TURUN TEMURUN : Ali sedang memasak Bubur India untuk dibagikan para jamaah yang hadi di Masjid Pekojan Semarang. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TURUN TEMURUN : Ali sedang memasak Bubur India untuk dibagikan para jamaah yang hadi di Masjid Pekojan Semarang. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM – AKTIVITAS di Masjid Jami Pekojan, tepatnya di Petolongan nomor 1, Purwodinatan, Semarang Tengah, sudah mulai ramai ketika waktu menujukkan pukul 13.00 siang. Ya sejumlah pengurus masjid sibuk mempersiapkan menu takjil khas yakni Bubur India, yang selalu dibagikan kepada masyarakat selama Ramadan.

Wangi rempah langsung merebak, ketika Ali Baharun yang merupakan genersi keempat pembuat bubur India mulai memasak. Sedangkan beberapa orang di antaranya turut sibuk mengupas dan memotong berbagai bahan seperti krecek, wortel dan telur. Beberapa di antaranya sibuk menata mangkuk warna-warni yang disiapkan untuk jamaah yang akan berbuka puasa di masjid tersebut. “Kalau resepnya sudah ada sejak tahun 1800. Cara memasaknya pun dijaga agar cita rasanya tidak pudar, saya diajari turun-temurun dari orang tua,” kata pria berusia 60 tahun ini.

Masjid yang kerap disebut Masjid Pekojan ini memang selalu menarik minat masyarakat, bahkan pelancong untuk berbuka atau sekedar mampir. Ali menjelaskan, ada beberapa rahasia agar bubur India tersebut punya cita rasa yang khas, salah satunya harus dimasak menggunakan kuali tembaga dan menggunakan kayu bakar. “Jadi harus pakai tembaga agar kuat dan pakai kayu bakar agar matangnya bagus. Dulu pernah coba pakai elpiji, namun tidak jadi,” ucapnya.

Bubur dimasak selepas salat dhuhur. Yang membuat masakan khas adalah adanya bahan rempah seperti jahe, serai, kayu manis, garam, santan, dan daun salam. Sedangkan kuah dan lauknya berbeda setiap hari, tergantung donatur yang membeli. “Kadang kuah dan lauk beda, tapi cita rasanya masih ada dari Bubur India. Setelah matang, biasanya pas waktu ashar, setelah itu dituang ke mangkuk, ataupun diberikan ke warga yang sengaja datang,” tandasnya.

Setidaknya pihaknya memasak 15 sampai 18 kilogram bubur dalam sehari untuk disajikan. Semua bahan berasal dari donatur, kokinya pun sukarela, dan beberapa warga datang membantu dan menyajikan. “Ya Alhamdulillah mencukupi. Kalau ada yang tidak kebagian maaf, kami mampunya segitu,” tandas Ali.

Ali menerangkan, Bubur India sebenarnya bukan khas India. Nama tersebut hanya sebutan orang Jawa untuk bubur yang sudah ada sejak 100 tahun lebih. Singkatnya dahulu pedagang dari Gujarat, India, dan Pakistan datang dan menetap di Petolongan. Kemudian dibuatlah Masjid untuk beribadah para pedagang yang datang.

Para musafir sering berbuka di masjid yang dibangun para pedagang itu. Saat bulan Ramadan, banyak pedagang yang membawa bubur sendiri dan lama-lama terbentuk kebiasaan berbuka dengan bubur. Saat itu, takmir masjid bekerjasama dengan pedagang untuk menghidangkan bubur untuk berbuka puasa. “Sejak saat itulah, tradisi Bubur India terbentuk. Bubur India itu sebutan saja, tidak ada yang khas dari India,” katanya.

Ali menjelaskan dirinya akan berusaha menjaga tradisi turun menurun di bulan Ramadan sampai kini. Ya, walaupun ia tidak lagi di dekat masjid, namun Ali rela bolak-balik dari daerah Pucang Gading untuk menjaga tradisi itu. “Saya pasti akan menurunkan kemampuan membuat bubur kepada siapa saja yang mau meneruskan tradisi ini,” tutup Ali. (den/ida)