Penerapan 5S di rumah, mungkinkah?

492
Oleh : Bayu Prestianto, SE, MM *)
Oleh : Bayu Prestianto, SE, MM *)

RADARSEMARANG.COM – PERNAHKAH mengalami kehilangan atau kesulitan menemukan barang yang selalu anda pakai di rumah? Seperti sisir, pisau, kunci sepeda motor/mobil atau barang-barang lain yang selalu anda butuhkan dan anda pakai setiap hari. Seberapa seringkah mengalami hal ini? Jika jawaban anda “sering”, berarti ada sesuatu yang tidak beres di rumah anda. Jangan berpikiran negatif dulu, bukan karena ada “setan” yang mengambil barang-barang tersebut. Hilangnya barang atau kesulitan menemukan barang yang anda alami lebih disebabkan karena cara menyimpan barang yang tidak tepat, tidak disiplin meletakkan barang dan asal meletakkan barang begitu saja. Atau anda menjumpai di beberapa sudut ruang di rumah, di dapur, kamar tidur, di atas lemari,  terlihat berantakan dengan berbagai macam barang dan terlihat tidak rapi. Mungkin anda merasa masih membutuhkannya atau bahkan sudah tidak membutuhkannya dan harus dibuang. Lalu, bagaimana caranya untuk memperbaiki keadaan ini? Artikel ini berusaha memberikan solusi akan permasalahan tersebut.

Tentang 5S

Sebelum diuraikan lebih lanjut bagaimana 5S diterapkan di dalam rumah anda, terlebih dahulu akan diuraikan mengenai konsep 5S ini. Bagi anda yang pernah bekerja pada industri manufaktur sering mendengan istilah 5S. Sebuah perusahaan yang menerapkan 5S dengan baik akan terlihat rapi dan bersih. Tidak hanya itu, manfaat dari 5S di sebuah perusahaan adalah: kemudahan mendapatkan barang yang dibutuhkan, meningkatnya mental dan moral karyawan, produktivitas karyawan meningkat, waste mudah dikenali dan dikurangi, sistem dan standar prosedur operasi/kerja mudah dipahami dan terlihat jelas, terjadi efisiensi yang pada akhirnya meningkatkan kinerja dan image perusahaan.

Program 5S pertama kali dikembangkan dan diterapkan di Jepang sebagai suatu gerakan dalam kegiatan pemilahan (seiri), penataan (seiton), pembersihan (seiso), penjagaan kondisi yang mantap/pemantapan(seiketsu), dan penyadaran diri akan kebiasaan yang diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan dengan baik (shitsuke).

Untuk dapat mendorong efektivitas pelaksanaan 5S, pada umumnya penerapan kaizen diberlakukan bersamaan dengan penerapan 5S. Di Indonesia 5S dikenal dengan istilah 5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin), atau 5K (Ketertiban, Kerapian, Kebersihan, Kelestarian, Kedisiplinan), sedangkan Amerika dan Eropa dikenal dengan 5S (Sort, Set in Order, Shine, Standardize, Sustain).

5S di Rumah

Apakah mungkin mengadopsi 5S dan menerapkan di rumah kita? Jawabannya mungkin. Sebab program ini sangat mudah, yang susah adalah komitmen individu untuk melaksanakannya.

Untuk mengurangi masalah kerapian di rumah, langkah pertama yang perlu anda lakukan adalah lakukan pemilahan. Memilah barang-barang yang anda perlukan dan yang sudah tidak diperlukan. Untuk barang yang masih diperlukan lakukan pengelompokan dalam kategori sering digunakan dan jarang digunakan. Sedangkan barang yang tidak diperlukan dapat dikelompokkan dalam kategori bernilai dan tidak bernilai.

Kemudian bagaimana memperlakukannya? Untuk barang yang tidak diperlukan dalam kategori bernilai, anda bisa hibahkan kepada orang lain yang membutuhkan atau menjualnya di pasar barang bekas atau dijual di aplikasi jual beli barang bekas (OLX misalkan). Sedangkan barang yang tidak diperlukan dan kategori tidak bernilai, anda dapat membuangnya.

Sementara untuk barang masih diperlukan dalam kategori jarang dipakai, letakkan dan simpan barang tersebut di tempat penyimpanan khusus, misal di dalam kotak kontainer atau dalam gudang di rumah. Sedangkan barang yang masih diperlukan dalam kategori sering dipakai, letakkan dan simpan di tempat yang mudah, cepat dijangkau, aman dan tepat peruntukkannya. Misalkan pisau dan peralatan dapur lainnya diletakkan di dapur, sisir diletakkan di kamar tidur. Peletakkan dan penyimpanan barang-barang tersebut perlu adanya kesepakatan bersama. Yang lebih penting juga adalah adanya disiplin setiap anggota keluarga untuk meletakkan kembali ke tempat semula. Hal ini terlihat sederhana, tetapi prakteknya susah. Kuncinya adalah disiplin. Maka masalah sering hilangnya barang yang kita gunakan setiap hari, akan terselesaikan.

Untuk menciptakan kedisiplinan dan kesadaran bersama, perlu ada proses pembiasaan sehinggan menciptakan habit di rumah. Peran orang tua untuk mengajak dan selalu mengingatkan anak (atau anggota keluarga yang lain) untuk selalu meletakkan barang pada tempatnya.

Hasilnya…

Ini adalah sesuatu yang sederhana, tetapi hasilnya luar biasa. Tidak hanya rumah menjadi rapi dan bersih, mudahnya mendapatkan barang yang dibutuhkan akan mengurangi perasaaan “jengkel”, yang kemudian juga menciptakan motivasi dan keharmonisan antar anggota keluarga. Jika masing-masing keluarga mempunya habit seperti ini, dan kemudian setiap anggotanya membawa kebiasaan ini ke luar rumah, ke sekolah, ke tempat kerja, maka tidak hanya terlihat rapi dan bersih lingkungan kita,tetapi bahkan juga dapat menciptakan produktivitas masyarakat. (*)