Oleh : Usfiyatul Marfuah *)
Oleh : Usfiyatul Marfuah *)

RADARSEMARANG.COM – TAKMIR Masjid di kampung-kampung menjadi sibuk dan semarak di bulan Ramadan seperti ini, termasuk di kampung saya. Namun bedanya, Ramadan kali ini agak riuh ramai, ada juga yang sampai mengeluh, bahkan berujung pada protes kepada takmir masjid.

Hal ini bermula di hari kedua puasa, saat salat Jumat. Khutbah Jumat menjadi akar dari kasak-kusuk orang kampung. Pasalnya, takmir masjid menjadwal orang baru dalam khotbah salat Jumat sekaligus penceramah pengajian berbuka puasa. Orang baru yang ditunjuk takmir masjid ini bukan dari kalangan kiai pada umumnya. Ia merupakan menantu dari takmir masjid sebelumnya yang baru pindah dari salah satu kota besar.

Keluhan warga kampung terkait isi ceramah dan cara penyampaian ustadz baru tersebut. Biasanya, orang-orang kampung menikmati ceramah agama dari penceramah lulusan pesantren yang menyampaikan dengan rujukan beberapa kitab kuning berbahasa Arab. Ceramah juga disampaikan dengan nada yang santun dan halus. Tentang bab keutamaan berdzikir kepada Allah WT, pahala orang-orang yang bersabar dan beriman, dan hal-hal pedoman hidup dalam menghadapi perubahan zaman yang lain.

Protes yang dilakukan warga kepada takmir masjid merupakan bentuk dari kesadaran seleksi secara alami yang telah dimiliki masyarakat dengan menjadi muslim aktif yang sangat sadar akan masalah-masalah yang dihadapi agama yang dicintainya. Mereka menyadari kebutuhan batin atas keagamaan didapatkan dari orang-orang sebagaimana yang telah diidealkan.

Bagi masyarakat, penceramah yang baik ialah yang mengerti urusan agama. Setidak-tidaknya penceramah berasal dari kalangan santri. Seorang penceramah diyakini sebagai perantara Tuhan YME dalam menyampaikan kebenaran, dan Tuhan tidak mungkin marah-marah dalam menasehati umat-Nya.

Hal ini semacam tata karma yang harus dimiliki seorang penceramah, selain memastikan apa yang disampaikan hanyalah kebenaran, penceramah sebagaimana yang dikatakan Alquran, seyogyanya menyampaikan dengan bahasa yang lembut (qaulan layyinan), perkataan yang mulia (qaulan kariima), perkataan yang baik (qaulan ma’ruufa) yang dapat diterima oleh nilai-nilai yang berlaku di masyarakat, serta menggunakan perkataan yang mudah dimengerti (qaulan maysuura). Banyak orang berpendidikan yang sadar akan kebebasan menyampaikan pendapat, meski demikian hal ini belum cukup dijadikan alasan orang-orang untuk melakukan ceramah kepada orang lain. Layaknya, hanya seorang dokter yang telah mendapatkan izin praktik yang boleh melakukan tindakan medis seperti menyuntik.

Hanya seorang guru yang mendapatkan sertifikasi mengajar yang boleh mengajar murid. Hanya seorang psikolog yang bisa melakukan terapi psikologis. Begitu pula dengan persoalan ceramah keagamaan, hanya seorang yang ahli dalam hal keagamaan saja yang diperkenankan melakukannya. Bahkan Nabi pun pernah bersabda: “Barangsiapa yang menyerahkan suatu urusan tidak kepada ahlinya, maka tunggulah waktu kehancurannya”. Orang yang tidak mengerti dan tidak pernah mempelajari suatu hal, bagaimana dapat mengerti dan menguasai perihal tersebut.

Apa yang telah diupayakan oleh Kementerian Agama dalam melakukan inventarisasi nama penceramah keagamaan merupakan salah satu langkah yang patut mendapatkan apresiasi. Melakukan kritik atas keputusan ini tentu saja sah, nyatanya masih banyak yang perlu diperbaiki, tapi bukan mempertentangkan. Hal ini tidak berarti membatasi masyarakat kebebasan dalam berpendapat. Justru, dalam rangka menyelamatkan masyarakat secara luas dari tindakan mal praktik. Para penceramah yang masuk dalam daftar tersebut telah teruji dan tersertifikasi oleh masyarakat, pemerintah sebetulnya hanya mengesahkan saja.

Hadits “Ballighu ‘anni walau aayatan”, sampaikanlah kepadaku meskipun satu ayat, tidak bisa dipahami secara leterleg bahwasannya setiap orang dapat menyampaikan ceramah agama. Antara menyampaikan kebenaran dengan menyampaikan cermah agama sangatlah berbeda. Menyampaikan ceramah keagamaan mengharuskan disampaikan oleh orang yang telah ahli, sedangkan orang yang tidak ahli tidak memiliki otoritas. Menyampaikan kebenaran bisa dilakukan siapa saja, kapan saja, dengan cara baik apa saja, tidak harus melalui ceramah keagamaan. (*)

*) Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Walisongo.