Gairah Menulis Guru: Antara PKB dan PP 19 tahun 2017 Tentang Guru

238
Oleh: Sukinah, S.Pd
Oleh: Sukinah, S.Pd

RADARSEMARANG.COM – BANYAK guru kesulitan menulis. Utamanya, menulis karya ilmiah. Baik berupa buku, artikel populer, maupun laporan hasil penelitian tindakan kelas. Kompetensi untuk menulis secara teori sudah dimiliki. Namun terhalang waktu. Utamanya, bagi guru di sekolah yang rombongan belajarnya banyak. Sementara jumlah gurunya terbatas. Seorang guru bisa mendapat tugas mengajar 40 jam setiap minggunya. Hal itu banyak terjadi. Utamanya, pada sekolah jenjang SMA atau SMK

Padahal, menulis menjadi hal penting bagi guru. Guru, mau tidak mau, harus mempunyai publikasi ilmiah. Karena publikasi ilmiah merupakan salah satu macam kegiatan pengembangan keprofesian berkelanjutan (PKB). Yakni, bagi guru yang mengusulkan angka kredit untuk kenaikan pangkat. Jumlah angka kredit pada kegiatan PKB untuk memenuhi persyaratan kenaikan pangkat dari publikasi ilmiah dan karya inovatif pada setiap pangkat/jabatan guru, berbeda-beda.

Contohnya, dari jabatan Guru Pertama III/B ke jabatan Guru Muda III/c, jumlah angka kredit minimum dari subunsur publikasi ilmiah dan atau karya inovatif adalah 4. Ini merupakan konsekuensi dari jabatan guru sebagai profesi, di mana sistem pembinaan dan pengembangan terhadap profesi guru secara terprogram dan berkelanjutan menjadi sangat diperlukan.

Angka empat menjadi angka yang tinggi untuk dijangkau. Khususnya, bagi guru yang mempunyai tugas mengajar di atas 30 jam per minggu. Karena guru dihadapkan pada beban kerja. Beban kerja guru PNS minimal 24 jam tatap muka. Paling banyak, 40 jam tatap muka per minggu. Hal itu sebagaimana diatur dalam Peraturan pemerintah Nomor 19 Tahun 2017 tentang PP 74 Tahun 2008 tentang Guru. Ditambah keluarnya kebijakan baru, Permendikbud Nomor 23 Tahun 20017. Dalam Permendikbud tersebut, guru wajib berada di sekolah selama 40 jam dalam seminggu.

Beberapa hal di atas menjadi sebagian dari penyebab guru kesulitan menulis. Pada kesempatam ini, penulis akan membahas bagaimana agar guru tetap bisa menulis diantara masalah-masalah tersebut. Menurut penulis, seberapa pun beban tugas yang harus diemban, guru harus tetap bergairah menulis. Dan, optimistis bisa naik pangkat atau jabatan.

Cara pertama adalah tetapkan niat baik untuk menulis. Niat menjadi hal terpenting dalam menulis. Niat akan menjadi penyelamat dari hal-hal yang tidak diinginkan. Hal ini pernah disampakan oleh Surahmat, dosen jurusan Sastra dan Bahasa Unnes pada saat menyampaikan materi kepada peserta workshop Penulisan Artikel Populer di Media Masa Untuk guru di SMK KESDAM IV Magelang, beberapa waktu lalu.

Kedua, harus ada komitmen. Meluangkan waktu biasanya menjadi masalah . Utamanya, bagi guru yang mendapat tugas mengajar maksimal. Yaitu, 40 jam per minggu. Maka komitmen menjadi penting. Meluangkan waktu menjadi hal yang harus dipaksakan. Bagi guru pada jenjang SMA dan SMK di satuan pendidikan yang sudah menerapkan lima hari belajar, hari Sabtu menjadi waktu terbaik untuk menulis.

Selain itu, yang ketiga, catat materi, referensi, dan isu penting yang aktual media yang anda baca. Karena suatu saat Anda akan membutuhkan informasi tersebut sebagai bahan menulis. Jika kita membaca buku, kemudian menemukan data statistika, maka simpanlah. Karena dari data, kita mengembangkan tulisan. Keempat, giatkan aktivitas membaca. Karena membaca memburuhkan waktu, maka benar-benar harus dipaksakan. Membacalah sesuai dengan disiplin ilmu kita. Membaca akan mejadikan kita memperoleh pengetahuan. Dan pengetahuan menjadi salah satu diantara dua syarat dalam menulis dari segi kognitif.

Hal-hal tersebut, mudah-mudahan menjadi motivasi bagi pembaca, utamanya rekan-rekan seprofesi, agar bergairah menulis. Ke depan, akan banyak guru yang terampil menulis sesuai kompetensi yang dimiliki. Dan, menulis tidak lagi menjadi kendala dalam naik pangkat maupun jabatan bagi guru. (*/isk)

Guru SMKN 1 Salam, Kabupaten Magelang