Oleh: Mohamad Sobirin
Oleh: Mohamad Sobirin

RADARSEMARANG.COM – KETIKA Jibril berkata kepada Muhammad 15 abad silam di sebuah gua di puncak gunung di Makkah, “Bacalah!”, jelas kita tahu dia tidak punya buku untuk dibaca, lalu apa yang dia baca? Apa yang diinginkan malaikat untuk dia baca? Sesungguhnya Jibril tidak berbicara tentang kitab fisik, dia hendak berbicara tentang diri Muhammad, masyarakat, dan dunia. Wahyu ini menginspirasi Muhammad untuk menentang kerabat dan kabilah, memotivasi orang lain guna mengikutinya, membentuk masyarakat baru dan menjadikan masyarakat itu sebagai pusat gerakannya di Madinah dan Makkah.

Ia (Alquran) memiliki prototipe langit, ummul kitab, secara tekstual artinya kitab induk, yang merupakan rekaman utuh Kalam Tuhan. Oleh karenanya, ia tidak seperti kitab-kitab lain. Ia di atas waktu dan melampui sejarah, ia tidak tersentuh oleh perubahan temporal. Umat Islam yang menjadi audiens utamanya hidup di era yang berbeda-beda, sehingga penghargaan terhadap Kitab Langit ini pun tampil dalam bentuk yang berbeda-beda. Penghormatan mereka terhadap Alquran tidak sekedar dengan melantunkan kitab ini dari juz 1 hingga juz 30 dalam sebulan khatam seperti saat bulan Ramadan, namun juga membacanya dan menafsirkannya.

Penafsiran sendiri tidak lah sama dengan pembacaan. Itulah kenapa tidak semua Muslim (mampu) menafsirkan Alquran, namun hampir semua muslim membaca Alquran. Pembacaan mereka terhadap Alquran ini adakalanya menempatkan Alquran sebagai otoritas ritual, sebagai panduan sehari-hari, sebagai motif artistik, atau bahkan sebagai “mantra” dan “jimat”. Sebagian Muslim juga menghafal kitab yang mulia itu dari mulut ke mulut, menghormati tradisi yang menghargai oralitas atau kualitas lisan sebagai fondasi kebenaran. Bahkan bagi mereka yang belum hafal 6.000 lebih ayatnya, kata-katanya menjadi irama hidupnya sehari-hari. Bagi seorang Muslim yang tidak mengenal bahasa Arab atau tidak pernah mempelajari bahasa Arab Alquran, menghormati kitab itu, dapat mengenali ketika orang lain melantunkannya, dan mungkin menyimpan mushaf-nya di rak buku, dan rekaman “bunyi-bunyinya” di gadget untuk didengarkan sembari beraktifitas atau menikmati sebuah perjalanan.

Kitab Tanda itu, selain dibaca sedemikian hidup (living) oleh umat Islam, juga dibaca untuk visi kemanusiaan dan kebangsaan. Ia adalah Muhammad, namun bukan Muhammad sang penerima wahyu Alquran. Nama lengkapnya adalah WD Muhammad, seorang pemimpian Muslim Afrika-Amerika. Sejak 1960-an ia telah membimbing masyarakatnya ke Islam arus utama dan Amerika arus utama. Ia membantah bahwa Alquran memberikan medan tempur bagi perang apokaliptik. Baginya Alquran memang memerintahkan jihad, namun bukan jihad sebagai perang total. Ia adalah jihad sebagai perang abadi antara kebaikan dan kejahatan. Dia menghargai dunia yang damai, tempat jihad sejati adalah perjuangan mewujudkan keadilan, bukan konflik bersenjata yang dimotivasi oleh kebencian atau ditampilkan sebagai teror.

Seperti Nabi Muhammad yang membangun harapannya dari jejak-jejak Alquran di atas, Imam Muhammad menampilkan kepada kita sebuah “pembacaan” penting atas Kitab Tanda di Abad Milenial ini, yang mestinya juga bisa kita praktikkan di tengah kehidupan berbangsa dan bernegara di bumi pertiwi yang multikultur ini. Di tengah momentum Ramadlan ini, bulan dimana Kalam Petunjuk itu memerintahkan Nabi Muhammad beserta segenap umat manusia untuk “membaca”, mari kita galakkan upaya-upaya “membaca” Alquran secara hidup dalam bilik-bilik kehidupan kita sehari-hari untuk membangun kebangsaan dan kemanusiaan bangsa Indonesia. Wallahu ‘alam. (*)

Dosen Ilmu Alquran dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Humaniora UIN Walisongo