GRAFIS: DEKA/JAWA POS RADAR SEMARANG
GRAFIS: DEKA/JAWA POS RADAR SEMARANG

RADARSEMARANG.COM, UNGARAN – Warga Desa Kelurahan, Kecamatan Tuntang, bisa lolos dari maut setelah terjebak di ‘pulau’ enceng gondok di danau Rawapening selama 10 jam. Nelayan bernama Ahmadun, 55, tersebut sebelumnya sempat dinyatakan hilang di danau Rawapening, Minggu (27/5) malam.

Ahmadun sendiri ditemukan oleh regu penyelamat dari BPBD Kabupaten Semarang setelah 10 jam pencarian. Kepala BPBD Kabupaten Semarang, Heru Subroto mengungkapkan diketahui hilangnya Ahmadun saat pihak keluarga meminta bantuan regu penyelamat untuk melakukan pencarian.“Awalnya informasi dari keluarga ia hilang sejak Minggu malam,” kata Heru, Senin (28/5).

Mengetahui informasi tersebut, regu penyelamat melakukan penyisiran dari jembatan biru, dermaga sumurup, desa Asinan.“Kami menerima informasi pukul 18.45, dan langsung kami kondisikan regu penyelamat,” katanya.

Ahmadun diketahui pergi mencari ikan ke danau Rawapening pada Minggu pukul 07.00. Namun hingga menjelang waktu berbuka puasa, yang bersangkutan tidak kunjung pulang. Hal tersebut sontak membuat khawatir keluarganya yang ada di rumah. Keluarga menunggu hingga pukul 18.00, namun Ahmadun tetap belum menampakkan batang hidungnya.

Keluarga akhirnya melaporkan kejadian ini ke warga lainnya. Dibantu warga lain, mereka melakukan pencarian ke tengah Rawapening. Pencarian menggunakan perahu kecil. Karena belum juga menemukan Ahmadun, akhirnya warga setempat melaporkan hal itu ke BPBD Kabupaten Semarang.“Karena keterbatasan alat, sekitar 18.45 warga meneruskan informasi ke kepolisian dan Tim SAR. Oleh Tim SAR dilanjutkan assesment ke lokasi,” ujarnya.

Sekitar setengah jam kemudian, regu penyelamat yang terdiri dari SAR Buser, BPBD, Baguna, IOF, RAPI, Banser tiba di dermaga jembatan biru Sumurup. Mereka akhirnya ikut menyusul tim pencari dari warga dan nelayan setempat.

Sekitar pukul 21.30 WIB sebelum regu penyelamat mencapai titik pencarian, tim mendapatkan informasi bahwa Ahmadun sudah bisa diselamatkan oleh nelayan dalam kondisi selamat.

Ahmadun ditemukan di tengah Rawapening terjebak di pulau enceng gondok. Perahu yang ia tumpangi tidak bisa bergerak karena tersangkut akar enceng gondok. Proses penyelamatan pun juga mengalami kendala karena adanya pulau enceng gondok. “Karena bekerjasama akhirnya bisa diselamatkan,” katanya.

Ahmadun terjebak di tengah pulau enceng gondok sejak pukul 10.00 hingga 20.00. dikatakan Heru, insiden nelayan terjebak pulau enceng gondok tersebut bukan kali pertama.

Sebelumnya, saat berlangsung acara puncak Hari Air sedunia (HAD) ke-26 yang dipusatkan di Bukit Cinta, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang, Sabtu (7/4), puluhan perahu pejabat terjebak di tengah eceng gondok.

Akibatnya, acara sempat molor beberapa jam. Saat itu, Dirjen SDA Kementerian PUPR Imam Santoso beserta rombongan bertolak dari Dermaga Sumurup, Kecamatan Bawen pukul 07.00. Mereka menumpangi 22 perahu, termasuk di dalamnya dua perahu yang diperuntukkan para pewarta.

Selanjutnya, rombongan menebar benih ikan dan pemasangan patok sebagai batas danau Rawapening secara simbolis. Namun, saat akan keluar dari tengah danau, perahu yang ditumpangi para pejabat terhambat ‘pulau’ eceng gondok.

Regu penyelamat terpaksa mengevakuasi para penumpang dan membiarkan perahu yang terjebak tetap berada di lokasi. (ewb/bas)