Rob Tinggi Masih Mengancam

Tanggul Kali Sringin yang Jebol Diperbaiki

292
TERJANG ROB: Puluhan pekerja pabrik menumpang truk saat menerobos genangan rob di Kawasan Industri Terboyo Park, kemarin. (kanan atas) Tanggul parapet Sungai Sringin mulai diperbaiki. (kanan bawah) Anak-anak bermain di genangan rob. (ABDUL MUGHIS/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TERJANG ROB: Puluhan pekerja pabrik menumpang truk saat menerobos genangan rob di Kawasan Industri Terboyo Park, kemarin. (kanan atas) Tanggul parapet Sungai Sringin mulai diperbaiki. (kanan bawah) Anak-anak bermain di genangan rob. (ABDUL MUGHIS/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Rob parah masih melanda wilayah Genuk, Semarang, Kamis (24/5). Sejumlah jalan masih terendam rob setinggi 30-40 cm. Rob menggenangi jalan dan permukiman warga setelah tanggul parapet Sungai Sringin di Kelurahan Trimulyo, Kecamatan Genuk, jebol akibat tak mampu menahan intensitas rob yang tinggi. Praktis, dalam seharian kemarin, aktivitas warga dan ribuan pekerja Kawasan Industri Terboyo Park terganggu.

Sejak tanggul parapet jebol pada Rabu (23/5) pukul 15.00 lalu, genangan air di sepanjang jalan menuju Kawasan Industri Terboyo Park cukup tinggi. Hari pertama, ketinggian air mencapai 1 meter. Sedangkan hari kedua kemarin kurang lebih 30-40 cm. Ratusan kendaraan roda dua milik para karyawan yang bekerja di Kawasan Industri Terboyo Park mogok akibat nekat menerobos rob. Selain itu, juga puluhan mobil mogok.

“Sangat mengganggu aktivitas, motor mogok oleh ratusan orang. Mau nggak mau karyawan harus bekerja, mereka nekat menerobos rob. Hari ini (kemarin) masih lumayan surut. Kemarin, motor nyaris tenggelam,” kata salah seorang karyawan pabrik ditemui Jawa Pos Radar Semarang di lokasi, kemarin.

Jalan yang tergenang tersebut merupakan akses utama menuju Kawasan Industri Terboyo Park yang setiap harinya dilintasi ribuan buruh. Banyak pabrik yang beroperasi di kawasan tersebut, seperti percetakan, istana mi, mebel, spring bed, dan lain-lain. “Selain menggenangi jalan menuju kawasan industri, air juga masuk di permukiman, yakni di Kelurahan Trimulyo RT 5 dan 6 RW 4,” beber salah satu warga, Bu Sri.

Sejumlah karyawan pabrik yang hendak pulang kerja terlihat diangkut menggunakan truk dan mobil bak terbuka. Namun ratusan karyawan lain nekat menerobos genangan air. Sebagian lainnya memilih jalan kaki dan menitipkan sepeda motor kurang lebih 1 km untuk menghindari mogok.

Sementara itu, sejumlah petugas dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana bersama petugas gabungan tampak menerjunkan alat berat untuk menangani jebolnya parapet Sungai Sringin. Parapet yang jebol kurang lebih sepanjang 50 meter dibendung sementara, dan ditutup menggunakan tanah dan pengaman dari batu.

Kepala BBWS Pemali Juana, Ruhban Ruzziatno, mengatakan, pihaknya langsung melakukan penanganan. “Ini baru diatasi. Itu bukan tanggul jebol. Tapi parapet Sungai Sringin di Trimulyo rontok akibat rob tinggi,” katanya.

Dijelaskannya, baik di Sungai Sringin Lama maupun Sringin Baru, ditutup menggunakan tanggul. “Bisa dilihat, sungai di bagian hulu tanggul (atas tanggul) dalam kondisi kering. Air rob bisa ditahan oleh tanggul buka tutup sementara tersebut. Nah, yang rontok adalah parapet di tepi Sungai Sringin yang menahan banyak air rob dari laut. Parapet ini sedang kami benahi,” ujarnya.

Menurutnya, rob kali ini cukup besar. Bahkan lebih besar dari rob ketika terjadi Badai Cempaka beberapa waktu lalu. “Ketika Badai Cempaka robnya hanya 1,5 meter. Tetapi rob kemarin mencapai 1,7 cm. Saya nggak tahu ini fenomena alam apa,” katanya.

Karena ada sebagian parapet di tepi sungai ada yang rontok, maka air rob melimpas ke jalan. “Jadi, bocornya berada di hilir (utara bendungan) arah dari laut. Kalau sungai di atas bendungan (ke arah kota) dalam kondisi kering. Airnya nanti kering sendiri, enggak sampai ke Jalan Pantura kok,” jelasnya.

Kepala Seksi Observasi dan Informasi Stasiun Meteorologi Maritim, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kota Semarang, Retno Widyaningsih, mengatakan ,Minggu ini merupakan fase rob atau air pasang laut tertinggi yakni antara tanggal 19-26 Mei.

“Kali ini memang durasi rob-nya agak lama, yakni sekitar 4-5 jam. Ditambah lagi kemarin ada limpasan air hujan dari Semarang bagian atas. Sampai di hilir atau sekitar pelabuhan terjadi penumpukan air. Sedangkan di laut juga terjadi gelombang tinggi, yakni antara 1-2 meter. Akumulasi dari air pasang laut disertai hujan, ditambah gelombang laut membuat terjadinya rob tinggi,” katanya.

