Membangun Tradisi Bisnis Syariah

301
Oleh: Elysa Najachah
Oleh: Elysa Najachah

RADARSEMARANG.COM – BULAN penuh berkah kembali menyapa kita. Kebahagiaan menyambutnya dan mengisi momentum bulan puasa telah kita persiapkan sebaik mungkin. Hal itu mendorong peningkatan pelbagai aktivitas yang seakan menyatu dengan bulan suci Ramadan. Peningkatan aktivitas ibadah, bisnis, silahturrahmi, sedekah, dan lain sebagainya. Idealnya, peningkatan pelbagai aktivitas tersebut hendaknya sebagai batu loncatan dalam peningkatan kualitas diri baik hubungan manusia dengan Allah maupun hubungan dengan sesama manusia.

Bulan Ramadan mempunyai daya pikat tersendiri bagi para pengusaha, baik pengusaha yang mulai tergelitik berbisnis saat bulan Ramadan maupun pengusaha yang sudah bercengkerama di dunia bisnis sejak lama. Sebagai sorotan, aktivitas bisnis di bulan Ramadan telah banyak menggoda bukan hanya kaum muslim namun juga non muslim untuk bergelut di dunia bisnis pada bulan Ramadan.

Beragam bisnis menghiasi indahnya bulan Ramadan, seperti bisnis makanan, minuman, pakaian, wisata religi, dan lain sebagainya. Di hampir sepanjang jalan, terdapat banyak penjual yang menawarkan kemudahan dalam menyiapkan menu berbuka puasa. Tak hanya itu, menjamurnya tempat ngabuburit yang menawarkan berbagai kesenangan agar para penikmatnya seakan lupa dengan rasa lapar yang membayanginya. Namun, gaya bisnis yang hanya berorientasi pada pengerukan keuntungan sebesar-besarnya di bulan Ramadan ini sebaiknya kita cermati secara bijak.

Dalam memaknai secara sempurna bulan Ramadan, diperlukan perilaku bisnis yang mencerminkan nilai-nilai keislaman. Bisnis syariah merupakan perwujudan dari ketaatan manusia pada Allah dalam hal bermuamalah. Bisnis syariah juga diyakini terbebas dari benalu perilaku bisnis yang menyebabkan perpecahan dan konflik. Karakter dari bisnis syariah tak lepas dari nilai-nilai ketauhidan, keadilan, kehendak bebas, dan pertanggungjawaban.

Dalam surat An-nisa ayat 39 telah dijelaskan dengan tegas bahwa kita dilarang untuk berbisnis dengan cara yang bathil, hingga akhirnya merugikan diri sendiri atapun orang lain. Seni berbisnis syariah juga bisa sebagai solusi dalam meruntuhkan dinding-dinding kebathilan pada dunia bisnis seperti manipulasi harga dan lain sebagainya yang akhirnya menyengsarakan sebagian manusia yang lain.

Bisnis syariah dapat dimulai dari pembersihan aktivitas bisnis dari segala bentuk riba, maisir, gharar, dan segala penyimpangan lainnya. Selanjutnya, perubahan mindset bahwa bisnis harus menghasilkan keuntungan sebesar-besarnya perlu dikoreksi kembali. Bisnis syariah mengedepankan pada nilai-nilai kebaikan yang menghasilkan keuntungan yang sebenarnya. Lingkungan yang baik, hubungan antar manusia yang damai dengan penuh kasih sayang, ikhtiar yang baik dengan melibatkan kreatifitas berbisnis, serta kepasrahan kepada Allah bahwa segala apa yang dimiliki baik modal, produk, dan lain sebagainya adalah titipan Allah merupakan keuntungan berbisnis syariah. Hal inilah yang menimbulkan kedamaian baik dalam diri pembisnis maupun konsumen serta lingkungan sekitarnya.

Model bisnis syariah inilah yang nantinya akan menempatkan kita sebagai manusia yang benar-benar beruntung baik di dunia maupun di akhirat.  Krisis spiritualitas dalam berbisnis dapat diatasi dengan penerapan aktivitas bisnis berdasarkan prinsip syariah. Tak hanya itu, perlu dihayati bahwa sebenarnya bisnis syariah dapat sebagai stimulus dan pengontrol kehidupan yang penuh kedamaian dan ketentraman. Bisnis syariah lebih mengutamakan pada unsur keberkahan. Sangat disayangkan, jika bisnis yang dijalankan hanya berkiblat pada laba/keuntungan semata. Padahal sebenarnya keuntungan itu hanya kenikmatan yang sementara.

Rutinitas bisnis yang jauh dari nilai-nilai syariah hendaknya mulai dijauhi dan digantikan dengan bisnis yang membawa kedamaian ini. Alangkah indahnya jika bisnis yang kita jalankan penuh dengan keberkahan. Bisnis syariah akan memberikan berbagai keberkahan, baik dalam hubungan antar manusia, keuntungan yang berkah, dan pastinya kebahagiaan serta kedamaian yang tak ternilai harganya. (*)

Pengajar pada Ponpes Darul Falah Besongo Semarang