Oleh: M Rikza Chamami
Oleh: M Rikza Chamami

RADARSEMARANG.COM – SUASANA pasca rentetan aksi terorisme menjelang datangnya bulan Ramadan membuat kegelisahan. Sambutan kehadiran bulan mulia, yang harusnya penuh dengan keramahan dan kedamaian berubah mencemaskan. Oleh sebab itu, memasuki bulan Ramadan ini perlu usaha untuk menjadikan Ramadan sebagai perisai kedamaian.

Di manapun orang hidup pasti sangat menanti kedamaian. Dan itu akan terwujud jika ada perdamaian warganya. Kedamaian lahir dari suasana hidup yang nyaman, adem, tentrem dan penuh rasa persaudaraan. Sementara perdamaian merupakan ikrar berbagai pihak yang berbeda untuk menjadi satu hidup rukun dan damai.

Sebagai bulan haram—Ramadan hadir sebagai jawaban nyata diharamkannya peperangan. Artinya segala bentuk konflik harus diredam dan dihentikan selama bulan suci. Persoalannya adalah setelah selesai Ramadan itu konflik kembali lahir karena emosi dan egoisme. Atau kemungkinan karena tidak ada keharaman perang selain Ramadan?

Sebuah pesan dari Rasulullah Muhammad Saw kepada Wabishah bin Ma’bad Al Aswadi yang diulang-ulang tiga kali—perlu kita renungkan bersama. Nabi bersabda: “Mintalah fatwa pada dirimu, mintalah fatwa pada hatimu. Kebaikan adalah sesuatu yang membuat jiwa tenang dan membuat hati tenang. Dosa adalah sesuatu yang terasa tidak karuan dalam jiwa dan terasa bimbang dalam dada”.

Ramadan sangat tepat dijadikan tempat untuk meminta fatwa dan menyemai kebaikan. Fatwa yang paling pokok adalah fatwa menghapuskan peperangan demi melahirkan perdamaian abadi. Jika perdamaian bersemai di seluruh penjuru dunia, maka rasa aman dan nyaman itu selamanya ada.

Adanya benih permusuhan dan peperangan yang selalu dikait-kaitkan dengan jihad agama sudah menjadi salah kaprah. Pokok persoalannya adalah memahami hakikat ibadah berupa jihad yang keliru. Di mana posisi ibadah itu menjadi keliru?

Pertama, terlalu cinta pada ibadah dengan melupakan cinta pada manusia. Dan kedua, terlalu cinta pada ibadah dengan menabrak aturan-aturan kemanusiaan. Padahal hakikat ibadah disertai mahabbah (rasa penuh cinta) tidak menghapus rasa cinta kemanusiaan. Ibadah secara hakiki, yakni dengan tekun menyembah atau mengabdi karena Allah dengan tetap menebar perdamaian di dunia.

Inilah bahayanya orang yang beragama hanya memegang ideologi—tanpa disertai ilmu pengetahuan agama yang bagus. Beragama butuh ilmu agama yang universal (kaffah). Sebab intisari dari beragama adalah bertuhan. Dan Allah sudah banyak memberikan ajaran perdamaian untuk dunia dalam bentuk kasih sayang, rahmatan lil ‘alamin.

Sinyalemen yang disampaikan Nabi Muhammad Saw: “Akan datang suatu masa kepada manusia, yang pada masa itu orang-orang dikatakan: betapa cerdiknya, betapa pintarnya dan betapa kuatnya. Akan tetapi dalam hatinya tidak ada tempat segelintir iman” (HR. Imam Bukhori).

Jangan sampai kita menjadi umat Islam yang dikhawatirkan oleh Nabi Muhammad tersebut. Hadirnya Ramadan perlu disambut sebagai bulan untuk mengisi ibadah, memperbanyak ilmu pengetahuan dan menyebar perdamaian sejati di seluruh dunia. (*)

Dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Walisongo