Oleh : Ninik Pujiastuti SPd
Oleh : Ninik Pujiastuti SPd

RADARSEMARANG.COM – PEMBELAJARAN Bahasa Jawa di sekolah bertujuan  untuk meningkatkan keterampilan siswa dalam berkomunikasi secara  lisan atau tulisan yang cocok dengan etika dan budaya Jawa.  Dalam Kurikulum 2013, siswa harus menguasai  kompetensi pengetahuan dan kompetensi  keterampilan. Salah satu dari keterampilan yang harus dikuasai siswa adalah keterampilan berbicara. Keterampilan berbicara merupakan keterampilan kebahasaan yang sangat penting. Melalui keterampilan berbicaralah  kita memenuhi kebutuhan untuk berkomunikasi dengan masyarakat tempat kita berada. Kelancaran dalam berbicara harus dilatih karena salah satu cara untuk mengutarakan ide, gagasan kepada orang lain.

Tetapi dalam kenyataan pembelajaran di kelas masih banyak siswa yang belum dapat berbicara dengan baik hal tersebut dibuktikan dengan masih banyak kata-kata yang kurang sesuai penggunaannya. Banyak siswa yangbelum dapat mengembangkan topik bahasan agar dapat berbicara dengan runtut atau lancar, bahkan tidak dapat mengeluarkan pendapat secara lisan. Banyaknya kendala dalam proses pembelajaran disebabkan dari sisi psikologi siswa sendiri mereka kurang percaya diri  atas kemampuannya mereka, merasa canggung dan takut bila berhadapan dengan orang banyak, adanya rasa malu untuk tampil berbicara ,

Terdapat banyak penyebab siswa tidak dapat berbicara dengan baik. Pertama,  karena mereka tidak terbiasa menggunakan bahasa Jawa di rumah . Sekarang ini banyak dari keluarga-keluarga muda memperkenalkan puta-putri mereka bahasa Indonesia bahkan bahasa Inggris, bukannya bahasa ibu mereka yaitu bahasa Jawa . Kedua,  di berbagai situasi yang mereka dengar, lihat dan baca selalu menggunakan bahasa Indonesia, penggunaanBahasa Jawa pada media sosial langka digunakan. Ketiga, mungkin karena mereka berasal dari luar Jawa sehingga tidak dapat berbicara dengan baik.

Hal-hal tersebut sangat mengganggu perkembangankemampuan siswa dalam belajar berbicara. Sehingga munculnya rasa grogi dan rasa malu serta ketidakpercayaan diri karena dilihat oleh teman-temannya atau dinilai oleh gurunya dalam berbicara. Maka guru haruslah bisa memilih stategi yang tepat untuk bisa meminimalisasi hambatan-hambatan yang ada dan membiasakan siswa untuk berbicara dengan menggunakan Bahasa Jawa. Salah satu strategi atau metode pembelajaran yang bisa digunakan adalah dengan menggunakan ‘Accidental Speaker’.

Accidental speaker atau pembicara dadakan adalah  salah satu strategi untuk membiasakan siswa tampil  berbicara, mengelaborasi pokok cerita dan membiasakan untuk siap berbicara dalam situasi akademis.  Siswa dibiasakan untuk dapat tampil berbicara di depan kelas secara tiba-tiba dengan tema pembicaraan menurut selera dari siswa,walaupun dengan durasi waktu hanya 5 menit.  Strategi ini digunakan sejalan dengan adanya gerakan literasi di sekolah  untuk menumbuhkan budi pekerti luhur, pengetahuan dengan membaca, karena dengan pemahaman dan wawasan kita akan bertambah, kemampuan dan pola pikir lebih mendalam dan terarah. Dengan membaca maka  akan membuat kemampuan menulis dan berbicara menjadi terasah. Dari hal tersebut maka untuk mensukseskan gerakan literasi disekolah maka penulis menggunakan strategi  accidental speaker’

Sebelum kegiatan berlangsung guru sudah memberikan informasi kepada anak-anak untuk dapat menyiapkan diri  menentukan tema bahan yang akan digunakan untuk maju bercerita selama lima menit minggu berikutnya. Siswa harus mulai berlatih dirumah,sehingga pada gilirannya mereka nanti akan dapat melaksanakan dengan baik.  Tema yang diberikan dapat bebas ataupun ditentukan oleh guru. Siswa boleh bercerita apa yang di lihat mungkin berita di TV, membaca koran atau majalah, menonton sinetron, dll sesuia dengan tema yang diberikan. Hal ini dimaksudkan agar mereka lebih fokus dalam berbicara. Beberapa tema yang dapat diberikan sepert teman, keluarga, cita-cita, hobi, dan lain-lain.

Langkah–langkah kegiatan ini, pertama guru memilih siswa secara acak. Hal ini dilakukan untuk melihat kesiapan siswa dalam melaksanakan tugas. Siswa yang terpilih memiliki waktu 5 menit untuk bercerita di depan kelas, di hadapan teman dan guru. Pada pertama kali siswa maju, tentu masih banyak kekurangan, baik pilihan kata, sikap yang masih grogi, masih malu-malu. Pada pertemuan berikutnya,siswa akan lebih siap dan lebih bertanggungjawab untuk mempersiapkan diri. Isi dari yang dibicarakan akan lebih baik. Penampilan lebih menarik, karena mereka cenderung lebih siap dan lebih tenang sehingga  dapat menyelesaikan tugasnya dengan baik.

Di minggu-minggu selanjutnya siswa yang lain diharapkan dapat berbicara lancar, tenang, percaya diri, bahkan sudah mulai berekspresi  dan menampilan berbicara yang menarik sudah tidak grogi atau malu saat mereka berbicara.  Accidental speaker bersifat fleksibel dalam artiandapat digunakan untuk melatih siswa berbicara lancer atau penguasaan materi pembelajaran untuk mata pelajaran  yang lainnya misalkan bahasa Indonesia atau bahasa Inggris, PKn, IPS, IPA dan lain-lain.(tj3/2/aro)

Guru SMP Negeri 40 Semarang