Usut Penjualan Aset PT Wei Ling

431

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Setelah lima tahun tidak ada perkembangan, kini kasus sengketa aset PT Wei Ling, sebuah perusahaan daur ulang plastik, kembali bergulir. Penyidik mulai memeriksa salah satu advokat Semarang berinisial BSW.

Salah satu Direktur PT Wei Ling, Bambang Lianggono, menyebutkan, kasus bermula saat dirinya mendirikan perusahaan dengan konsep PMA (penanaman modal asing), yang diberi nama PT Wei Ling. Perusahaan tersebut didirikan 2004 lalu bersama warga negara China. Berdiri di kawasan Industri Tugu Wijaya Kusuma, Semarang. Perjalanannya, perusahaan tersebut dijalankan oleh orang China.

Penanam modalnya, terdiri dari 75 persen dipegang Xujun (direktur utama), 20 persen Chen Youeling (mantan direktur utama, sekarang sebagai pemegang saham), 5 persen Darajadi, selaku Komisaris, dan 2 persen dirinya sebagai Direktur. Kemudian, di audit oleh bea cukai, karena dijalankan orang China, karena tidak bisa mempertanggungjawabkan, Chen Youeling lari dan membawa berkasnya, akibatnya perusahaan disegel, kemudian karena dirinya warga Indonesia, diminta membuat pernyataan bahwa direktur utama melarikan diri dan harus mempertanggungjawabkan problem diperusahaan itu.

Dari permasalahan itu, perusahaan menyepakati pada tahun 2007 dilakukan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), yang intinya memutuskan Chen Youeling dipecat sebagai direktur utama,  sehingga statusnya hanya pemegang saham. Lambat laun, baru terungkap, Chen Youeling kerjasama dengan oknum BPN, sehingga sertifikat kedua bisa keluar atas PT Wei Ling. Sertifikat baru tersebut, dibawa diam-diam oleh Chen, untuk menjual sebagaian asset perusahaan.

“Pas proses penjualan sertifikat kedua dan sebagian aset PT Wei Ling, diduga ada peran oknum advokat BSW. Dia diduga turut memalsukan data-data, untuk penjualan sertifikat kedua (sertifikat baru),” kata Bambang Lianggono.

Padahal untuk menjual aset aset pabrik lebih dari 50 persen, menurut AD/ART yang disesuaikan Undang-Undang (UU) nomor 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, harus melalui RUPS. Namun Billy dan Chen Youeling diam-diam diduga memalsukan untuk membuat akte perubahan nomor 42, dengan tujuannya untuk menghilangkan legalitas investor lokal, agar Chen yang merupakan warga negara China bisa menjual.

Diduga akte 42 yang baru terbit, terkait perubahan susunan pengurus PT Wei Ling, dibuat agar bisa tujuannya dasar AD/ART dalam menjual aset PT Wei Ling. Ia mengatakan, yang melakukan penjualan adalah PPAT Semarang, Astuti Amirin. PPAT melakukan penjualan,  dengan alasan berkas dan prosedur sudah lengkap, maka sebagian aset PT Wei Ling sudah dibeli PT Mega Surya Putra.

“Kasus ini sudah 5 tahun di kepolisian, tersangka belum ada,  tapi saya malah pernah dikriminalisasi 2 kali. Padahal akte yang asli terjadi dalam RUPS, akte nomor 2, akte perubahan nomor 6, kembali dilakukan perubahan akte nomor 48. Terakhir perubahan akte nomor 59,”sebutnya.

Sementara itu, kuasa hukum Hermansyah Bakri menyatakan, hanya menuntut keadilan bagi kliennya. Pihaknya berharap penyidik bisa membongkar perkara kliennya dan segera mentersangkakan siapa-siapa yang terlibat dalam penjualan asset PT Wei Ling. Ia menilai penjualan aset tersebut penuh rekayasa, karena tidak ada RUPS dan notaris yang mendampingi. (jks/zal)