DISKUSI PILKADA : Analis Kebijakan Madya Div Humas Mabes Polri, Kombes Pol Sulistyo Pujo Hartono dalam Diskusi Pilkada Bebas Sara di Unimus, Kamis (24/5). (M NUR WAHIDI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
DISKUSI PILKADA : Analis Kebijakan Madya Div Humas Mabes Polri, Kombes Pol Sulistyo Pujo Hartono dalam Diskusi Pilkada Bebas Sara di Unimus, Kamis (24/5). (M NUR WAHIDI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG-Berita hoax mengenai sosial-politik sangat mendominasi persebarannya. Bahkan, jumlahnya mencapai 91,8 persen, isu SARA 88 persen, isu kesehatan 41,2 persen, isu makanan dan minuman 32,6 persen, dan soal penipuan 30 persen.

“Masyarakat kita masih percaya dengan berita hoax yang dirasa ampuh untuk menjatuhkan lawan politik atau lainnya,” kata Analis Kebijakan Madya Div Humas Mabes Polri Kombes Pol Sulistyo Pujo Hartono dalam diskusi Pilkada Bebas SARA di Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus), Kamis (24/5).

Menurutnya, berita hoax yang dominan adalah dengan menyebarkan gambar sebanyak 37,5 persen, tulisan 62,1 persen, dan video 0,4 persen. Sementara penyebaran media, radio 1,2 persen, email 3,1 persen, media cetak 5 persen, televisi 8,7 persen, website 34,9 persen, aplikasi chat 62,8 persen, dan media sosial 92,4 persen.

“Melalui diskusi ini, kami minta para pelaku citizen jurnalisme untuk menciptakan jurnalisme yang sehat. Bahayanya, jika hoax terus disebar, keadaan yang tadinya kondusif menjadi terganggu,” menurutnya.

Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jateng, Tafsir menilai kondisi Provinsi Jateng pada Pilkada 2018 ini cenderung kondusif. Namun ada dua dugaan atas situasi kondusif tersebut, yakni dinamis atau permisif. “Kami tidak ingin terbangun suasana tenang yang negatif. Jangan golput, pilih calon dengan cara yang rasional,” harapnya.

Oleh karena itu, sudah menjadi tugas ulama untuk mendorong umat berpastisipasi dalam Pilkada. Muhammadiyah sendiri, sudah menghadirkan kedua pasangan calon gubernur dan wakil gubernur agar bisa dikenal oleh umat.

Pengamat politik dan pemerintahan Universitas Diponegoro (Undip) Semarang Yuwanto menilai realitas Pilkada sering menunjukkan kepribadian ganda. “Di satu sisi menunjukkan wajah mempesona penuh harapan, di bagian lain terdapat sisi gelap. Model calon bersponsor semacam ini akan menghasilkan pemimpin yang kleptokrasi, pemimpin yang dikuasai para cukong,” katanya. (hid/sct/ida)