INOVATIF: Misbahudin Alhanif, Ari Purnomo, dan Ummi Az Zuhra bersama dosen pembimbing Prof Dr Andri Cahyo Kumoro ST MT. (ISTIMEWA)
INOVATIF: Misbahudin Alhanif, Ari Purnomo, dan Ummi Az Zuhra bersama dosen pembimbing Prof Dr Andri Cahyo Kumoro ST MT. (ISTIMEWA)

RADARSEMARANG.COM – Tiga mahasiswa Teknik Kimia Universitas Diponegoro (Undip) berhasil mengembangkan Mer-C atau Membrane Separation & Catalyst dari limbah serbuk marmer.  Mer-C ini untuk produksi biodiesel pengganti bahan bakar jenis solar yang ramah lingkungan. Seperti apa?

AFIATI TSALITSATI

TIGA mahasiswa kreatif itu adalah Misbahudin Alhanif, Ari Purnomo, dan Ummi Az Zuhra. Di bawah bimbingan dosen Prof Dr Andri Cahyo Kumoro ST MT, ketiganya berinovasi menciptakan bahan bakar alternatif pengganti solar yakni biodiesel yang masih terbatas penggunaannya. Hal tersebut dikarenakan dalam produksi biodiesel tidak digunakan proses yang sederhana, dan tidak memerlukan konsumsi energi yang tinggi. Hal ini menyebabkan harga biodiesel 2 kali lebih mahal dibandingkan solar.

“Berdasarkan pertimbangan proses produksi, konsumsi energi dan harga jual biodiesel yang tinggi, maka dikembangkan metode sederhana pembuatan dan pemurnian biodiesel dengan memanfaatkan bahan baku minyak jelantah (minyak sisa penggorengan) menggunakan membran yang berasal dari limbah serbuk marmer. Membran adalah lapisan tipis yang biasanya digunakan dalam pemurnian air,” jelas Ketua Tim PKM Mer-C Misbahudin Alhanif kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Berbeda dari penelitian sebelumnya, lanjut Misbahudin, produksi biodiesel dengan menggunakan membran limbah serbuk marmer ini dapat dilakukan secara kontinyu dan simultan. Hal ini akan meningkatkan jumlah biodiesel yang dapat diproduksi hingga diperoleh biodiesel dengan harga yang murah.

Selain itu, lanjut dia, proses pembuatan biodiesel dengan menggunakan teknologi membran sangat sederhana, yakni dengan memanaskan campuran minyak jelantah dan metanol disertai penyaringan selama proses berlangsung hingga diperoleh biodiesel. Sehingga sebenarnya masyarakat dapat menghasilkannya sendiri di rumah dengan memanaskan minyak jelantah dan alkohol (metanol) dengan menggunakan membran Mer-C ini.

“Pada penelitian ini, limbah serbuk marmer yang digunakan berasal dari industri pengrajin marmer di Kabupaten Tulungagung,” tuturnya.

Kandungan CaO yang tinggi sekitar 60 persen dari limbah serbuk marmer menjadi potensi yang besar untuk dijadikan katalis basa dalam pembuatan membran. Selain itu, bahan baku pembuatan biodiesel juga berasal dari minyak jelantah yang selama ini hanya menjadi limbah yang sulit ditangani.

Inovasi yang telah mendapatlan dana hibah penelitian Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) bidang Penelitian dari Kemenristekdikti tahun 2018 ini diharapkan menjawab permasalahan produksi biodiesel sebagai bahan bakar pengganti solar yang ramah lingkungan. Sehingga biodiesel dapat diproduksi dengan metode yang sederhana.

“Konsumsi energi biodiesel juga rendah dan memiliki harga jual yang mampu bersaing dengan bahan bakar fosil, serta memanfaatkan lebih lanjut limbah serbuk marmer dan minyak jelantah yang masih minim pemanfaatannya,” katanya. (*/aro)