Membayar Hutang Puasa

144

Pertanyaan :

Assalamu’alaikum Warahmatullah Pak kiai yang saya hormati, saya ingin bertanya mengenai masalah qadla’ puasa. Sebelum ayah saya meninggal dunia, beliau berpesan kalau masih punya hutang puasa. Bagaimana cara agar saya dapat mengqadla’ puasa ayah saya?  Terimakasih atas penjelasannya.

Sholihan 085727326xxx di Tlogosari

Jawaban

Wa’alaikuumussalam Warahmatullah Wabarokatuh, Bapak Sholihan yang dimuliakan Allah. Sudah menjadi kewajiban bagi seorang anak untuk berbakti kepada orang tua. Saya sangat menghargai niat baik bapak, semoga ayahanda Bapak Sholihan mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah subhanahu wa ta’ala. Amin

Pada dasarnya, ketika orang tua mempunyai  hutang puasa dan ia masih hidup, maka ia sendiri yang wajib mengqadlanya selama masih mampu. Akan tetapi jika ia sudah meniggal dunia dan belum mengqadla puasanya, maka hutang puasa orang tua ini harus dibayar oleh anaknya atau keluarga dekatnya yang lain. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda, (yang artinya) ”Barang siapa yang meninggal dunia dalam kondisi memiliki hutang puasa, maka wali (keluarga dekatnya) berpuasa untuknya”. (HR. Bukhari Muslim).

Hadis lain memperkuat hadis di atas. Suatu saat ketika Nabi SAW ditanya oleh seseorang, “Ya Rasulullah, Ibuku sudah meninggal dalam kondisi memiliki hutang puasa. Bolehkah saya berpuasa untuknya?” beliau menjawab, “Bagaimana jika ibumu memiliki hutang, apakah engkau akan membayarkannya? Bayarkanlah hutang tersebut. sebab Allah lebih berhak untuk dibayar.” (HR. Muslim). Dalam musnad Ahmad juga disebutkan bahwa seorang wanita bertanya kepada Rasululllah SAW. “Wahai Rasulullah SAW, ibuku meninggal dunia dalam kondisi memiliki hutang puasa Ramadan. Bolehkah aku berpuasa untuknya?” Rasulullah menjawab, “berpuasalah untuk ibumu,”

Jelas bahwa Islam mensyariatkan untuk membayarkan hutang puasa orang yang meninggal dunia, terlebih kepada orang tua sendiri. Hal ini berlaku bagi mereka yang meninggal dalam kondisi mempunyai hutang puasa, sedangkan ia mempunyai kesempatan untuk membayarnya, namun sebelum membayar sudah meninggal.

Namun bagi yang mempunyai hutang puasa karena sakit, hamil, atau menyusui kemudian ia meninggal masih dalam kondisi itu dan tidak berkesempatan mengqadla’ puasa, maka ia tidak mempunyai kewajiban untuk menggantinya. Ahli warisnya juga tidak berkewajiban. Akan tetapi jika ia sudah sembuh dan mempunyai kesempatan untuk mengqadhanya tapi tidak diqadha sampai ia meninggal, saat itulah keluarga wajib membayarkan hutangnya. Demikian jawaban saya. semoga bermanfaat dan barokah. Amin. (*/zal)