Pertanyaan :

Assalamualaikum pak kiai Dr Ahmad Izzuddin M.Ag yang saya hormati, saya ingin bertanya, sudah menjadi tradisi di daerah saya ketika hendak memakamkan mayit, selalu ada kiai yang berkata, “apakah si mayat ini orang baik?”. Pertanyaan tersebut diulang-ulang sampai beberapa kali. Setelah itu barulah diberangkatkan menuju pemakaman. Yang ingin saya tanyakan, apakah ada dalil yang mengatakan demikian? Apalagi yang meninggal bukanlah orang yang benar-benar baik. Terima kasih, Wassalamualaikum Wr. Wb.

Rozi, 085713175xxx di Semarang

Jawaban :

Waalaikumussalam Warahmatullah, Bapak Rozi di Semarang yang saya hormati. Terima kasih atas pertanyaannya. Memang seringkali kita temukan di desa-desa maupun di perkotaan, sebelum pemberangkatan jenazah dilakukan upacara isyhad (persaksian jenazah) oleh pemuka agama setempat seperti pada pertanyaan bapak Ulil di atas, apa yang dilakukan oleh pemuka agama atau kiai tersebut semata-mata adalah sebagai wakil dari keluarga terhadap para pelayat.

Mengenai hal ini, ulama melakukan upacara isyhad yang di atas adalah dengan dasar dalil hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari.  Hadis tersebut berbunyi, “Nabi SAW, bersabda: “setiap muslim yang disaksikan sebagai orang baik  oleh empat orang, maka Allah akan memasukkannya ke surga”. Para sahabat pun kemudian bertanya, Bagaimana kalau disaksikan tiga orang? Nabi menjawab, “Juga masuk surga”. Kalau disaksikan 2 orang? Nabi menjawab, “Juga masuk surga”. Kami tidak menanyakan lagi bagaimana kalau disaksikan hanya oleh satu orang (HR. Bukhari).

Dan memang dianjurkan bagi setiap orang yang menghadiri jenazah untuk berprasangka baik terhadap mayit, baik ia mengetahui riwayat hidupnya atau tidak. Bahkan ketika orang itu adalah orang yang dikenal baik atau buruk sekalipun. Karena hakikatnya, tidak ada yang mengetahui baik dan buruknya seseorang kecuali hanyalah Allah SWT.

Imam Al-Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin mengatakan, diantara etika terhadap jenazah adalah berperasangka baik kepada mayit. Meskipun secara kasat mata kita mayit tergolong orang-orang yang jauh dari apa yang diharapkan (fasiq). Sebab pada hakikatnya tidak ada satupun yang mampu mengetahui baik dan buruk akhir riwayat seseorang kecuali hanya Allah yang maha mengetahui.

Oleh karena itu, perlu ditekankan kembali bahwa manusia memang tidak mampu sedikitpun memvonis husnul khotimah atau suul khotimahnya seorang mayit. Akan lebih baik bagi kita untuk terus mawas diri, bermuhasabah dan memperbaiki diri sendiri serta mendoakan kepada para pendahulu kita agar dapat dikumpulkan bersama-sama di surga. Adapun bagi mereka yang belum kembali ke jalan Allah yang lurus, marilah kita senantiasa mendoakan mereka agar segera  mendapatkan petunjuk. Amin. Sekian jawaban dari saya, Wallahu A’lam. Semoga ada manfaatnya dan barokah. (*/zal)