JAGA PERDAMAIAN : Puluhan umat lintas agama membaur dalam acara sahur bersama di Pastoral Johannes Maria, Unika Soehijapranata, Jalan Pawiyatan Luhur, Jumat (25/5) dini hari tadi. (AFIATI TSALITSATI / JAWA POS RADAR SEMARANG)
JAGA PERDAMAIAN : Puluhan umat lintas agama membaur dalam acara sahur bersama di Pastoral Johannes Maria, Unika Soehijapranata, Jalan Pawiyatan Luhur, Jumat (25/5) dini hari tadi. (AFIATI TSALITSATI / JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Kegembiraan bulan Ramadan 1439 H ternyata tak hanya dirasakan oleh umat muslim saja. Seperti di Kota Semarang, kelompok umat lintas iman pun menyambut datangnya bulan penuh rahmat ini dengan sukacita.

Hal ini dirasakan saat umat lintas iman mulai dari umat Islam, Katholik, Kristen Hindu, Budha, Khonghucu hingga penghayat membaur dalam acara sahur bersama di Pastoral Johannes Maria, Unika Soehijapranata, Jalan Pawiyatan Luhur, Jumat (25/5) dini hari.

Kegiatan sahur bersama ini juga terlaksana untuk menyambut kedatangan Shinta Nuriyah, istri mendiang Presiden ke 4 RI KH Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur.

Dalam kesempatan tersebut, Shinta, sapaan akrabnya menyampaikan keresahannya melihat kondisi anak bangsa yang mulai suka menebar kebohongan melalui media massa. Hal ini merujuk pada tragedi bom bunuh diri yang terjadi di sejumlah daerah.

“Bahkan keji lagi ada bom bunuh diri yang diledakan di mana-mana. Ini ada apa dengan Indonesia. Padahal kita bisa hidup rukun. Tapi kenapa bisa terjadi hal ini,” ujar Shinta didampingi Kepala Reksa Pastoral Unika, Romo Aloys Budi Purnomo.

Tragedi semacam itu, lanjut Shinta, tak ubahnya mencerminkan perilaku rakyat Indonesia yang sudah kehilangan Hati nurani dan kepercayaannya pada agama masing-masing. Perilaku tersebut, muncul akibat tergerus dengan keadaan.

“Ini semacam ikatan persaudaraan yang dibangun oleh mendiang Gus Dur mulai longgar. Benang-benang perdamaian mulai tercabut dari akarnya. Jika sampai terjadi (tercabut) maka Indonesia jadi terpecah belah,” katanya.

Shinta pun mengajak semua generasi muda untuk menyatukan sikap dan membangun kembali perdamaian. Perdamaian ini akan muncul bila rasa kearifan yang ada pada tiap individu dapat diperkuat.

“Kearifan lokal kita tumbuhkan lagi demi menghadapi teror bom seperti itu. Serta juga harus menahan berita-berita yang tidak baik. Yang menjurus pada kemunafikan harus dihilangkan demi menjaga kerukunan antar umat beragama dan memajukan generasi muda Bangsa Indonesia,” pungkasnya. (tsa/zal)