seringkali gedung ini digunakan pada malam hari. ”Kalau siang jarang digunakan. Jadi perawatan ini kami rasa tidak megganggu aktivitas di sini. Tetap digunakan,” katanya.

Sementara itu, rencana penerapan sistem parkir progresif di Taman Budaya Raden Saleh diurungkan. Portal yang sebelumnya dipasang di gerbang masuk TBRS, kini sudah dibongkar.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang Masdiana Safitri mengatakan, rencana ini telah menuai pro dan kontra. Sehingga, portal tersebut dibongkar setelah melakukan urun rembuk bersama pengelola TBRS dan para komunitas seni yang mendiami TBRS. “Kami tidak jadi menerapkan tarif parkir di TBRS setelah mendapat masukan plus dan minus dari masyarakat,” ujar Masdiana. (sga/ida)