Sehingga ketika masuk di sungai dan ada parapet yang tidak kuat menahan air karena intensitasnya tinggi. “Kenaikan air rob kali ini mencapai 80 cm dari kondisi normal. Saat ini masih dalam kondisi pasang, tapi tidak separah kemarin. Artinya cenderung turun. Gelombang air laut juga sudah turun, yakni sekitar 1 meter. Nanti di pertengahan bulan Juni bisa naik lagi. Hanya saja, ketinggiannya akan bervariasi. Kalau dibarengi hujan dan gelombang tinggi bisa mengakibatkan rob tinggi di luar perkiraan,” terangnya.

Menurut dia, ketinggian rob kali ini hampir sama dengan rob ketika terjadi Badai Cempaka beberapa waktu lalu. Hanya saja, pada saat Badai Cempaka terjadi pada pagi hari dan cepat surut. “Tetapi kalau ini terjadi siang hari dengan durasi agak lama, yakni antara pukul 11,00 hingga 16.00. Jadi, efeknya lebih terasa,” kata dia.

Mengenai durasi pasang surut tersebut terjadi secara astronomis. “Setiap awal bulan dan ketika terjadi bulan purnama, maka terjadi pasang. Kapan terjadi pagi atau siang, itu sudah ritmis seperti kalender. Kami imbau kepada masyarakat untuk waspada,” katanya.

Sementara itu, ratusan warga Kampung Ngilir, Trimulyo, Genuk Kecamatan Genuk akibat dari jebolnya tanggul perapet berharap adanya peninggian tanggul. Sebab, ketinggian air Kali Sringin hampir sama dengan dataran di pemukiman serta jalan raya Kawasan Industri Terboyo.

Terlihat, rob masih menggenangi jalan raya Kawasan Industri Terboyo. Ketinggian air bervariasi, namun paling dalam berada di sekitaran lokasi tanggul yang jebol tersebut, yang mencapai kurang lebih hampir 50 sentimeter.

Praktis, pengguna jalan, utamanya kendaraan roda dua banyak yang mogok lantaran nekat menerobos genangan rob. Di lokasi tersebut terdapat truk bermuatan, kondisinya miring akibat roda sebelah terperosok di lahan gambut.

“Masih banyak motor yang mogok, lebih-lebih kalau berlawanan dengan kendaraan besar, airnya menghempas kena sepeda motor, kebanyakan ya langsung mogok,” ungkapnya.

Pria warga Pedurungan ini mengaku memilih jalan kaki menuju tempat kerjanya karena kondisi jalan masih tergenang. Meskipun kondisinya merepotkan, menurutnya genangan air tersebut sudah sering terjadi.

Gimana lagi, mendingan motornya dititipkan di depan sana. Banyak yang jalan kaki. Laki-laki, perempuan juga jalan kaki, kalau gak ya nunut truk atau mobil bak yang lewat,” bebernya.

Pantauan koran ini, sebuah alat berat backgoe sudah lokasi tanggul yang jebol di RW 4 RT 6 Kelurahan Trimulyo terlihat telah beraktivitas menutup tanggul yang jebol sementara menggunakan tanah dan bebatuan. Setidaknya, bendungan yang jebol tersebut kurang lebih sepanjang 50 meter. “Itu yang jebol, kemarin airnya deres banget kaya tsunami. Yang di jalan ya tinggi airnya, kalau yang disini sekitar 15 sentimeter,” kata Sutardi.

Pihaknya menjelaskan tidak ingat secara persis tanggul tersebut dibangun. Namun setidaknya sudah tiga kali. Deretan tanggul yang jebol juga sudah tiga kali kita tinggikan.

“Ditinggikan terus, sudah tiga kali, masing-masing sekitar 1 meteran. Kan airnya yang di dalam Kali Seringin itu juga terus naik, hampir sama dengan dataran. Apalagi yang di sebelah barat itu pemukiman, kalau luber ya pasti masuk ke pemukiman,” katanya.

Warga RW4 RT 5, Iid , mengakui, pada saat tanggul jebol, air rob masuk ke rumahnya. Ketinggian air kurang lebih mencapai 1 meteran. “Airnya tinggi ya rumah-rumah di sini tergenang semua,” ujarnya.

Pria ini juga membeberkan, selama Mei ini, setidaknya sudah dua kali permukiman tergenang rob. Sebelum kejadian ini, tergenang akibat rob lantaran air Kali Seringin tinggi dan meluber. “Sudah dua kali dalam bulan ini tergenang. Itu dulu yang di Sungai Seringin Lama juga jebol, akhirnya juga banjir, tapi itu sudah lama,” bebernya.

Iid menambahkan, air yang masuk ke dalam rumahnya cepat surut. Namun genangan air rob juga akan datang lagi karena sudah fenomena alam. Terlebih, datangnya rob menjelang sore dan genangan air di jalan raya kawasan industri tersebut dipastikan akan tinggi.

“Sore nanti pasti air rob tinggi lagi, nanti malam akan mulai surut. Ini aja airnya sudah terlihat mulai tinggi lagi. Ya kalau begini, ya repot, semua, aktivitas terganggu, cemas. Tahu-tahu air luber banjir masuk ke dalam rumah,” ujarnya.

Para pengguna jalan berharap, pemerintah melalui instansi terkait untuk segera mengambil langkah-langkah mengantisipasi kejadian serupa. Sehingga masyarakat menjadi tenang dan nyaman tidak khawatir terjadinya banjir yang datang sewaktu-waktu. (amu/mha/aro)