Oleh : Ratna Agustina *)
Oleh : Ratna Agustina *)

RADARSEMARANG.COM – BELAJAR di dalam kelas terkadang membosankan, apalagi untuk pelajaran bahasa Inggris yang bagi kebanyakan siswa masih dianggap sulit. Guru dituntut untuk mampu menciptakan suasana pembelajaran yang menarik dan menyenangkan. Berdasarkan pengalaman, konsep pembelajaran di luar kelas rupa-rupanya sangat disukai oleh siswa.

Saat ini banyak konsep pembelajaran yang diarahkan untuk mendekatkan peserta didik dengan lingkungan sekitar. Salah satunya yang dikenal dengan nama sekolah alam. Ini berarti bahwa belajar tidak lagi terbatas pada ruangan yang dibatasi dinding dengan meja dan kursi di dalamnya. Konsep yang menarik ini pun bisa dan sudah seharusnya diterapkan dalam pembelajaran di sekolah. Sejalan dengan hal tersebut, konsep sekolah adiwiyata menjadi salah satu faktor pendorong bagi guru untuk lebih memaksimalkan lingkungan sekolah dalam kegiatan pembelajaran.

Berkaitan pula dengan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK), kini para guru juga diminta untuk menyisipkan pendidikan karakter dalam proses penyampaian materi. Kita semua tahu bahwa pendidikan tidak menjanjikan hasil yang instant, namun lebih kepada sebuah investasi masa depan. Terlebih lagi pendidikan karakter yang merupakan hasil dari pembiasaan yang dilakukan secara berulang-ulang dan berkesinambungan seumur hidup.

Pada waktu itu, sekolah baru saja menyelesaikan pembuatan tempat cuci tangan yang ditempatkan di beberapa penjuru sekolah. Dengan baskom yang terbuat dari gerabah tempat cuci tangan itu cukup menarik perhatian. Selain itu ada empat ekor burung parkit berwarna-warni yang ditempatkan dalam satu sangkar besar. Belasan pasang tempat sampah baru juga tampak di lingkungan sekolah. Ketiga objek tersebut menggelitik penulis untuk mengikutsertakannya dalam kegiatan belajar mengajar. Penulis mengambil  salah satu materi pembelajaran bahasa Inggris SMP kelas 8 yaitu Notice and Short Message.

Penulis meminta murid-murid untuk keluar kelas. Secara berpasangan mereka diminta untuk memilih satu dari ketiga benda tersebut dan berimajinasi seolah-olah mereka adalah benda itu. Mereka diminta untuk berfikir, kira-kira pesan apa yang akan mereka katakan kepada orang yang akan mereka temui setiap harinya.

Memicu daya imajinasi anak untuk berkreasi adalah salah satu tujuan dari kegiatan ini. Seperti diketahui pada usia belasan anak masih terus mengasah dan mengembangkan kreativitasnnya. Mereka dengan antusias mulai mencermati, menyelidik bahkan memegang benda yang menjadi pilihan mereka. Kemudian mereka berdiskusi, mencari ide, memilih kata dan menyusunnya dalam sebuah pesan  pendek. Beberapa dari mereka  juga tak segan-segan menanyakan kosakata dalam bahasa Inggris kepada penulis atau mencarinya dalam kamus. Dalam waktu yang relatif singkat, pesan-pesan mereka sudah tersusun bahkan ada yang sempat menambahkan gambar ilustrasi. Pesan mereka berisi harapan, larangan atau ajakan dari personifikasi benda-benda tersebut.

Kegiatan sederhana ini dimaksudkan juga untuk menanamkan rasa kepedulian dan empati anak terhadap lingkungan. Dengan menggunakan kata-kata seperti I, me dan my, anak-anak diajak untuk menempatkan diri mereka sebagai pihak lain. Mereka diminta untuk keluar dan menggali rasa di luar diri mereka, seperti dalam pepatah yang mengatakan putting yourselves in someone else’s shoes (menempatkan diri sendiri pada posisi orang lain). Ini berarti sebuah proses pembelajaran yang melibatkan logika dan rasa.

Penulis berharap ada sentilan dalam diri para murid akan sebuah kepedulian dan empati tehadap lingkungan sekitar mereka, dimulai dengan benda, tanaman, binatang, dan tentu saja bermuara pada sesama. Tentu saja terbersit harapan agar para murid bisa mengubah paradigma bahwa pelajaran bahasa Inggris itu sebenar-benarnya menyenangkan dan bermakna. Semoga! (igi2/ida)

*) Guru Bahasa Inggris SMP Negeri 2 Salatiga