Rumah Dinas Lurah-Camat di Kota Semarang Nganggur

Ada yang Jadi Gudang, Dihuni Mahasiswa KKN

476
TAK DIHUNI: Lurah Bulu Lor Irawan Parlindungan di teras rumah dinasnya yang tidak ditempati. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TAK DIHUNI: Lurah Bulu Lor Irawan Parlindungan di teras rumah dinasnya yang tidak ditempati. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM – Banyak rumah dinas (rumdin) lurah dan camat di Kota Semarang yang dibangun menggunakan APBD Kota Semarang dan rutin mendapatkan biaya perawatan, kini kondisinya nganggur alias tidak ditempati. Padahal keberadaan rumdin ini untuk mendekatkan lurah atau camat dengan warganya.

DI Kota Semarang ada 177 kelurahan dan 16 kecamatan. Masing-masing lurah dan camat diberikan jatah rumah dinas di wilayah tugasnya, yakni di setiap kecamatan dan kelurahan setempat. Ironisnya, fasilitas rumah dinas itu justru mangkrak alias tidak ditempati.

Rumah dinas Lurah Purwoyoso, Kecamatan Ngaliyan misalnya. Sudah sekitar satu tahun ini tidak ditempati. Kondisinya memang tidak layak huni. Pasalnya, renovasinya masih setengah jadi dan tidak diselesaikan.

Lurah Purwoyoso, Suprapto, menjelaskan, sebelum rumah dinasnya direnovasi, dia selalu menempatinya. Bahkan sampai saat ini, kasur pribadinya masih ditinggal di sana. “Kalau disuruh memilih tinggal di rumah pribadi atau rumah dinas, saya pilih tinggal di rumah dinas. Kan sudah disiapkan untuk ditempati. Sejak dulu, saya selalu menempati rumah dinas. Pas jadi lurah di Poloman Mijen, dan Kalicari dulu, saya tempati kok,” jelasnya.

Diakui, menempati rumah dinas perlu modal. Sebab, pemerintah hanya menyediakan ruangannya saja. Perabotannya diisi sendiri oleh lurah yang menempati. “Lurah kota beda sama kabupaten. Isi rumah mulai kasur, mesin cuci, kompor, lemari, semua bawa sendiri,” bebernya.

Hanya di Kelurahan Purwoyoso ini, dia terpaksa tidak bisa menempati rumah dinas. Praktis, setiap hari, dia harus bolak-balik dari kediamannya di bilangan Sawah Besar, Gayamsari. Meski jaraknya terbilang cukup jauh, Suprapto tetap totalitas melayani warga Purwoyoso.

Dia bercerita, pernah ada warga yang butuh pelayanan sekitar pukul 22.00. “Saya yang datang ke Purwoyoso. Malah warga Purwoyoso saya larang untuk datang ke rumah Sawah Besar. Kalau butuh apa-apa, tinggal telepon saja, nanti saya yang datang,” tegasnya.

Totalitas pelayanan itu yang membuatnya berharap rumah dinasnya cepet direnovasi dan bisa ditempati lagi. “Saya sendiri tidak tahu mengapa tidak diselesaikan. Padahal sudah setahun lebih direnovasi,” jelasnya. Meski tidak ditempati sebagai rumah dinas, tapi tidak mangkrak. Ruangan tersebut tetap dimanfaatkan untuk kegiatan Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM).

Rumah dinas Lurah Mangkang Wetan, Tugu, juga tak ditempati. Bangunan ini hanya ditinggali jika ada mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) di kelurahan setempat. Padahal sebenarnya rumdin Lurah Mangkang Wetan cukup megah.  Bangunan warna merah itu terletak di ujung kampung pinggiran sawah.

“Itu kosong tidak ada orangnya, tidak ditempati. Kadang yang menempati ya boro. Pekerja tani dari luar daerah yang sedang menggarap sawah di daerah sini,” ungkap warga setempat yang enggan ditulis namanya.

Ketua RT setempat, Hadi, menjelaskan, sejak Lurah Yono diganti Ahmad Munif, rumdin sudah tidak ditempati. Termasuk saat lurah dijabat Sugiarti sekarang ini. “Kalau dulu ditempati Pak Yono, karena beliau dari luar kota, di sini ditempati sama keluarganya,” katanya.

Rumdin Lurah Trimulyo, Kecamatan Genuk juga kosong. Kondisi bangunan sangat memprihatinkan. Halaman rumdin tergenang rob.

Lurah Trimulyo, Diah Winarni, mengaku tidak menempati rumah dinas karena kondisinya sangat memprihatinkan.”Rumdin itu sebenarnya termasuk bangunan baru. Baru dua tahun lalu dibangun. Sebenarnya ada keinginan menempati, tapi karena sering rob dan banjir, ya tidak ditempati,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang kemarin.

Ia menjabat Lurah Trimulyo sejak awal Januari 2017. Meskipun tidak menempati rumdin,  ia selalu siap jika sewaktu-waktu ada warga yang membutuhkan dirinya.  “Sekarang kan sudah ada HP. Jadi komunikasi lebih mudah.  Sehingga kalau terjadi apa-apa tinggal telepon atau WA (WhatsApp). Rumah saya juga tidak jauh kok, masih di wilayah Genuk, tepatnya di Perum Korpri Bangetayu,” ungkapnnya.

Rumah dinas Lurah Bulu Lor, Semarang Utara, juga sudah lama tidak ditempati. Selama ini, rumdin di Jalan Erowati Raya itu hanya digunakan untuk istirahat sementara.  Sedangkan Lurah Bulu Lor Irawan Parlindungan tetap pulang ke rumah pribadinya di Perumahan Bukit Manyaran Permai.

Saat ini, rumah dinas tersebut digunakan untuk gudang menyimpan Alat Peraga Kampanye (APK).“Mendekati pilkada ini, digunakan untuk menyimpan APK. Karena tidak ada tempat lagi untuk menyimpan,” akunya.

Irawan menambahkan, meski rumah dinas tidak ditempati sepenuhnya, namun perawatan tetap dilakukan setiap hari. “Setiap hari selalu dibersihkan. Karena terkadang rumah ini digunakan untuk istirahat,” paparnya.

Camat Semarang Utara Aniceto Magno da Silva mengatakan, di wilayah Kecamatan Semarang Utara terdapat sembilan kelurahan. Namun yang memiliki rumah dinas hanya dua kelurahan, yakni Kelurahan Bulu Lor dan Panggung Lor. Sayangnya, dua rumah dinas tidak digunakan oleh lurah setempat. (amh/mha/hid/aro)