PR Saat Liburan, Perlukah?

304
Oleh: Ari Nur Cahyani, S.Pd.Si
Oleh: Ari Nur Cahyani, S.Pd.Si

RADARSEMARANG.COM – MENJELANG akhir tahun pelajaran, para peserta didik tengah sibuk menyelesaikan penilaian akhir tahun. Setelah itu, peserta didik sudah tak sabar menanti hari libur tiba.

Hari libur atau liburan identik dengan suasana santai, bebas dari rutinitas, pergi bertamasya, dan hal-hal menarik lainnya. Kendati demikian, beberapa sekolah memberikan program ‘PR (Pekerjaan Rumah) Liburan’ kepada anak didik mereka. Pertanyaannya, perlukan PR selama liburan?

Pemberian pekerjaan rumah pada saat liburan, bisa saja menjadi dilema. Sisi positifnya, dapat menjadi alternatif kegiatan siswa. Hanya saja, jika kuantitas PR berlebihan, maka justru dapat merampas hak anak untuk menikmati masa liburnya.

Karena itu, kreativitas guru dalam mengemas PR liburan, sangat diperlukan. Tujuannya, agar dapat menyusun PR liburan dengan jenis dan kuantitas yang tepat. Penyusunan PR liburan, perlu memperhatikan kebutuhan perkembangan peserta didik dengan tetap berpedoman pada kurikulum yang berlaku. Implementasi Kurikulum 2013, sangat memberi ruang untuk mengemas pembelajaran, termasuk PR, menjadi kegiatan yang kontekstual, bermanfaat, dan menyenangkan.

Guru tingkat sekolah dasar dapat mengemas PR liburan dengan tetap menerapkan pembelajaran tematik. Misalnya, semua tugas PR bertema ‘Liburan’, sehingga tugas yang diberikan sangat terkait dengan aktivitas anak selama liburan. Dengan demikian, anak dapat bermain, berlibur, tetapi juga sambil belajar.

Peserta didik sekolah menengah merupakan anak usia remaja yang cenderung suka dengan hal-hal kreatif, inovatif, menantang, sekaligus menyenangkan. Anak usia remaja, sangat senang berkumpul bersama teman-teman sebayanya. Sehingga tugas proyek kelompok dapat menjadi salah satu alternatif PR selama masa liburan. Tugas proyek tersebut, hendaknya memberi ruang untuk mengasah keterampilan dan kreativitas anak, melatih anak untuk bekerja sama, serta mendorong anak untuk menghasilkan suatu produk atau karya.

Seiring perkembangan teknologi dan informasi, guru dapat memantau tugas proyek yang dilakukan oleh anak didik. Serta memberikan bimbingan, meski tidak bertatap muka. Tugas-tugas proyek ini juga memungkinkan anak untuk berinteraksi dengan masyarakat, sehingga mengasah kecerdasan sosial mereka.

PR saat liburan dapat memberikan beberapa manfaat. Baik bagi peserta didik, guru, maupun orang tua. Bagi peserta didik, mengerjakan PR dapat melatih sikap tanggung jawab, memperkaya pengetahuan mereka melalui pengalaman-pengalaman nyata, juga mengasah potensi serta mengembangkan kecerdasan majemuk yang dimiliki. Selain itu, keterlibatan orang tua dalam tugas-tugas yang diberikan, dapat meningkatkan kedekatan antara orang tua dengan anak dan sebaliknya.

Nah, bagi guru, PR liburan memberikan ruang untuk menyampaikan pendahuluan tentang materi yang akan dipelajari setelah liburan, membantu guru untuk semakin mengenali karakteristik, potensi, minat dan kelebihan anak. Bagi orang tua, PR liburan membantu mereka untuk memberikan alternatif kegiatan positif bagi anak selama liburan.

Berbagai manfaat tersebut dapat diperoleh jika PR liburan dikemas dengan tepat, sesuai kebutuhan anak. Bagian terpenting dari pemberian PR adalah apresiasi yang diberikan oleh guru atas usaha peserta didik.

Pendidikan membutuhkan proses. Setiap proses yang dijalani oleh peserta didik, merupakan latihan dan pengalaman yang nantinya akan turut membentuk karakter dan pribadi mereka di masa mendatang.

Tugas PR yang dikemas dengan tepat, dapat menjadi bagian dalam proses pendidikan tersebut. Harapannya, bisa berdampak pada pembentukan karakter dan pribadi positif peserta didik di masa yang akan datang. Semoga. (*/isk)

SMK Negeri Bansari, Kab. Temanggung